Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Bekas orang



Kecewa, hanya kata itu yang ada dalam benak seorang Shania Junianatha. Ia tidak menyangka bahwa Oon dengan mudahnya memberikan mobil yang baru mereka beli, hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama Soraya yang merupakan mantan istri sirihnya, walau mereka tidak pernah menghabiskan waktu bersama.


Sakit, Shania yang tengah mengandung benih cinta mereka yang tumbuh selayaknya bunga mekar didalam hatinya, kini kembali menelan pil pahit oleh ulah suami tercinta.


BHUG ...


BHUG ...


Shania memukul stir kemudi, menangis sejadi-jadinya didalam mobil itu seorang diri. Kini harapannya untuk berharap menjadi wanita nomor satu dihati suami sendiri pupus sudah karena kehadiran Soraya yang sengaja menarik perhatian Oon dengan penampilan mewahnya.


"Apakah Mas Oon tidak tahu, kalau Soraya itu sudah menikah? Bahkan gadis itu rela untuk menjadi istri simpanan. Apakah Mas Oon tuli dan buta, dengan kisah Soraya yang menjadi trending topik saat ini ..." sesalnya semakin menggeram kesal.


Tanpa menghiraukan bagaimana Oon memperlakukan Shania dalam kebimbangan, ia memilih meninggalkan parkiran pusat perbelanjaan itu menuju kediamannya. Akan tetapi, lagi-lagi Shania dikejutkan dengan kehadiran Mala yang tengah berdiri didepan rumahnya, sambil melakukan siaran langsung, entah apa tujuannya.


Tidak ingin bertemu ataupun berdebat dengan Mala, Shania melajukan kendaraannya menuju kediaman orangtuanya yang tidak jauh dari kediaman mereka berdua. Entah berapa kali ia mengumpat kesal, karena merasa kecewa, dan ingin segera menanyakan pada Oon 'dari mana ibu mertua gilanya itu, tahu kediaman merek'.


Kepala Shania terasa semakin berat, dadanya bergemuruh seakan terasa sangat menyesakkan. Andaikan saja ia tidak mengandung anak kembar lima, mungkin kali ini dirinya akan segera melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama karena kebodohan suaminya sendiri, yang rela membiarkan dirinya pulang kerumah seorang diri, dengan Mala sudah berdiri didepan kediaman mereka berdua.


Kembali Shania menangis sesenggukan karena tidak mendapati siapa-siapa dikediaman orang tuanya. Hatinya terasa sangat sakit, bahkan tampak bingung harus menghubungi siapa lagi untuk mendengarkan curahan hatinya saat ini.


Shania hanya wanita biasa, yang tidak memiliki apapun saat ini. Ia sengaja menjauh dari orang-orang hanya untuk mengabdikan dirinya sebagai seorang istri, akan tetapi lagi-lagi dirinya harus menerima kenyataan bahwa ia harus berjuang sendiri tanpa mengharapkan apapun dari Oon.


Wajah cantik itu kembali tampak sembab, kulit pipi yang mulus walau ada bekas luka akibat ulah Mala, membuat Shania tidak ingin berlama-lama dalam situasi sulit ini. Kini didalam rahimnya telah tumbuh lima nyawa yang harus ia perjuangkan untuk tetap hidup selayaknya seorang ibu yang memiliki perasaan belas kasih pada janin yang ia kandung.


"Kenapa hidupku tidak seperti orang-orang, Tuhan. Memiliki mertua yang baik, bahkan suami yang selalu menjaga komitmen untuk bersama apapun tantangannya, sesuai dengan janji yang ia ucapkan padaku beberapa waktu lalu. Akan tetapi, aku harus kecewa lagi hanya karena Soraya. Apa mau wanita itu pada Mas Oon! Kenap suami ku tidak pernah bisa menolak permintaannya ...?" Sesalnya merebahkan tubuhnya di jok kemudi, tanpa menoleh kearah lain.


Akan demikian, seorang pria dewasa yang akan memarkirkan kendaraannya dihalaman rumah sederhana namun tampak elegan itu, mengetuk kaca mobil Shania.


Tok, tok, tok ...


Shania hanya menolehkan wajahnya sedikit malas kearah kaca, kemudian membuka perlahan, sambil berkata, "Ya ..."


Pria mapan itu tersenyum ramah, seraya berkata, "Mba ... bisakah mobilnya diparkirkan jangan disini? Karena menghalangi jalan masuk saya. Dari tadi saya klakson, tapi tidak ada tanggapan," jelasnya penuh lemah lembut.


Tanpa basa-basi, Shania menganggukkan kepalanya, kemudian memajukan mobilnya, akan tetapi saat ia akan menekan tombol maju, justru tombol mundur lah yang tertekan, membuat ia semakin panik ketika mendengar suara dari arah belakang kendaraannya.


BRAK ...


"Agh sial! Kenapa jadi begini sih!" geramnya, sambil melihat kearah spion, tampak pria mapan itu langsung menepuk jidatnya.


Shania menghela nafas berat, sejujurnya ia pecah fokus saat ini, karena beban pikiran dan kekecewaan yang dialaminya. Tak ingin mendapatkan kasus baru, ia bergegas turun dari mobil hanya untuk memastikan bahwa kendaraan pria itu baik-baik saja.


"Agh!" Lagi-lagi Shania menepuk jidatnya, menatap kearah pria mapan itu, dengan wajah memelas. "Maafkan saya, bang. Saya benar-benar tidak sengaja. Sehingga membuat mobil abang hancur begini bempernya," ucapnya dengan wajah pasrah.


Namun pria itu justru menepis ucapan Shania, karena merasa mengenali wanita yang tampak frustasi dihadapannya, sambil mengerenyitkan keningnya hanya untuk sekedar memastikan ...


"Shania? Kamu Shania Junianatha, kan?"


Mendengar pertanyaan pria yang tampak biasa saja, walau telapak tangannya masih menutupi wajah pucat itu seketika mencoba untuk mengingat siapa pria itu.


Dengan mata yang menyipit, kening mengkerut, bahkan tangan sedikit bergetar karena takut akan berurusan dengan orang baru, kembali bertanya, "Hmm ... maaf, apakah abang mengenali saya?"


Pria itu semakin mendekat dan tertawa kecil, "Ya iyalah kenal. Aku Aji, emang kamu lupa sama lawan main di layar lebar yang sampai saat ini belum tayang karena di cekal jandanya artis figuran Rizal. Tante siapa itu? Agh ... lupa saya. Sampai saat ini masih vakum tuh film kita. Masih ada hutang, kan mereka sama kita lebih kurang lima milyar lagi. Masih inget enggak sih?"


Shania yang tidak mengingat semua kontrak kerja dengan pihak produksi film karena merasa telah diatur oleh pihak managementnya hanya termangu mendengar pembayaran layar lebarnya yang mencapai lima milyar seraya merubah mimik wajahnya yang panik dengan senyuman mengembang sempurna.


Aji langsung menjentikkan jemarinya, "Right ... sepertinya kamu minum obat lupa ya, karena tidak mau mengingat kejadian shooting kita yang sangat melelahkan di Puncak. Apa kamu lupa juga hmm?"


Dengan perasaan malu, cepat Shania menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil mengingat kejadian shooting bersama Aji yang tidak mandi selama tiga hari, karena wilayah cukup dingin dan selalu menghabiskan waktu bersama, karena kedua-nya dipasangkan sebagai pasangan kekasih yang dipisahkan karena status pernikahan tokoh utama wanita tersebut.


Shania terdiam sejenak, mengusap lembut sudut matanya yang basah karena perasaan bahagia setelah beberapa lama tidak bertemu lagi dengan Aji.


Aji langsung mengambil alih kendaraan Shania untuk memarkirkannya, kemudian memasukkan mobilnya yang rusak kedalam carport kediamannya.


Shania termangu sejenak, karena tidak menyangka bahwa Aji orang yang tidak banyak menuntut, bahkan hanya tersenyum tipis melihat bemper mobilnya yang ternganga.


"Hmm, kamu mau kemana? Bagaimana kalau masuk dulu. Tenang saja, aku masih sendiri kok, Shan. Kebetulan tadi ada shooting sebentar, baru beres. Maklum, aku hanya aktor pemilih. Jadi sepi job. Apalagi kondisi saat ini, banyak pendatang baru. Yuk," ajaknya menggandeng tangan Shania, akan tetapi langsung dilepas oleh wanita itu.


"Maaf Bang. Aku sudah menikah, jadi tidak usah menggandeng tanganku!" Tutur Shania, membuat Aji mengangguk mengerti.


Dengan sigap Aji membuka pintu utama kediamannya, memanggil pembantu rumah tangga untuk mempersiapkan minuman dingin serta makanan kecil untuk mereka, kemudian mempersilahkan Shania duduk di sofa ruang tamu minimalis kediamannya.


"Agh ...!" Aji merebahkan tubuhnya di sofa, tepat di sisi kiri Shania yang hanya berjarak empat meter, "Duduklah, Shan. Kamu kesini ngapain? Apakah rumah suami kamu di sini?"


Shania tersenyum tipis, sedikit gelisah, karena merasa kurang nyaman berada di kediaman pria yang hanya memiliki selisih usia lima tahun darinya. Ditambah status pernikahannya yang akan menjadi fitnah jika diketahui oleh pihak lain tentang kedatangannya dikediaman Aji, walau sesungguhnya tanpa sengaja.


Shania hanya mengusap lembut perut yang sudah terlihat membuncit, sambil memijat pelipisnya sambil menjawab pertanyaan Aji, "Disebelah ini rumah Mama ku, Bang. Dan dua blok dari sini kediaman aku dengan Mas Oon. Jadi aku tadi sempat kelelahan karena kehamilan ini."


Aji hanya mengangguk mengerti, "Ta-ta-tapi aku tidak pernah melihat tetangga ku. Maklum saja, aku pergi pagi pulang sore. Jarang keluar rumah, makanya sudah setua ini tidak memiliki jodoh, karena agh ... belum ada yang cocok!"


Mendengar ucapan Aji, Shania tertawa kecil. Sambil berdecak kagum melihat kediaman yang sangat sejuk membuat matanya semakin terasa berat karena perasaan kantuk.


"Hoam ..." Shania menguap beberapa kali, membuat Aji langsung membuka pintu kamar yang ada didekatnya ...


"Istirahat dulu, Shan. Kalau Mama kamu pulang aku kasih tahu. Tapi, aku enggak kenal sama keluarga kamu walau tetangga!" Tawanya.


.


.


Sementara itu, Oon tengah berdebat serius dengan Soraya, masalah Mala juga statusnya yang masih menjadi suami Shania Junianatha.


"Apa kamu lupa, Mas? Mama kamu akan mencari cara untuk memisahkan kamu dengan Shania. Lebih baik, kamu berpisah dari Shania demi menyelamatkan keselamatan wanita angkuh itu. Jangan buang-buang waktu, untuk terus bersama dia. Karena bagaimanapun Shania itu seorang pelakor. Aku lihat beberapa tayangan kalian, dan membaca beberapa komentar para netizen. Aku harap, tolong pikir lagi matang-matang!"


Oon yang sejak tadi membela sang istri hanya menjawab, "A-a-a-aku tidak akan pernah menceraikan Shania. Karena dia istri Oon, dan dia lagi hamil kembar lima! Jadi tolong sampaikan pada Ibu Oon, bahwa Oon tidak akan pernah melakukan hal itu! Selamat sore, Soraya!"


Mendengar pernyataan Oon, Soraya seakan tertampar, kemudian berkata lagi, "Jangan bodoh, Mas. Karena Shania itu bekas orang!"


____


Hai hai hai ...


Mohon dukungannya, agar author tidak terlarut dalam kecewa sebagai penulis.


Aku mencoba konsisten, dan menjaga karya ku untuk tetap baik ... ❤️🤕


Jangan lupa komentarnya dan vote terbaik ... terimakasih reader tersayang ... 😘😘