
Rei merasa ragu untuk pergi ke sekolah. Dia takut melihat tatapan dan mendengar bisikan-bisikan yang tertuju padanya. Tapi kalau tidak sekolah, bukankah akan menimbulkan kecurigaan baru, mereka akan bepikir bahwa gosip itu memang benar dan Rei sengaja menghindar.
"Kak, hari ini aku mau ke sekolah, ya?"
"Tapi kan kamu lagi hamil."
"Aku kan enggak sakit parah, Kak. Lagi pula di rumah juga aku bosan."
Marva berpikir, jika Rei di rumah, maka Viola akan kembali uring-uringan, dan akhirnya memicu pertengkaran antara dia dan Viola
Marva akhirnya mengizinkan, dia langsung menyuruh pelayan membuatkan bekal untuk Rei. Rei diantar oleh sopir sampai tempat biasa. Saat memasuki gerbang sekolah, tidak ada lagi tatapan mencela, atau bisikan-bisikan penasaran. Semuanya kembali ke awal, dia seperti murid tak kasat mata.
Di mansion, Marva mengerjakan pekerjaan kantornya di ruang kerja. Viola membuatkan teh hangat untuk Marva, berusaha menariknsimoati suaminya itu. Marva yang melihat kedatangan Viola seketika menahan nafas, karena kembali merasa mual. Viola meletakkan teh hangat itu di meja, lalu berdiri di belakang Marva. Tangan mulusnya memijit pundak Marva dan mengelus dada bidang itu. Marva yang mendapat perlakuan seperti itu, bukannha merasa senang apalagi terangsang, justru merasa risih.
"Aku lagi kerja, kamu ke luar sana!"
"Kamu kenapa, sih? Aku kan hanya ingin melayani kamu."
"Vi, aku harap kamu mengerti. Sekarang aku lagi sibuk kerja, aku juga mual. Nanti kalau keadaan sudah kembali normal, kita bisa kembali seperti biasa. Kamu paham, kan?"
Viola menghela nafas, lalu mengangguk. Dia ke luar dari ruang kerja Marva dengan perasaan kecewa.
Marva memijat keningnya, hidupnya semakin rumit sejak kehadiran Rei.
Tunggu hingga beberapa bulan lagi, dan aku harap semua akan berjalan dengan lancar.
🌺🌺🌺
"Aku harap kamu mengerti, jangan memanfaatkan kehamilan kamu untuk merebut perhatian Marva dan orang-orang di mansion ini. Kamu hanya bertugas untuk memberikan Marva anak, setelah itu akulah yang akan menjadi ibu anak-anak itu. Kakek Frans juga akan menepati perkataannya untuk menjadikan aku satu-satunya istri Marva. Keluarga Marva hanya tahu aku lah istrinya, bukan kamu atau perempuan lain. Jadi kamu jangan besar kepala dan bersikap sok lemah agar Marva terus berada di sisimu. Jaga kondisimu, jangan sampai kamu sakit lagi dan menyusahkan orang-orang."
Rei menahan gejolak di hatinya. Meskipun Viola tidak.mengayakan hal itu, dia cukup sadar diri siapa dia di mansion ini.
"Aku tahu."
"Baguslah kalau kamu mengerti. Jangan terbang terlalu tinggi, karena sakit rasanya saat terjatuh."
Rei memandang mansion ini dari depan. Tempat tinggal yang seperti penjara baginya. Jika saja dia punya kekuatan, ingin sekali dia membalas perkataan buruk orang-orang kepadanya. Nyatanya dia hanya anak yatim piatu yang miskin, yang tak memiliki kekuatan baik uang atau kekuasaan. Secara fisik mungkin dia bisa melawan.
Rei jadi merindukan kontrakan kecilnya, di mana dia bisa tidur dengan tenang meski beralaskan kasur kecil yang tipis dan keras.
"Kamu sudah pulang? Bagaimana keadaan anakku?"
Rei tersenyum miris, saat tiba tadi dia disambut oleh oerkagaan oedas Viola, dan sekarang saat memasuki mansion, dia disambut okeh Marva yang hanya menanyakan kondisi anaknya.
"Mereka baik."
Rei buru-buru masuk ke kamarnya, lalu bergegas ke kamar mandi. Bukan karena mau muntah atau buang air, gali karena Marva mengikutinya, sedangkan dia malas melihat wajah Marva yang membuat dia kesal.
Rei mengelus perutnya.
Sayang, kalau boleh bunda meminta sesuatu pada kalian, kalian jangan mau dekat-dekat dengan ayah kalian. Biarkan waktu yang tersisa menjadi milik kita bertiga saja, karena setelah itu mereka akan memisahkan kita.