Mother

Mother
Kehangatan Hati



Renata tidak bisa menjawab perkataan Herlina barusan. Rasanya seperti angin topan yang sangat kencang telah menghantam dirinya. Dulu yang ia kira neneknya jahat dan tidak peduli padanya, kini setelah mendengar pernyataannya semua seperti berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.


Herlina menggenggam tangan Renata yang gugup. Ia tahu semua ini terasa berat untuk Renata tanggung sendiri.


"Jika kamu mau, kamu bisa tinggal bersama Nenek dan Ayahmu."


Jder!!! Rasanya seperti tersambar petir. Ayah? Tidak. Renata tidak ingin tinggal bersama Ayahnya. Terima kasih.


"Maaf, Nek. Renata akan tinggal dirumah itu sampai Renata tahu pasti apa penyebab kematian Ibu." jawab Renata dengan nada yang halus.


Herlina seperti menimbang sesuatu untuk dikatakan pada Renata.


"Penyebab kematian Ibu?" ulang Herlina tidak mengerti.


"Dokter autopsi menyatakan ada hal lain pada tubuh Ibu dan itu sangat jauh dari kata "bunuh diri" , Nek." Entah bagaimana Renata harus menceritakan pada Neneknya. Dan entah darimana ia merasakan desir hangat dihatinya saat ini. Perhatian Herlina kah yang membuatnya sedikit percaya bahwa ia masih mempunyai anggota keluarga?


"Apa kau yakin?"


"Iya, Nek. Itu kata dokter forensik."


Herlina mengangguk paham dan membelai rambut Renata.


"Sekarang kau pulanglah. Tidak usah bekerja. Aku akan tetap mengirimimu uang."


"Jangan, Nek." sergah Renata.


"Kenapa, Renata?" Herlina bingung dengan penolakan Renata.


"Uang yang Nenek berikan kemarin masih cukup untuk Renata membeli rumah baru."


Herlina tersenyum dan menggenggam tangan Renata kembali.


"Sementara, tinggallah disini dulu. Bawalah barang-barang yang sekiranya milikmu dan milik ibumu. Lemari, brankas, surat-surat, foto, uang atau barang berharga lainnya. Bawalah semua ke sini. kosongkan rumah itu. Karena Nenek yakin kamu tidak akan nyaman tinggal disana." kata Herlina sangat lembut membuat Renata sangat ingin memeluknya.


Herlina menyerahkan sebuah kunci pada Renata dalam genggaman tangannya. Renata terkejut dengan apa yang baru saja Neneknya berikan.


"Nek, apa ini?" Renata heran dengan Neneknya, mengapa ia memberikan sebuah kunci pada Renata?


"Renata, berhentilah hidup menyedihkan. Tinggallah dengan selayaknya, Renata. Nikmatilah pergaulan dengan teman-temanmu." Herlina mulai menangis menatap mata Renata. Ia tidak tahan lagi melihat keturunannya hidup sengsara.


"Nek..."


"Sungguh Renata. Ayahmu tidak pernah memberikan hidup yang layak untuk kalian. Tapi semenjak Nina datang, Ayahmu selalu saja memberikan hartanya untuk Nina. Nenek merasa tidak adil dengan perlakuan Ayahmu. Ia hidup bersama Kinanti dan kamu dengan kemiskinan, sedangkan bersama wanita itu, dia hidup dengan sangat mewah." jelas Herlina sedih.


Herlina memegang bahu Renata. Sungguh ia sangatlah pilu melihat hidup Renata. Renata tidak kuasa menahan air matanya. Ia tidak pernah tahu bahwa Neneknya sangat baik dan peduli padanya.


"Dan juga kamu tidak perlu memikirkan tunggakan biaya kuliahmu, Sayang. Sudah Nenek tanggung semua. Fokuslah pada kuliahmu. Jangan pikirkan hal yang tidak perlu. Saat ini pergilah ke alamat ini dan berkemaslah semua barangmu dan Ibumu. Aku akan mengirim orang yang akan bekerja denganmu."


Renata memeluk Herlina dengan haru. Terjawab sudah siapa Herlina yang ia benci selama ini. Ternyata adalah seseorang yang hangat hatinya dan sangat peduli padanya.


"Terima kasih, Nek. Terima kasih. Aku akan menjadi cucu Nenek yang baik, Nek..."


Herlina membalas pelukan Renata dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Dulu bisa jadi Renata salah paham karena masih terlalu kecil. Tapi sekarang, Herlina adalah anggota keluarga yang bisa Renata percaya. Ia baru tahu setelah dua puluh tahun lebih bahwa Herlina sebenarnya sangat mencintai cucunya.


***


Hari penyelidikan ketiga...


Renata menghubungi Mahendra, entah mengapa semenjak bertemu dengan Herlina, orang pertama yang ingin ia hubungi adalah Mahendra. Walau baru bertemu beberapa kali, mengapa Renata seperti merasa ada sesuatu antara dirinya dan Mahendra. Tapi Renata selalu menepis itu.


"Halo" sapa Mahendra dari seberang telpon.


Renata merasa gugup. Padahal kemarin dia merasa tidak membutuhkannya.


"Ehm. Begini. Apa kau sibuk?"


"Ah kau rupanya. Aku sedang menyelidiki uang masuk ke rekening Ibumu. Aku ingin tahu apakah ada sesuatu." Mahendra dengan polosnya mengatakan itu semua.


"Oh ya..." jawab Renata dengan senyum yang getir.


"Kapan kamu ada waktu? Aku ingin bertemu."


Astagaaa... Iya. Aku hanya bisa bertemu jika mengenai soal pekerjaan. Kenapa sih aku? Kenapa aku berpikir yang aneh.


"Aku hanya ingin memberitahu bahwa kemarin aku bertemu dengan Nenekku. Barangkali dari pertemuan itu ada sesuatu yang bisa kau dapat." jawab Renata memutar bola matanya. Jujur saja, ia sedikit gugup bicara dengan Mahendra saat ini.


"Ide bagus. Kapan aku bisa menemuimu?"


Renata mulai gugup setengah mati.


"Ah.. Itu.. Dimana ya.. Aku sekarang sedang... Hemm.. Kuliah! Iya aku lagi kuliah sekarang. Gimana kalau pulang kuliah?"


"Oke boleh. Dimana kampusmu? Biar aku saja yang datang."


"Baik aku akan kirim alamatnya."


Renata menghela napasnya panjang. Ia mengatur hatinya agar tidak terjerumus dalam hal yang tidak diinginkan.


Renata. Harus fokus. Ayo ini masalah Ibu! Bukan masalah hatimu!


Renata terus mengingatkan hatinya agar membatasi yang mana hal yang penting dan mana yang tidak penting.


Herlina sudah melarang Renata bekerja karena uang yang diberikannya cukup untuk membeli sebuah rumah baru. Renata akan mulai mencari rumah nanti. Saat ini ia hanya perlu fokus pada kuliahnya dan membersihkan nama Ibunya.


***


"Maaf, Pak Mahendra. Dipanggil Pak Kepala."


Mahendra merasa gelisah. Ini baru hari ketiga penyelidikan kasus Kinanti. Kenapa Pak Kepala memanggilnya? Jangan sampai sia-sia. Mahendra harus mendengar beberapa cerita dari Renata dulu baru pada akhirnya ia menyimpulkan sebagaimana mestinya.


Dengan wajah yang tegas, Mahendra mendatangi kantor Pak Kepala.


Tok..tok..tok...


Mahendra membuka pintu ruang Pak Kepala.


"Bapak memanggil saya?"


Kepala Jaksa menoleh ke arah Mahendra. Dengan wajah yang serius dan sedikit tegang.


"Bagaimana kelanjutan kasus Kinanti? Apakah sudah mendapat bukti?"


Mahendra menunduk dan tidak menatap Kepala Jaksa.


"Belum, Pak."


"Tutuplah kasus ini. Kasus ini tidak akan menghasilkan apa-apa." kata Pak Kepala bernada datar tapi cukup serius.


"Saya masih menyelidikinya dan waktu penyelidikan saya tinggal dua hari lagi."


Pak Kepala Jaksa menatap Mahendra.


"Mengapa kamu begitu yakin bahwa ini adalah pembunuhan? Apakah karena autopsinya?"


"Tidak memungkiri bahwa itu adalah salah satunya."


Kepala jaksa menghela napas panjang. Ia terdiam sesaat.


"Tahukah kamu siapa Kinanti?" Pak Kepala Jaksa terdengar cukup serius namun tidak emosi seperti biasanya.


Mahendra hanya diam saja tidak menjawab.


"Dia adalah menantu dari keluarga kaya raya di negri ini. Grup Seijin." jawab Kepala Jaksa.


Mahendra mengerutkan dahinya. Dia seperti mendengar nama perusahaan itu. Tapi dimana ya? Mahendra sedikit lupa.


"Jika ada sesuatu terjadi karena kamu menyelidiki kasus keluarganya yang meninggal, jabatanmu adalah taruhannya." kata Kepala Jaksa dengan tegas.


Mahendra menatap Kepala Jaksa dengan wajah yang bingung. Ingin bertanya tapi tidak sanggup.


"Saya akan memastikan kasus ini selesai dengan baik." jawab Mahendra dengan sangat yakin.