
Dokter Azri menyerahkan hasil autopsi pada Renata dan Mahendra. Renata meraih kertas itu dan berusaha keras untuk membaca istilah medis.
"Dari hasil autopsi terdapat bekas lilitan kabel di sekitar leher ibu Kinanti. Jika pada saat ia bunuh diri menggunakan kain, tidak akan ada bekas lilitan kabel di lehernya." Dokter Azri menunjukkan beberapa foto pada Renata dan Mahendra.
"Jika memang bunuh diri menggunakan kain, bekasnya akan terlihat lebih besar ukurannya dibanding bekas lilitan kabel ini. Ini foto contoh kasus bunuh diri dengan kain yang dililit." Dokter Azri memberikan lagi foto pada Renata dan Mahendra. Renata terasa lemas mendengar penjelasan dari Dokter Azri.
"Ada dua sayatan di pergelangan tangan sebelah kiri." Foto berikutnya adalah foto tangan Kinanti yang tersayat.
"Sayatan ini tidak mengesankan kalau dia bunuh diri."
"Kenapa Anda bisa bicara begitu, Dokter?" tanya Renata mulai penasaran.
"Kami mengecek suhu pada jasad Kinanti."
"Untuk apa kalian mengecek suhu pada orang yang sudah meninggal?" Renata semakin merasa kesal dengan pernyataan Dokter Azri.
"Itu bisa membuktikan berapa lama dia sudah tidak bernyawa." Renata tidak menjawab apapun lagi.
Mahendra menepuk pundak Renata agar Renata tidak terlihat emosi.
"Dan dari hasil sampel darah yang kami ambil, darah itu sudah sekitar 1 jam. Dan dari suhu badan yang kami cek, jasad Kinanti sudah meninggal sekitar satu setengah jam sampai dua jam sebelumnya."
Renata semakin terasa lemas hingga ia terjatuh.
Mahendra segera menahan Renata dengan tangannya.
"Kau tidak apa-apa? Mari kita pulang dulu." kata Mahendra pada Renata.
"Kami pamit pulang dulu Dokter. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami."
"Baiklah. Kalian berhagi-hatilah di jalan."
Mahendra menuntun Renata untuk segera pergi dari situ. Renata benar-benar sudah tidak sanggup lagi mendengat apapun tentang Kinanti hari ini.
Kinanti yang lemah lembut, perhatian, dan selalu mendukung apa yang Renata lakukan, kenapa begitu mempunyai banyak rahasia yang tidaj Renata ketahui? Semakin lama semakin terasa sakit dan pedih.
***
"Kau ingin tinggal dimana sekarang?" Mereka sudah dalam perjalanan untuk kembali ke rumah.
"Aku akan tinggal dirumah saja."
"Apa kau yakin tetap berada disana? Kamu tidak mau mencari tempat baru?" tanya Mahendra merasa khawatir jika Renata kembali ke rumah itu.
"Apakah tugas jaksa juga untuk menanyakan hal pribadi pada kliennya?" Renata mulai merasa risih dengan perhatian Mahendra.
"Tidak. Maaf."
"Pulangkan saja aku ke rumah. Mungkin ada beberapa yang harus aku benahi. Lagipula tim forensik dan polisi sudah foto TKP kan? Tidak masalah kan kalau aku kembali ke rumah?"
"Iya. Baiklah." tanpa banyak bertanya lagi, sekarang Mahendra hanya fokus menyetir saja.
****
Setelah sampai di depan rumah Renata, Renata segera melepas seatbelt.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu." kata Mahendra masih belum bisa menyingkirkan rasa khawatirnya .
Renata tidak menjawab perkataan Mahendra.
"Terima kasih."
Renata langsung keluar dari mobil Mahendra dan membuka pagar rumahnya. Setelah Mahendra pergi, Evano menghampiri Renata yang sudah memperhatikannya sejak mobil Mahendra tiba.
"Rena."
Renata yang sedang membuka pagar sedikit terkejut.
"Vano. Ada apa?"
"Kamu ingin kembali kesini?" tanya Evano.
"Aku bingung Vano. Tapi aku rasa aku harus mencari tempat baru. Tapi barang-barang disini aku juga harus membawanya. Atau aku tetap disini saja ya..."
"Kau bisa tinggal di tempatku.."
"Tidak, Vano. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Biar aku masuk dulu dan merapikan semuanya ya."
Evano tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mempersilakan Renata masuk ke rumahnya.
Renata sangat pedih melihat semua ini. Ia membersihkan semua noda yang ada di lantai maupun meja. Pikirannya lelah tentang kenyataan siapa Kinanti sebenarnya. Iapun juga berpikir akan meninggalkan rumah ini. Tapi Renata berpikir jika ia meninggalkan rumah ini, akan ada sesuatu yang ia lewati tentang Kinanti.
***
Hari kedua penyelidikan...
Renata mencoba menjalani hari seperti biasa. Mencoba berpikir bahwa apa yang menimpa Kinanti hanyalah sebuah kecelakaan. Saat Renata ingin berangkat kuliah dengan motornya ada salah satu tetangga yang menghampiri Renata.
"Dik Rena. Kau tidak apa-apa?" tanya wanita itu.
"Saya tidak apa-apa, Bu." jawab Renata tersenyum.
"Apa kamu baik-baik saja sekarang, Dik? Sabar ya Dik, semua ini ujian, semoga Ibumu tenang disana ya, Dik. Karena orang-orang jahat itu pasti akan mendapatkan balasannya."
"Orang-orang jahat itu? Maksud Ibu apa, Bu?"
"Iya Dik. Saya melihat wanita datang kemari. Tapi karena saya tidak tahu kondisi apa yang terjadi disini, saya hanya melihat dia membawa kotak dari rumah ini. Saya tidak tahu kotak apa itu." jelas salah satu tetangga itu pada Renata.
"Ibu, apa Ibu tahu siapa wanita itu?" tanya Renata.
"Saya tidak tahu, Dik. Tapi wanita itu datang kesini baik mobil sedan warna silver."
Renata mengingat-ingat siapa kira-kira teman Kinanti yang menggunakan mobil warna silver.
"Baik, Bu. Terima kasih banyak infonya. Sekarang saya mau berangkat kuliah dulu ya, Bu." kata Renata tersenyum pada tetangganya.
"Iya, Dik hati hati dijalan ya, Dik..."
"Terima kasih, Bu.."
Renata semakin yakin ada sesuatu dibalik semua ini. Ia tidak akan langsung pergi meninggalkan rumah itu sampai ia menemukan siapa yang membunuh Kinanti.
****
Nina merasa bisa bernapas sedikit setelah Candra bertugas keluar kota. Setidaknya ia tidak perlu ke ruang pribadi itu untuk beberapa hari.
Nina merebahkan diri di kasur. Menikmati kebebasan dan bernapas lega. Setiap kali Candra pergi keluar kota, Nina menikmati kebebasannya. Mertuanya tidak terlalu peduli pada dirinya. Dan Nina tidak terlalu memikirkannya. Karena bagi Nina bisa menjadi bagian dari hidup Candra sudah sangatlah cukup. Bagaimana tidak? Uang yang ditransfer Candra setiap bulan cukup untuk membeli sebuah motor besar yang baru. Setiap kali belanja uang itu serasa tidak akan pernah habis. Nina benar-benar menikmati keberuntungan ini. Tetapi harus menghadapi mertua yang melelahkan menjadi bagian dari hidup Nina.
"Nina!!" panggil mertuanya, Herlina, dari lantai bawah. Nina segera bangun dari tempat tidurnya dan dia pergi menemui Herlina.
"Iya, Ibu."
"Kamu punya acara kemana hari ini?" Herlina membuka buku majalah tanpa menoleh sedikitpun pada Nina.
"Saya tidak punya rencana kemana-mana, Bu."
"Apakah Candra masih suka mengunjungi Kinanti?" tanya Herlina.
"Terkadang, Bu. Jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan pasti ia mendatangi Kinanti." Nina merasa agak aneh dengan pertanyaan Herlina.
"Bisakah kamu datangi dia dan bilang aku akan menemuinya?" tanya Herlina masih tetap tidak melepas pandangan dari buku majalahnya.
"Maaf, Bu. Tapi Kinanti sudah meninggal."
Herlina melepas pandangannya dari majalah. Herlina sedikit shock dengan apa yang Nina katakan.
"Apa katamu? Kapan? Aku kemarin masih telponan dengan Kinanti." Herlina sangat bingung. Mengapa Kinanti tiba-tiba meninggal.
"Saya tidak tahu, Bu. Hanya itu kabar yang saya dengar."
"Dimana Renata sekarang? Laura! Laura! Kemari Laura!" Herlina berteriak memanggil asistennya untuk segera datang.
Nina mengamati Herlina yang sangat panik. Nina bingung melihat mertuanya. Ia tegas dalam setiap keputusan apapun. Ia juga terlihat kokoh dari luar. Tapi kenapa kematian Kinanti merupakan sesuatu yang genting baginya hingga terlihat sangat panik.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku berita ini? Kau tahu berita ini sangat penting buatku?!" teriak Herlina. Nina tidak bisa menjawab apapun.
Herlina segera memencet tombol untuk menelpon Renata.
***
Hape Renata bergetar ketika mata kuliah sedang berlangsung. Renata hanya memperhatikan layar siapa yang menelponnya. Herlina. Seorang nenek yang selama ini tidak mengacuhkan Renata.
Renata tidak menjawabnya. Hingga telpon itu mati sendiri. Tetapi ada pesan singkat masuk dari Herlina.
Renata, kamu dimana?
Renata jadi bingung sendiri. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Herlina menghubunginya seperti ini?
****