
Renata terlihat lemas dan tidak bisa lagi berkata-kata. Ia merasakan sakit kepalanya kambuh lagi karena melihat video Kinanti. Sungguh, tidak pernah sedikitpun terbersit dipikiran Renata bahwa Kinanti mengalami kesulitan setiap harinya melawan penyakitnya.
"Kau lelah? Kita istirahat dulu." ucap Mahendra meraih lengan Renata. Tapi Renata menepis dengan lemah.
"Tidak. Aku ingin lihat video terakhir."
Liliana dan Nugraha saling bertatapan, mengerti dengan kondisi Renata saat ini sudah tidak stabil. Tapi Mahendra tetap mempersilakan untuk memutar video terakhir.
Nugraha memutar video terakhir dengan harapan ada sesuatu yang bisa didapat. Renata sudah siap melihat videonya seburuk apapun itu.
****
Kinanti menarik tangan Nina dan langsung memasuki kamar. Kurang terdengar jelas apa yang dibicarakan didalam kamar karena kamera ini lebih terlihat semacam CCTV. Tapi tidak lama kemudian Nina keluar dengan membawa sesuatu dalam paper bag. Kinanti keluar lagi dan mengecek apakah Nina sudah meninggalkannya atau belum. Kegelisahan menghampiri Kinanti lagi. Ia langsung mengambil obat di laci dekat sofa. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pria dengan kemeja berdasi. Kurang jelas bagaimana wajah pria itu karena posisinya membelakangi kamera.
"Kamu mengganggu Nina lagi?" tanya pria itu.
"Tidak. Untuk apa aku menggangu Nina?" jawab Kinanti.
"Kalau sampai Nina kenapa-kenapa, kamu bertanggung jawab."
Kinanti tersenyum dengan perasaan sakit hatinya.
"Kenapa aku harus bertanggung jawab pada Nina? Toh kamu yang membawa Nina sebagai penghancur rumah tangga kita." Kinanti menaikkan intonasi suaranya.
Pria itu menampar Kinanti hingga Kinanti terhuyung ke belakang.
"Aku sudah peringatkan kamu jangan macam-macam bicara denganku. Aku ingin bebas dari wanita gila sepertimu! Kamu pikir aku tahan tinggal satu rumah denganmu?"
Ya, pria itu adalah Candra. Suami Kinanti yang sudah meninggalkannya sejak dua tahun yang lalu.
Kemudian Candra menendangi Kinanti hingga Kinanti mengaduh kesakitan tetapi Candra tidak menggubris sedikitpun teriakan Kinanti. Ia juga menarik rambut Kinanti dan kembali menamparnya.
"Kamu pikir kamu sehebat dan sebaik Nina?" Candra masih saja bersemangat memukuli Kinanti walaupun Kinanti sudah lemah dan memohon ampun pada Candra.
"Tolong ampuni aku, aku tidak menyakiti Nina. Sungguh, aku tidak mengganggunya."
Candra melepas Kinanti dan membiarkan Kinanti terduduk lemas di lantai.
****
Renata mengepalkan tangannya, ia menggertakkan rahangnya. Ia merasa jantungnya berdebar kencang dan matanya menyala bagai bara api.
"Renata..."
Renata berdiri mulai meninggalkan kantor Mahendra. Ia berjalan terhuyung dan merasa kakinya sangat gemetar. Apa yang ia saksikan barusan di video bukanlah adegan sinetron ataupun drama. Melainkan kedua orangtuanya yang berkelahi hingga menyakiti satu sama lain. Benar. Renata merasakan shock didalam hatinya. Ia tidak benar-benar menyangka bahwa Kinanti mengalami hidup yang berat.
Kini Renata tidak bisa berpikir jernih. Haruskan ia menemui Ayahnya? Atau haruskah ia menuntut Ayahnya? Ataukah ia mengadukannya terlebih dahulu pada Herlina?
Renata berpikir keras selagi menyusuri koridor ruang jaksa. Mahendra yang tidak bisa meninggalkan Renata begitu saja, mengikuti langkah Renata. Tapi Renata tidak setegar bayangan Mahendra. Renata tetaplah wanita yang baru beranjak dewasa yang bisa merasakan kepedihan, kebencian hingga kekacauan dalam hati dan pikirannya ketika melihat video seperti tadi.
Renata sudah tidak bisa menopang dirinya lagi untuk berjalan. Ia lemah dan terjatuh ke lantai.
Brukk!! Mahendra menghampirinya secepat kilat dan berusaha membangunkan Renata.
"Renata! Renata! Bangun Renata! Renata!"
Nugraha dan Liliana segera menghampiri Mahendra dan Renata.
"Telpon ambulans, cepat!"
****
Hape Nina berdering, ada nomor yang tidak dikenal menelponnya. Ia berusaha tidak mengangkatnya karena bisa saja itu dari Candra yang memakai nomor telpon orang lain. Tidak lama, hape itu berhenti bergetar dan bergantian dengan pesan singkat yang masuk.
Nina yang sedang merapikan koleksi tas nya, merasa sedikit terganggu dan segera mengecek hapenya.
"Ibu Nina, boleh datang ke Rumah Sakit Santo Carlo, karena Renata saat ini sedang tidak sadarkan diri."
Setelah membaca pesan singkat, Nina bergegas merapikan tas-tasnya dan langsung pergi ke rumah sakit.
****
Renata diberikan cairan infusan dan masih belum sadarkan diri. Dokter bilang bahwa keadaan Renata saat ini masih dalam keadaan shock sehingga harus istirahat dulu untuk sementara.
Mahendra menunggui Renata sedangkan Nugraha dan Liliana sudah pamit untuk pulang. Mahendra menatap wajah Renata yang lemah tidak berdaya. Ingin sekali rasanya ia melindungi Renata. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
Nina tiba di UGD rumah sakit dan mencari dimana Renata dirawat. Setelah menemukannya, Mahendra memberi salam pada Nina.
"Apa yang terjadi? Kenapa Renata?"
Mahendra tidak bisa menjawab selagi berada di UGD. Ia mengajak Nina keluar sebentar untuk berbicara.
"Ada apa, Pak Jaksa? Kenapa Renata bisa nggak sadar seperti ini?" tanya Nina khawatir dengan kondisi Renata. Setelah berada di luar UGD, barulah Mahendra berbicara.
"Maaf, Bu Nina. Renata mengalami shock." kata Mahendra.
"Shock? Shock kenapa? Apa yang terjadi?" Mahendra mengamati setiap gerak-gerik Nina dan juga nada bicaranya. Sejauh ini masih belum ada yang terlihat aneh oleh mata Mahendra.
"Renata kemarin memutuskan untuk pindah rumah dari rumahnya yang lama ke apartemen baru." ucap Mahendra.
"Apartemen?" Nina seolah tidak percaya dengan apa yang dibicarakan Mahendra.
"Iya. Apartemen itu dibelikan Ibu Herlina. Sekarang saya mau memberitahu, bahwa Renata shock karena tahu Ibunya mempunyai kepribadian ganda."
"Apa? Renata tahu soal penyakit Ibunya?"
"Ya, kami berencana mendatangi psikiater dimana Ibu Kinanti melakukan konselingnya dan Ibu Nina datanglah sebagai saksi." kata Mahendra.
"Saksi? Kenapa harus saya? Saya tidak bisa memberikan kesaksian yang berupa hal yang buruk."
kata Nina. Nina menutup mulutnya karena sudah mulai bicara yang tidak-tidak pada Jaksa.
Mahendra tersenyum dan merasa bahwa Nina telah membuka kartunya sendiri.
"Bu Nina. Sudah tidak ada lagi yang harus dirahasiakan. Kami sudah tahu semua begitu pula dengan Renata." kata Mahendra dengan nada yang terdengar santai.
"Maksud Anda, apa Pak Jaksa?" Nina mulai merasa kebingungan dengan ucapan Mahendra.
"Pada saat Renata membereskan barang-barang dan pindah ke apartemen, kami menemukan enam kamera kecil yang terletak di beberapa bingkai foto. Sudah jelas sekali penyakit Ibu Kinanti yang mengalami kepribadian ganda dan Anda juga merupakan orang yang sering mengunjungi Ibu Kinanti." jelas Mahendra.
Nina pun terdiam. Ia tidak dapat menyangkal apapun.
"Sebenarnya, Renata sangat shock ketika mengetahui diagnosis dari psikiatri bahwa Ibunya mengalami kepribadian ganda ditambah lagi video itupun menjadi tambahan shock dalam dirinya." lanjut Mahendra.
Nina masih membisu. Ia memilah kata mana yang seharusnya ia ucapkan, mana yang tidak. Nina merasa kasihan pada Renata yang harus mengalami semua ini. Tentu saja ia sangat shock mengetahui Kinanti mengalami penyakit seperti itu.