Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Dia anggap apa anak ku!



Suasana kamar yang sejuk, menjadi saksi bahwa Shania dan Oon takkan pernah berpisah sampai kapanpun. Cinta kedua-nya semakin terasa ketika deru nafas sama-sama tengah memburu untuk selalu berjanji setia selamanya.


Tubuh Oon ambruk seketika, menoleh kearah Shania yang tampak tersenyum bahagia setelah bertemu kembali dengan sang suami.


"Oon cinta sama kamu. Terimakasih masih bersedia untuk menerima Oon, Shan," kecupnya lembut pada wajah Shania yang berbalut peluh.


Shania tersenyum, "Aku juga cinta sama Mas. Kita mandi lagi, sebentar lagi Mama dan Papa pulang. Jangan sampai ketika mereka pulang kita masih bertelanjang begini," tawanya menggoda puncak hidung sang suami.


Bergegas kedua-nya membersihkan diri dengan penuh tawa canda dan kebahagiaan.


Sehingga tepat pukul 20.00 waktu kota metropolitan, Widya dan Ahmad kembali membawa banyak makanan.


Tentu saja, satu pertanyaan yang ada dalam benak mereka berdua hanyalah, "Motor siapa ini? Kenapa Shania tidak memberi tahu kita, bahwa dia membutuhkan kendaraan!"


Hanya pertanyaan itu yang diutarakan Ahmad kepada Widya, sebelum memasuki kediaman mereka.


Bergegas pembantu rumah tangga mereka membawa semua belanjaan Widya kemudian memanggil Shania.


"Shan ... kami sudah pulang! Mama sama Papa nyariin kamu, Shan. Kami juga membawakan martabak manis kesukaan kamu," ucapnya dari balik pintu, menoleh kearah meja makan.


Kembali wanita berusia 30 tahun itu memanggil Widya, karena melihat ada beberapa lauk pauk yang tertutup dimeja makan.


"Bu, emangnya Shania masak di rumah sendiri? Kok tumben?" tanyanya kepada Widya.


Dengan perasaan penasaran, Widya mengetuk pintu kamar putri kesayangannya, untuk memastikan bahwa Shania yang memasak masakan sekedarnya saja. "Tumben anak itu masak. Terus itu sepatu siapa?" Ia masih bertanya-tanya dalam hati ketika matanya tertuju pada rak sepatu yang berada tidak jauh dari ruang tamu.


Mendengar suara sang Mama yang menggedor pintu kamarnya sejak tadi, bergegas Shania membuka pintu kamar, dengan balutan daster dan rambut yang terbungkus handuk.


Sumpah demi apapun, Widya ternganga lebar melihat putrinya yang langsung memeluk erat tubuhnya.


"Ma, Mas Oon pulang. Mas Oon sudah kembali untuk aku!" ucapnya dengan suara bergetar dan tangis yang tertahan.


Sontak mata Widya membelalak tidak menyangka bahwa Oon akan sekurus yang ada dihadapannya. Kepalanya menggeleng mengisyaratkan bahwa pria yang berdiri dibelakang putrinya bukan Oon.


Karena Oon yang Widya kenal, merupakan pria yang bertubuh subur bahkan jauh dari kata kurus.


"I-i-ini beneran kamu, On? Anak Putra? Ke-ke-kenapa kamu bisa jadi seperti ini? A-a-a-apa yang terjadi!?" tanya Widya terheran-heran.


Sungguh Widya tidak menyangka bahwa ia akan melihat Oon menjadi pria yang jauh dari kata buncit. Dia terlihat kurus dan matanya menyiratkan satu kesedihan yang teramat dalam.


Bagaimana mungkin, seorang anak laki-laki kesayangan yang selalu disayang oleh Mala, kini seperti terbuang dalam kemiskinan.


Widya hanya menelan ludahnya berkali-kali, ketika mendengar semua cerita Oon kenapa dia juga tidak pernah mengunjungi Shania.


Dengan demikian, Widya hanya bisa tersenyum dengan air mata yang tertahan dipelupuk matanya, sambil berkata, "Sabar. Ini ujian. Kamu akan mendapatkan rezeki yang berlimpah. Kalian bisa memulai dengan satu bisnis yang lain. Jangan terpaku pada satu ketenaran dan dunia keartisan. Semua itu semu, dan tidak akan pernah kekal. Kalian harus menciptakan satu kekuatan untuk kembali menata rumah tangga yang hampir berantakan. Lupakan Mala. Mama juga tidak masalah kalian tinggal di sini dulu. Kalian bisa menggunakan mobil Papa, untuk sementara waktu. Atau kalian mau tinggal di rumah kalian yang disini juga tidak masalah. Nanti Mama, yang akan menanggung biaya listrik dan semua kebutuhan rumah kalian. Setidaknya ini hanya masalah kecil," titahnya membuat Shania tersenyum sumringah.


Oon terdiam, wajahnya seketika hanya tersenyum lirih melihat Shania meringkuk dilengan Widya.


Sangat berbeda dengan Ahmad ketika melihat Oon begitu keluar dari kamar, setelah selesai melakukan ritualnya membersihkan diri ...


Ahmad menoleh kearah Oon, menatap lekat wajah pria yang duduk dihadapan istrinya, bertanya dengan nada tegas, "Oon? Sejak kapan kamu datang? Ke-ke-kenapa tidak pernah memberi kabar kepada kami?"


Shania menggeleng, berdiri mendekati sang papa agar tidak terlihat tengah mengintrogasi Oon yang berada dalam tekanan, "Pa! I-i-iya, Mas Oon baru bisa datang hari ini karena ada masalah yang dihadapinya sendiri!"


Ahmad tertawa kecil, mengejek putri kesayangannya, "Oh ... disaat dia sudah hampir sekarat, baru sadar jika dia sudah beristri!? Kamu anggap anak perempuan saya ini seperti apa? Kami ini punya harga diri! Kelakuan Mala sama sekali tidak bisa dimaafkan. Sekarang seenaknya kamu datang dalam keadaan susah dan meminta kembali dengan anak saya! Tiga bulan, On! Tiga bulan kamu gantung Shania tanpa tali!"


Oon menoleh kearah Ahmad menepis semua pikiran mertua laki-lakinya, "Ti-ti-tidak Pa! Oon benar-benar terkena musibah. Dan tidak tahu harus kemana. Ma-ma-maafkan Oon, karena tidak bisa memberi kabar kepada Shania, Pa."


Lagi-lagi Ahmad terdengar mendecih, "Terserah. Saat kami sudah cukup tenang, kamu datang lagi! Terus nanti pergi lagi, jika Ibu kamu menganggu rumah tangga kalian! Bagus cerai saja! Daripada terus-menerus seperti ini! Shania menikah untuk bahagia, bukan menangis setiap hari!"


Widya membentak keras Ahmad yang memiliki pemikiran picik seperti itu, "Pa ... Oon sudah kembali untuk istrinya, kenapa kamu jadi marah begini? Dia ini kenak musibah! Bukan ingin berpisah, tidak baik men-judge menantu kita seperti itu. Apalagi meminta dia menceraikan Shania. Jaga ucapan kamu, Pa!"


"Agh! Terserah! Yang pasti saya tidak suka jika dia datang seenaknya seperti saat ini. Disaat hidup anak kita mulai tenang, dia datang. Disaat anak kita berharap dia malah pergi! Rumah tangga seperti apa itu? Coba kamu menjadi seorang Papa seperti saya, On!" geramnya meninggalkan ruang keluarga itu menunju kamar.


BRAK ...


Entah mengapa, Ahmad tidak bisa terima kehadiran Oon. Hatinya benar-benar menangis meratapi nasib putri kesayangannya hanya karena Mala. Janda bukan, istri bukan, ditinggalkan selama tiga bulan tanpa kabar, tanpa nafkah, padahal tinggal dalam wilayah yang tidak begitu jauh, antara Bogor dan Depok, membuat ia selaku seorang papa untuk Shania tidak terima begitu saja.


"Dia pikir, dengan dia datang dalam keadaan sulit begini aku akan menerima begitu saja! Dia anggap apa anak ku! Terserah kalian saja, mau menerima anak bodoh itu atau tidak! Sesuai dengan namanya Oon! Tidak bisa dalam mengambil keputusan yang bijak sebagai seorang suami dan laki-laki yang bertanggung jawab. Untung belum ada anak, bagaimana jika sudah ada anak," umpatnya semakin menjadi-jadi.


Sementara diruang keluarga, Shania hanya bisa menahan rasa kecewanya terhadap makian Ahmad kepada Oon.


Widya lebih memilih menenangkan Ahmad, karena tidak ingin memberikan satu tekanan lagi terhdap menantunya tersebut, "Mama ngobrol dulu sama Papa, ya. Jangan terlalu dipikirkan, karena baru pulang. Kalian istirahat saja!"


Perlahan Shania mendekati Oon, mengusap lembut punggung sang suami. "Jangan dimasukin ke hati ya, Mas. Yang penting saat ini, kamu sudah kembali untuk aku. Besok aku ngomong baik-baik sama Papa. Mungkin Papa lagi capek, kita ke kamar lagi ya?"


Oon terdiam, wajahnya benar-benar memerah. Perasaan bahagia yang baru ia rasakan bersama Shania, kembali menorehkan luka, hanya bisa berkata pelan dengan sang istri dengan mata berkaca-kaca, "Maafkan Mas, Shan. Benar kata Papa kamu. Mas bukan laki-laki yang bertanggung jawab."