Mother

Mother
Candra



Candra tidak berkutik lagi ketika Herlina membekukan semua kartu kreditnya. Saat ini ia hanya bisa menuruti kemauan Herlina. Saat meeting digelar, bukan Candra lagi yang memimpin. Tetapi Herlina. Herlina mengambil alih semua yang seharusnya dikerjakan oleh Candra.


"Meeting kita kali ini membahas brand ambasador untuk tahap internasional dalam rangka mempromosikan resort ini." kata Herlina. Suasana meeting menjadi tegang karena Herlina tampak emosi dengan Candra. Candra seperti anak mama yang takut jika tiba-tiba ada balon yang meletus.


"Kumpulkan semua calon untuk brand ambasador. Saya akan tentukan siapa yang menjadi brand, kontrak dia selama enam bulan. dan enam bulan berikutnya ada satu brand lagi. tetapi setiap promosi tahunan dua brand ini akan tampil dalam acara kita. paham?" ucap Herlina.


Setelah semua mengangguk mengerti Herlina membubarkan staf. Hanya tersisa manajer marketing dengan sekretaris Kim untuk menentukan siapa yang cocok untuk menjadi brand ambasador. Candra tidak ikut serta karena ia tidak berani menatap Herlina apalagi menyuarakan suaranya.


****


Renata melepaskan seatbeltnya dan meraih tasnya.


"Terima kasih ya."


"Oh ya. Kau jadi pindah ke apartemen?"


Renata menatap Mahendra dengan tatapan penuh arti. Ia benar-benar menatap dengan penuh curiga.


"Pak Jaksa. Berhenti menanyaiku sesuatu."


"Apa kau merasa terganggu?"


"Ya, jadi berhenti tanya-tanya. Aku akan pindah apartemen yang Nenekku berikan dan aku akan membawa semua barang dirumah tanpa tersisa."


Mahendra mengangguk.


"Baiklah. Beritahu kapan kamu pindah. Karena aku masih merasa ada sesuatu dengan barang-barang Ibumu." kata Mahendra.


"Kau masih curiga sesuatu?"


"Belum pasti. Karena kemarin aku hanya melihat-lihat saja belum membongkarnya."


"Baiklah akan aku beritahu jika aku menemukan sesuatu. Sudah ya."


Renata segera keluar dari mobil Mahendra.


****


Nina mengambil kotak perhiasan yang kemarin sempat ia bawa ke rumah. Ia ingat sekali kemarin Candra memarahinya karena ia membawa pulang kotak itu.


"Bawalah ini." kata Kinanti menyerahkan kotak perhiasan itu pada Nina. Nina kaget sekali dan merasa bingung mengapa Kinanti memberikan kotak perhiasan padanya.


"Kinan, kenapa aku harus..."


"Simpanlah untukku dan berikan pada Renata suatu hari nanti. Perlahan aku ingin mengamankan beberapa uang dan perhiasanku."


"Tapi kenapa Kinan? Ada apa?" tanya Nina masih tetap kebingungan.


"Nina, dengarkan aku. Hanya kau yang tahu bagaimana kondisiku. Selagi aku masih sadar, simpanlah kotak ini dan berikan pada Renata suatu hari nanti." Kinanti menyerahkan kotak itu dan tangannya sedikit gemetar.


"Lalu bagaimana denganmu Kinan?" Nina cemas sekali sampai tidak sanggup melihat keadaan Kinanti.


"Pergi dari sini Nina. Aku akan meminum obatku.. Ambilkan obatku..." Nina langsung mengambilkan obat dan segelas air untuk Kinanti. Setelah Kinan meminum obatnya, perlahan ia menjadi stabil kembali. Kinanti memegangi kepalanya yang terasa pusing tapi keadaanya menjadi lebih stabil dari sebelumnya.


"Kinanti, kau baik-baik saja?"


"Ya..." Kinanti menjawabnya dengan suara yang lemah. Kemudian Nina segera pergi meninggalkan Kinanti yang mulai merebahkan diri. Nina meninggalkan rumah Kinanti dengan perlahan.


Nina memijat dahinya yang tidak terasa pusing. Hanya saja ia bertanya dalam hati. Mengapa harus dirinya yang tahu mengenai kondisi Kinanti? Dalam kotak perhiasan itu juga terselip catatan medis milik Kinanti, bahwa secara rutin ia selalu mengunjungi psikiater untuk masalah depresinya yang semakin lama semakin memburuk.


***


Herlina tidak acuh pada Candra yang terus mengikutinya. Kehadiran Candra di Bali kurang lebih tiga hari tidak membuahkan hasil apa-apa. Herlina merasa malu sekali mempercayakan perusahaannya pada orang macam anaknya sendiri.


"Pak Kim. Biarkan saya dan anak saya bicara berdua." Sekretaris Kim yang langsung mengerti segera pamit meninggalkan Herlina dan juga Candra.


"Ikuti aku." ucap Herlina pada Candra tanpa menoleh dan segera menuju ke tempat yang agak lebih sepi.


Ada rooftop yang terlihat indah dengan tanaman bunga mawar merah, putih, pink dan kuning. Pemandangan resortpun juga indah sekali, dengan pemandangan Pantai Tanjung Benoa. Banyak orang yang sedang surfing di pantai itu.


"Iya,Bu" ucap Candra pada Herlina dengan nada yang sepelan mungkin.


"Candra, Ibu sangat kecewa padamu. Selama hampir tiga hari kamu disini, pekerjaan apa yang kamu dapat selain memuaskan nafsumu?" Herlina mulai meninggikan suaranya ketika berbicara dengan anaknya sendiri.


Candra hanya diam. Ia tidak berani menyahut perkataan Herlina.


"Jangan bersikap bodoh ya, Candra. Jangan mentang-mentang kamu anak Ibu, kamu bisa berlaku seenaknya disini. Tidak bisa. Justru jika kamu macam-macam, kartu kreditmu akan Ibu tarik semua!" lanjut Herlina. Lagi-lagi Candra hanya diam. Ia hanya bisa mendengarkan Herlina saja.


"Nina kemarin diinterogasi oleh kejaksaan." kata Herlina membuat Candra merespon perkataan Herlina.


"Lalu, Bu?"


"Awalnya ibu tidak percaya dengan semua cerita Nina. Tapi akhirnya Ibu percaya."


Candra diam lagi. Herlina mencoba mencari celah melihat sisi kelemahan Candra jika ia mengungkit Kinanti ataupun Nina. Ia ingin mengetahui apakah selama ini Candra berbuat baik pada istrinya atau tidak.


"Dan semenjak kepergian Kinanti, Renata berusaha keras mencari siapa yang membunuh Ibunya." kata Herlina lagi. Namun kali ini reaksi Candra sungguh diluar harapan Herlina.


"Untuk apa Renata mencari pembunuhnya? Bukankah itu sudah jelas kalau Kinanti bunuh diri?"


Candra seolah memprotes apa yang Renata lakukan. Herlina semakin bingung dengan sikap Candra.


"Seharusnya kamu mendukung apa yang Renata lakukan."


"Tidak, Bu. Itu terlalu berbahaya. Katakan pada Renata berhenti untuk mencari tahu tentang Kinanti." Candra terdengar panik sekali.


Herlina tertegun melihat Candra yang bersikeras mengubur Kinanti dari ingatan Renata.


"Atau aku sendiri yang akan bilang." Candra mengeluarkan hapenya dan segera mencari nama Renata. Tetapi Herlina bergerak cepat.


"Jangan sentuh Renata dengan tanganmu."


Candra berhenti memencet layar hapenya dan menatap Herlina.


"Ibu? Dia anakku!"


"Jangan berlagak sok menjadi Ayah. Kamu sudah menelantarkan dia bertahun-tahun sampai mereka tinggal dirumah jelek dan bau!"


Candra terdiam mendengar perkataan Herlina. Hanya Ibunya yang dapat skakmat mati semua ucapan Candra.


"Renata cucuku satu-satunya yang selama ini aku kira tidak mau bertemu denganku. Ternyata tidak. Sikapmulah yang membuat Renata tidak mau bertemu denganku." lanjut Herlina masih belum puas.


"Maksud Ibu, sikapku? Aku menemuinya juga sesekali dan terkadang aku mengiriminya uang." Candra masih mencoba membela dirinya. Tapi kali ini Herlina tidak akan tinggal diam.


"Kamu sesekali menemuinya dan mengirimnya uang?" tanya Herlina memastikan ucapan Candra sekali lagi.


"Iya, Bu. Sumpah."


"Terus, kenapa Renata sampai harus bekerja sepulang kuliah untuk makan sehari-hari? Lalu dimana hatimu sebagai Ayah meninggalkan putrinya sendiri demi bersenang-senang dengan wanita lain?" Herlina sangat pedas menyindir anaknya sendiri. Tapi memang seperti inilah Herlina. Walaupun anak sendiri jika memang salah, tetaplah salah dimatanya.


"Renata bekerja?" ulang Candra yang masih tidak mengerti ucapan Herlina.


"Ya. Untuk makan sehari-hari."


Sekarang, Candra tidak bisa membalas ucapan Herlina lagi karena tatapan mata tajam Herlina membuat Candra bergidik ngeri.