Mother

Mother
Cerita Nina



Mahendra dan Nina duduk di bangku taman depan UGD. Banyak sekali yang ingin Mahendra tanyakan, pun dengan Nina. Entah apa yang harus dikatakan tapi memang lambat laun semua rahasia pasti akan terbongkar dengan cara yang berbeda. Mungkin jika tidak sekarang, nanti bisa terbongkar.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Nina gelisah. Ia memainkan jari-jarinya untuk sedikit mengalihkan pikirannya memilah kata yang baik.


"Tapi Kinanti memintaku merahasiakan penyakitnya dari Renata. Aku bingung sekali harus bagaimana. Ibu mertuaku tidak tahu. Tapi entahlah Candra tahu atau tidak. Bahkan Candra seringkali menyebut Kinanti itu perempuan gila, makanya tidak tahan tinggal dengan Kinanti." cerita Nina. Mahendra masih belum menanggapi. Ia tahu ia harus mendengar lebih banyak lagi.


"Kinanti orang yang baik. Awal aku dekat dengan Candra, dia marah, tapi masih bisa mengatur emosinya. Terkadang ketika Candra membawaku kerumahnya, aku diperlakukan seperti tamu. Kinanti selalu memberikanku air dan juga cemilan." Nina menghela napas sejenak.


"Jujur, aku merasa malu karena aku sudah merebut Candra dan menghancurkan rumah tangganya, tapi aku tetap diperlakukan dengan baik. Hingga pada suatu hari Kinanti, menelponku dan memintaku untuk bermain. Tanpa punya pikiran apapun, aku datang dan aku terkejut melihat Kinanti menjadi emosional."


"Kau datang? Masuklah. Aku buatkan minuman untukmu."


Hari itu Kinanti sedikit berbeda. Dia tersenyum lebih berani, aku pikir bukan karena aku jarang kesana. Sudah termasuk beberapa kali dan ia selalu memberikan senyum yang hangat padaku, memperlakukanku selayaknya teman.


Tanpa berpikir panjang, aku duduk di sofa. Dan ia memberikan minuman, ketika aku meminumnya, rasanya sangat pedas.


"Bagaimana? Enak? Itulah akibat merebut suami orang lain! Dan kamu harus tahu kamu itu sama seperti air cabai ini!"


Kemudian dia menyiramku dengan air cabai itu. Aku mengaduh karena air cabai itu terasa panas diwajahku.


"Kinanti! Apa yang kamu lakukan? Aduh panas, panas!!"


"Biar kamu tahu, itulah akibatnya mengganggu suami orang lain!"


Aku langsung pergi dari situ dan aku cepat-cepat menemukan keran air. Jujur aku sangat kaget dengan sikap Kinanti. Dan aku masih belum tahu penyakit yang dideritanya. Suatu hari, dia menelponku menangis tersedu-sedu.


"Nina tolong bantu aku Nina. Obatku habis..."


Aku bingung dengan obat yang dimaksud. Karena Kinanti terlihat seperti orang sehat. Akhirnya aku datang ke rumahnya dan dia sedang jatuh dengan posisi memegangi kepalanya yang sakit. Entah sesakit apa tapi ia teriak-teriak sangat sakit. Aku langsung membawanya ke dokter dan mengambil botol obat yang biasa Kinanti minum.


Setelah diperiksa, dokter tidak mengatakan bahwa ada sesuatu yang terluka pada Kinanti dan melihat label obat yang ku bawa.


"Berapa lama pasien mengkonsumsi obat ini?"


"Saya tidak tahu, Dok. Karena saya baru saja datang dan melihat pasien memegangi kepalanya yang kesakitan sambil berteriak."


"Pasien tidak mengalami luka luar. Pasien mengalami luka dalam."


"Maksud, Dokter?"


"Ini adalah antidepresan. Diminum ketika pasien merasakan gelisah, stress ataupun tidak tenang. Saya sarankan untuk ke bagian psikiatri. Karena saya tidak bisa menjelaskan hal ini lebih rinci."


Aku sangat lemas ketika mengetahuinya. Aku tidak menyangka Kinanti meminum obat antidepresan. Aku langsung ke bagian psikiater pada saat itu juga dan dokter menanyaiku macam-macam. Mulai dari perilaku sehari-hari Kinanti sampai bagaimana sikapnya yang baru saja terjadi. Dan saat itulah dia didiagnosa mempunyai kepribadian ganda.


Saat aku pulang dari rumah sakit, aku semakin bingung lagi dengan pertanyaan Kinanti.


"Nina. Kita ngapain di rumah sakit? Apa aku sakit?"


Ia melarangku memberitahu Renata. Ia khawatir akan menambah beban Renata karena Renata masih fokus pada kuliahnya. Kinanti mencari cara agar Renata tidak tahu bahwa Kinanti mengidap penyakit itu, akhirnya Kinanti mengarang cerita bahwa kekurangan uang dan Renatapun percaya. Sedihnya, Renata anak yang sangat baik, ceria dan penurut. Ia menuruti semua keinginan Kinanti tanpa bertanya. Ia bekerja sepulang kuliah terkadang menyelesaikan tugas kuliah.


Kinanti bercerita bahwa hatinya sakit sekali jika melihat Renata kelelahan setiap harinya. Tetapi, Renata selalu bilang, selama Ibu bersamaku, aku tidak pernah lelah, Bu.


Kinanti menangis ketika Renata pergi pagi sekali untuk kuliah. Dan sejak itu sakit di kepala Kinanti selalu kambuh. Aku menyediakan antidepresan dan obat penenang. Jika tidak, dia sudah menyakiti dirinya sendiri.


Sampai saat ini aku tidak pernah tahu bahwa Candra akan memperlakukanku sangat buruk sama seperti ia memperlakukan Kinanti. Aku rasa, sangat wajar Kinanti mengidap penyakit itu, mungkin ia sudah mengalami bertahun-tahun dari Candra. Akupun mengalaminya."


****


Nina tidak hentinya mengalirkan air mata diwajahnya. Apalagi bercerita tentang Renata selalu membuat hatinya teriris. Sesaat Mahendra tidak mampu berkata-kata. Ia terlihat sangat takjub dengan cerita Nina yang sangat luar biasa. Belum pernah ia menemukan kasus sedemikian rumitnya.


"Baiklah. Mungkin Ibu Nina bisa melihat kondisi Renata sekarang dan bisa menemaninya. Kalau boleh, saya bisa minta kontak dokter itu dan juga suami Anda, Pak Candra."


Nina sedikit ragu menjawab pertanyaan Mahendra. Tapi memang ia berusaha untuk membuka pintu keadilan bagi Kinanti.


"Renata berusaha sekali mencari tahu penyebab kematian Ibu Kinanti. Ia berusaha sekuat mungkin menghadapi segala kenyataan walaupun itu menyakiti hati Renata. Ibu Nina bisa lihat sendiri bagaimana kondisi Renata saat ini." jelas Mahendra


****


Renata menggerakkan jarinya, berusaha membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat dan tangannya diinfus untuk menambah cairan dalam tubuhnya. Nina yang duduk disampingnya, meraih tangan Renata dan menggenggamnya. Hangat dan nyaman.


"Ibu..." Renata mulai memanggil Kinanti. Nina mengelap keringat di dahinya dan merapikan rambut Renata.


"Renata, ini Tante, Sayang. Bangun, Nak..." Nina membisikkan suaranya di telinga Renata. Renata masih berusaha membuka matanya.


"Iya Renata, ini Tante Nina." ucap Nina lagi.


Renata membuka matanya dengan perlahan dan mendapati Nina duduk disamping bangsalnya.


"Kamu sudah bangun? Bagaimana rasanya? Masih pusing? Tante panggilkan dokter ya." Nina baru saja ingin beranjak dan memanggil dokter tapi Renata menahannya.


"Tante.."


Nina berusaha menahan air matanya terjatuh karena melihat kondisi Renata. Pedih sekali melihat Renata terbaring di tempat tidur rumah sakit seperti ini.


"Tante, maafin Renata ya, Renata banyak salah sama Tante..."


Nina tidak bisa menahan air matanya lagi. Pun tidak bisa membohongi hatinya. Ia mungkin bisa jadi ibu tiri dari Renata. Tapi tidak ada batasan bagi seseorang untuk bisa dekat satu sama lain.


"Tidak, Renata, tidak. Tidak ada yang salah maupun benar. Semua sudah terjadi."


Renata menatap Nina dengan dengan lemah, kepalanya masih terasa pusing sekali. Ingin sekali ia memeluk Nina. Tapi saat ini, Renata membutuhkan istirahat lebih.