
Malam di Bandung, memiliki kesan pertama bagi Oon juga Shania dalam menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan suami-istri, yang kini tampak semakin mesra, bahkan wanita itu tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari genggaman pria buncit itu.
Mereka memasuki loby hotel, dengan membawa travel bag, dan satu paper bag, yang sengaja Shania persiapkan untuk makan malam di kamar bersama sang suami.
Oon tidak pernah membawa wanita seintens ini, untuk masuk ke sebuah hotel, membuat kedua-nya menjadi sorotan publik.
Bagaimana mungkin, kini Oon menggandeng tangan artis yang sudah lama menghilang bak di telan bumi, kini muncul bersama pria buncit yang merupakan produser film singkat FTV, sekaligus pemilik manajemen artis untuk para model iklan yang bertalenta.
Oon menerima sambutan dari pihak hotel, yang memberikannya card untuk memasuki suite room sesuai pesanannya.
"Selamat malam Mas Oon, Pak Beny sudah lebih dulu tiba dengan beberapa modelnya. Ini kunci room sesuai permintaan Mas Oon, tadi siang." Resepsionis menyerahkan card room dengan sangat ramah, sambil mengabadikan momen mereka.
Oon tersenyum, dia terus menggandeng tangan Shania yang tampak masih menundukkan wajahnya, tanpa mau menyapa pada siapapun.
Beberapa wartawan yang telah menunggu kedatangan para artis undangan, menghampiri Oon selaku produser yang bertangan dingin.
Salah satu wartawan memberanikan diri untuk menghampiri dan bertanya, "Selamat malam Mas Oon, apakah ini Shania Junianatha? Ada hubungan apa Mas Oon dengan Mba Shania, apakah kalian benar-benar sudah menikah?"
Oon tersenyum tipis, "Maaf yah ... Malam ini kita tidak terima wawancara dulu. Karena kami masih sangat lelah. Mungkin besok, kita akan bertemu dan mengadakan jumpa pers. Terimakasih, sekali lagi saya minta maaf ..."
Dengan langkah cepat, Oon menggenggam erat jemari tangan Shania, membawa istrinya untuk menghindari pertanyaan wartawan yang benar-benar mencari kabar tentang keberadaan wanita cantik nan angkuh itu.
Shania menghela nafas panjang, saat mereka memasuki lift, sambil memeluk tubuh subur suaminya, "Aku takut Mas, aku belum siap untuk bertemu mereka. Karena ..."
"Ssshht ... Mereka hanya rindu pada mu. Sudah, besok siang sebelum acara resmi kita bisa bertemu dengan mereka. Orang make-up juga sudah Mas persiapkan untuk kamu. Kamu pasti bisa menghadapi mereka. Ada beberapa poin penting yang akan Mas bahas sama kamu ..." jelasnya pelan.
Shania hanya membutuhkan Oon, bukan yang lain, itulah yang ada dalam benak wanita cantik itu.
"Mas, jujur aku enggak mau untuk melakukan kegiatan di luar lagi. Jika kamu merencanakan sebuah film untuk ku, aku tidak mau, Mas. Aku hanya ingin sama kamu, tidak mau yang lain. Kamu bisa mencari artis lain, jangan aku!" sungutnya tegas.
Oon terdiam, seketika ia tersenyum sumringah, "Berarti kamu siap memiliki anak dari Mas, sayang?"
Shania langsung menganggukkan kepalanya, tanpa mau berbasa-basi terkait apapun tentang dunia pekerjaan lainnya.
Sontak pernyataan Shania yang siap untuk menjadi Ibu dari anak-anaknya membuat Oon semakin bersemangat, dan merasa tersanjung. Ia bertanya sekali lagi dengan wajah berseri-seri ...
"Apa kamu yakin?"
"Hmm ..."
Tak menunggu lama, Oon menggendong tubuh ramping Shania sambil menyeret travel bag walau sedikit kesusahan dengan caranya.
"Sayang pegangan dulu, nanti jatuh," tawanya saat akan tiba di depan pintu kamar, namun kemesraan mereka dapat di lihat oleh Soraya yang ternyata akan keluar dari kamar yang berhadap-hadapan dengan kamar Oon.
"Mas ... Ternyata kamu benar-benar sudah siap di campakkan oleh Ibu mu sendiri?" hardik Soraya tanpa memikirkan perasaan Shania yang masih berada dalam gendongan suaminya.
Shania terdiam, dia menepuk lembut dada suaminya, dan kembali menghardik wanita cantik di hadapannya.
"Kenapa? Kenapa jika Mas Oon memilih aku sebagai istrinya! Sudah cukup lama aku diam, dan tidak bicara! Saat ini, kau sudah di ceraikan oleh Mas Oon, dan kau tidak ada hak atas kehidupan kami! Mau Mas Oon di campakkan oleh ibunya atau bahkan tidak di akuinya, Mas Oon is my husband, are you understand, ja-lla-ng!!!"
Soraya ternganga lebar mendengar penuturan Shania yang sangat mengejutkan, seketika ia membulatkan bibirnya, dan menjawab dengan lantang ... "Hoh ... Jadi kau telah mengakui bahwa Mas Oon suami mu? Bukankah kau tidak pernah bisa untuk mengakui bahwa dia suami mu? Dengar Shan, jika kau tidak mengakui bahwa Mas Oon suami mu! Maka aku yang akan melakukannya, karena sampai saat ini Mas Oon tidak pernah menceraikan aku, and Mas Oon is my husband, darling!!!" balasnya dengan senyuman melebar bahagia.
Namun Oon cepat menepis pernyataan Soraya, "Ti-ti-tidak, aku tidak pernah mengakui bahwa kamu istri ku! Kita hanya dekat beberapa waktu Soraya. Dan aku sudah menyatakan dihadapan Ibu ku, bahwa aku telah menceraikan mu, seperti yang aku katakan beberapa waktu lalu. Shania Junianatha istri sah ku! Dan sampai saat ini, masih menjadi istri ku!"
"Mas!" pekik Soraya tidak menyangka bahwa dia benar-benar di campakkan begitu saja oleh seorang produser, yang selama ini memberikannya pundi-pundi uang yang berlimpah.
Shania tertawa kecil mendengar penuturan suaminya, "See ... I'm the winner baby ... Hmm!"
Dengan langkah cepat Shania membalikkan badannya, menarik tangan Oon yang masih menatap tajam kearah Soraya.
Pintu kamar terbuka lebar, tanpa memikirkan perasaan Soraya yang masih berdiri di depan pintu kamar mereka dengan cepat Shania menyambar bibir Oon dihadapan gadis yang pernah menikah dengan suaminya, atas permintaan Mala.
Soraya terdiam, dadanya semakin terasa sangat sesak, bahkan tak punya kuasa untuk melakukan apapun. Dilema, hanya itu yang ada dalam benaknya saat ini.
Sementara itu, Shania menutup pintu kamar menggunakan kakinya, sambil melambaikan tangan ketika memperlihatkan kemesraannya dengan Oon tanpa perasaan sungkan ataupun bersalah ...
Entahlah, dua wanita cantik itu kini benar-benar ingin bersaing mendapatkan Oon. Soraya dengan dukungan Mala, sementara Shania harus berjuang sendiri untuk menaklukkan hati pria jelek tersebut.
Tak menunggu lama, Soraya menghubungi Mala melalui sambungan telepon, membuat wanita paruh baya itu murka seketika ...
[Apa!! Oon semakin mesra dengan wanita jallang itu]
[I-i-iya Bu. Mereka semakin mesra, bahkan Mas Oon sudah menyatakan bahwa ia menceraikan aku. Bagaimana ini, Bu ...]
Rengekan manja Soraya, membuat Mala semakin berang dan geram. Bagaimana mungkin putra kesayangannya bisa tunduk pada Shania Junianatha, yang terkenal dengan kasus perselingkuhannya, bahkan masih melekat dalam benaknya tentang predikat pelakor pada wanita berusia 23 tahun itu.
"Dasar jallang, dia benar-benar jallang yang sesungguhnya! Sehingga dia berani melakukan apa saja untuk melawan aku ..."
[Soraya sayang, kamu kabari Ibu jika kalian sudah kembali ke Jakarta. Karena Ibu tidak bisa untuk menyusul kalian kesana. Kamu tahu sendiri, keadaan Ibu di sini hanya di temani pembantu. Lagian itu acara resmi, Ibu tidak mau membuat onar di sana ...]
Mendengar penuturan seperti itu, Soraya menangis tersedu-sedu ...
[Ternyata tidak ada yang bisa membantu aku saat ini, Bu ...]
[Tenang sayang, Ibu akan melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh jallang itu ... Kamu tenang yah, Nak ...]