Mother

Mother
Kamera Yang Tertinggal



Renata kembali pulang ke rumah diantar oleh Herlina, Nina dan juga Candra ke apartemen barunya. Herlina sangat senang sekali Renata bisa menerima pemberiannya.


"Tinggallah disini dengan nyaman, Sayang. Kalau perlu apa-apa, kamu bisa hubungi Nenek ya." kata Herlina sambil mengelus rambut Renata.


"Iya, Nek. Terima kasih telah membantuku. Aku akan mengunjungi Nenek kalau Nenek tidak sibuk." Renata tersenyum riang gembira pada Herlina begitupun Nina.


"Terima kasih, Tante. Renata nggak akan lupa kebaikan Tante."


Nina merasa terharu. Selama ini Renata selalu menatapnya penuh benci dan menganggap dirinya adalah benalu dalam keluarga ini. Tapi ketulusan Nina tidak pernah sia-sia. Kini ia menikmati buah dari kesabarannya.


"Kamu juga bisa menghubungi Tante ya Renata. Jangan sungkan." jawab Nina dengan senyum. Hanya Candra yang diam tidak tahu harus bicara apa. Ia merasa canggung dan Renata sendiri tidak berusaha memperhatikan keberadaan Candra yang berada tepat dibelakang Herlina.


"Kami pulang dulu. Kamu istirahatlah." Herlina mempersilakan Renata masuk dengan menekan passcode terlebih dahulu. Herlina baru akan pulang jika Renata sudah masuk dalam apartemennya.


Diperjalanan pulang, Herlina kembali membahas pekerjaan dengan Sekretaris Kim. Mereka memasuki lift yang sama dan Candra tidak menjauh dari Herlina sejengkalpun. Ketika sudah sampai lobi apartemen, Herlina dan Sekretaris Kim masih sibuk dengan pembicaraan pekerjaannya dan Candrapun menarik Nina untuk menjauh dari Herlina.


"Apa kamu tidak ada uang, Nina? Tidak bisakah aku meminjam uangmu?" tanya Candra setengah berbisik. Nina tidak tahu harus menjawab apa. Tapi yang ia tahu, jika Nina mengganggu keputusan yang sudah Herlina buat, Herlina akan memakinya habis-habisan.


"Maaf, Candra. Ibumu memintaku untuk tidak ikut campur. Kamu selesaikan saja masalahmu dengan Ibumu supaya kamu bisa mendapatkan kembali uangmu." jawab Nina.


Candra mulai naik darah. Ia hendak memukuli Nina, tetapi ini bukanlah tempat yang bagus untuk memulai itu semua.


"Kamu istri tidak pernah berterima kasih!" ucap Candra kemudian menyusul Herlina yang sudah berada jauh didepan. Entahlah harus bagaimana menghadapi Candra. Jika keinginannya tidak tercapai, ia termasuk orang yang akan memaki habis-habisan.


****


Mahendra kembali meneliti kasus Kinanti. Ia berpikir kemungkinan yang terjadi pada Kinanti. Jika memang Kinanti mengidap penyakit kepribadian ganda dan sisi lainnya menunjukkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri, ia pasti akan menyakiti di daerah yang dapat dijangkau olehnya seperti tangan, kaki ataupun rambut. Dalam kasus yang biasa ditangani, jarang sekali wanita yang bunuh diri dengan melukai wajahnya sendiri. Tapi ada beberapa lebam di wajah Kinanti.


Mahendra melihat foto Kinanti lagi selama masih berada di TKP. Dan apabila yang dokter forensik katakan benar, ada bekas lilitan kabel di lehernya, kecil kemungkinan Kinanti melakukan bunuh diri dengan menggunakan kain yang digantung. Tapi anehnya, tidak ada kabel yang dicurigai di rumah Renata selain kabel hairdryer dan juga kabel setrikaan.


Mahendra kembali berpikir dan melihat kembali video yang didapatkan dari rumah Renata. Jika ada seseorang yang sengaja menaruh kamera diantara bingkai foto, tidak mungkin sebanyak ini karena tidak memiliki waktu untuk memasang kamera itu di tempat yang lokasi umumnya hanya diketahui oleh Kinanti. Apalagi Kinanti jarang keluar rumah. Tapi mencurigai Nina pun juga sudah tidak bisa , karena jelas di dalam video itu ia hanya menolong Kinanti ketika penyakitnya kambuh.


Apakah mungkin Kinanti sendiri yang memasang kamera ini? Karena ia tahu bahwa perubahannya selalu drastis dan bisa menjadi tolak ukur ketika Kinanti masih dalam keadaan stabil ataupun tidak. Mahendra masih mencari tahu itu. Kuncinya bisa jadi berada pada Nina.


Mahendra melihat lagi video selanjutnya dimana Candra datang meneriakinya. Seolah-olah Kinanti tidak menerima kehadiran Nina dan Candra sangat marah.


Mahendra menonton video itu berulang-ulang. Tapi masih ada yang aneh dengan video itu. Seolah-olah video itu durasinya terpotong. Biasanya setelah orang datang dan masuk ke dalam sebuah rumah, ia akan selalu kembali dan pergi lagi melalui pintu. Mahendra baru menyadari, video ini terpotong dan masih ada lanjutannya. Mahendra kembali menduga bahwa masih ada satu kamera tertinggal pada Renata. Tapi kemarin ia sudah membongkar semua bingkai foto dari rumah Renata dan jelas sekali bahwa ia hanya mendapat enam kamera. Apakah mungkin....


****


Mulai hari ini Renata akan fokus pada pendidikannya sesuai permintaan Herlina padanya. Ia tidak mau mengecewakan Herlina. Ia sangat berterima kasih karena mau memfasilitasi Renata dengan fasilitas yang cukup mewah. Yang mungkin tidak bisa di dapatkan oleh kebanyakan anak remaja pada saat ini.


Ketika sedang bersiap untuk pergi kuliah, pintu rumah Renata berbunyi bel. Ia segera melihat dari radio kamera yang terletak disamping pintu masuk dan mendapati Mahendra yang sudah datang pagi sekali.


"Pagi sekali." kata Renata membukakan pintu untuk Mahendra.


Mahendra langsung masuk tanpa dipersilakan. Memang terlihat tidak sopan, tapi bukan kali pertama Mahendra seperti ini.


"Kamu belum merapikan barangmu?" tanya Mahendra melihat tumpukan kardus dan bingkai foto disudut ruangan.


"Belum. Belum sempat. Aku masih terlalu lelah. Aku hanya mengambil baju seperlunya dan buku kuliahku. Ada apa pagi-pagi datang kesini?" tanya Renata yang sudah mulai penasaran. Barangkali Mahendra mendapat informasi terbaru mengenai kasus Kinanti.


Mahendra duduk di sofa ruang tamu dan menepuk sofa untuk Renata duduki.


"Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan."


"Aku mau berangkat ke kampus. Singkat saja ya. Jangan lama-lama." kemudian Renata duduk di sebelah Mahendra dan siap mendengar apa yang ingin dibicarakan.


"Apa selama beres-beres barang di rumahmu yang lama, kamu tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan lagi?" tanya Mahendra.


"Tidak. Kamu juga berada disana dan kita menemukan kamera yang ternyata terpasang di bingkai foto." Renata mulai mengernyitkan dahinya. Sepertinya ada sesuatu yang salah jika Mahendra bertanya mencurigakan seperti ini.


"Aku rasa ada satu kamera lagi yang belum ketemu."


"Dimana? Aku sudah mengecek dan tidak ada kamera lagi." ucap Renata.


Kemudian keduanya terdiam. Melihat tumpukan bingkai foto yang masih belum terpajang di meja ataupun dinding.


Ya. Masih ada kamera tertinggal dan bingkainya juga belum pernah di bongkar. Bingkai foto ukuran 10R dimana ada foto Kinanti, Renata dan juga Candra.


Renata dan Mahendra sama-sama menatap bingkai itu dan membuka kertas yang menutupinya. Renata memperhatikan setiap sudut foto itu.


Ya. Terdapat sebuah kamera lagi di foto keluarga Renata. Kamera itu tidak tersembunyi di sudut atas maupun bawah. Tapi kamera itu terpasang diantara kedua bola mata Candra. Jika tidak memperhatikannya dengan teliti, tidak akan bisa menemukan kamera itu.


"Ini bukankah sebuah kamera?" tanya Renata. Mahendra langsung membongkar foto itu dan mendapatkan kameranya.