
Tiga hari sudah Shania Junianatha mendapatkan perawatan intensif, yang ditemani oleh kedua orang tuanya, Ahmad juga Widya.
Sudah dua hari juga Oon tidak datang ke rumah sakit, karena melihat kedua orang tua Shania berada di sana.
Sejak Shania dan Oon, berbaikan beberapa waktu lalu, pria buncit itu memang sengaja menutup semua akses untuk Shania bertemu dengan kedua orangtuanya, serta Ibu-nya Mala.
Akan tetapi, semua yang di tuduhkan Shania pada Mala, membuat Oon memilih mendatangi kediaman Ibu-nya, seketika ...
BRAAK ...!
Mala membentak meja makan dengan sangat keras, membuat Oon terlonjak kaget.
"Apa!! Kamu menuduh Ibu yang menyakiti Shania? Kamu lihat bagaimana istri kamu itu memfitnah Ibu dengan keji. Bagaimana mungkin Ibu akan tega melakukan itu semua pada jallang itu! Lebih baik Ibu tidur di rumah dan menjaga kesehatan. Apalagi Ahmad telah membayar hutangnya, jadi Ibu bebas untuk melakukan apa saja di rumah ini!" tawanya menyeringai kecil.
Oon menundukkan kepalanya, dia tidak ingin membuat Ibu-nya semakin murka dan bertindak lebih kasar kepadanya.
"Ma-ma-maafkan Oon, Bu. Oon hanya bertanya, apakah benar Ibu yang melakukan hal keji itu pada Shania. Shania lagi hamil, Bu ... Dia hamil anak Oon. Cucu Ibu ... Jadi tolong jangan ganggu kesehatan istri Oon. Karena Oon tidak ingin terjadi apa-apa padanya," jelasnya.
Akan tetapi, Mala sama sekali tidak mau mengerti dan membuka pintu maafnya untuk Shania. Ia justru mengancam Oon, karena akan tetap menceraikan putra kesayangannya dengan wanita jallang tersebut.
"Berarti kamu mau melanjutkan pernikahan ini, On? Kamu harus tahu, bahwa kamu pria yang kesekian kalinya telah tidur dengan Shania Junianatha. Apa kamu lupa, dia telah tidur dengan suami orang? Dan tidak mungkin yang ada dalam kandungan Shania itu anak kamu!" tegasnya sarkastik.
Oon menggelengkan kepalanya, dia sangat yakin bahwa Shania telah menyerahkan seluruh hidupnya pada pria masih terlihat subur itu. Justru tuduhan yang selama ini di tujukan pada Shania, tidak benar adanya. Oon mendapatkan semua dari Shania, termasuk kesuciannya pada malam pertama mereka setelah enam bulan pernikahan.
"Bu, jaga ucapan Ibu. Shania itu wanita baik-baik. Dia tidak pernah melakukan apapun di luar sana. Oon suaminya, dan Oon yang tahu, Bu!" ucapnya menatap lekat mata Mala.
Namun Mala tetap teguh pada pendiriannya, "Tidak! Tidak mungkin Shania itu masih suci. Ditambah kelakuan dia yang menjadi seorang pelakor, On. Kamu hanya laki-laki bodoh, yang telah di tipu habis-habisan oleh wanita itu. Kamu tahu, bahwa Shania itu pelakor, dan tidak akan pernah menjadi seorang ibu ataupun istri yang baik untuk anak kamu. Lebih baik kamu menceraikan nya, daripada kamu harus melawan Ibu, On!"
Oon tampak seperti memikirkan sesuatu, ia tidak ingin melepaskan Shania, karena pernikahannya akan membawa kebahagiaan dengan kehamilan pertama istri tercinta.
"Tidak Bu! Oon tidak akan pernah menceraikan Shania. Dia istri Oon, dan dia lagi hamil anak Oon. Tolong Ibu mengerti dengan semua masalah kami. Oon sangat mencintai Shania, begitu juga sebaliknya. Dan Oon yakin, Soraya lah yang telah mengirimkan orang untuk menyakiti Shania!" geramnya, mengepal kuat tangannya.
Mala menyunggingkan senyuman lirih, ia sama sekali tidak menyangka bahwa putranya sangat bodoh dan masih mau mempertahankan rumah tangga yang sama sekali tidak di restui orang tua.
"Oon anak Ibu?" tanyanya menatap lekat iris mata putra kesayangan, demi merebut kembali hati sang puta ...
Oon mengangguk pelan.
Mala melanjutkan ucapannya, "Baik ... Jika kamu memang anak Ibu. Maka, talak Shania Junianatha binti Ahmad Cirendeu detik ini juga. Karena Ibu tidak ingin berdebat dengan kamu. Jika kamu tidak menceraikan Shania, berarti kamu lebih memilih wanita jallang itu menjadi pengganti Ibu. Sekali lagi Ibu tegaskan, jangan pernah datang ataupun menginjakkan kaki di kediaman Ibu. Karena Ibu telah kecewa sama perbuatan kamu, Oon!"
Mala ternganga lebar mendengar pernyataan putra kesayangannya. Bagaimana mungkin Oon sama sekali tidak mengindahkan permintaannya sebagai Ibu kandung.
"Ingat On, surga mu ada di telapak kaki Ibu! Bukan di kaki Shania!" hardiknya lagi.
Oon masih saja menggelengkan kepalanya, "Oon permisi! Selamat siang!!"
Oon berlalu meninggalkan kediaman Mala, membawa semua kesedihan yang ada dalam hatinya, membuat ia harus berpikir keras, siapa pelaku yang tega mencelakai istrinya Shania Junianatha.
Sementara, Mala semakin mencaci-maki Shania, bahkan merencanakan sesuatu yang akan mencelakai menantunya, serta janin yang ada dalam kandungan Shania.
"Dasar jallang! Kau pikir, aku mau mengalah begitu saja. Kau rebut hati anak ku, dan saat ini kau menghasut Oon agar melawan aku ... Kau akan menerima siksaan dari aku Shania Junianatha ...!" tawanya menyeringai bak iblis yang tidak pernah memiliki perasaan belas kasih.
.
Diruangan perawatan, Shania masih merasakan pusing akibat benturan di wajahnya. Kedua orang tua wanita itu merutuki semua perbuatan Mala terhadap putri kesayangan mereka.
Ahmad menangis di samping putri kesayangannya, sambil berkata ...
"Maafkan Papa, Nak. Papa telah salah menikahkan kamu dengan pria yang memiliki Ibu berhati iblis itu. Cepat sembuh Shan. Dan Papa akan menjaga kamu hingga kamu melahirkan ..."
Shania menganggukkan kepalanya, kali ini ia sudah kalah, dan tidak ingin berjuang lagi untuk Oon. Pria yang sangat menyayangi dan menjadikannya ratu dalam waktu hitungan bulan, harus menelan pil pahit karena kebencian Ibu mertua padanya.
Widya mendekati Ahmad, ia lagi-lagi tidak kuasa untuk mengatakan pada putri kesayangan, bahwa kini mereka telah tinggal di sebuah rumah biasa saja, dan jauh dari kata mewah ...
"Pa ... Sudahlah, jangan terlalu larut dalam permainan Mala. Wanita itu memang picik sejak dulu. Mama sudah mengetahuinya, dari omongan beberapa tetangga. Sekarang kita hanya bisa melindungi anak kita dari serangan Mala. Bisa jadi saat ini dia tengah merencanakan sesuatu perbuatan yang keji untuk anak kita," ucapnya dengan nada bergetar.
Ahmad mengangguk membenarkan ucapan sang istri, dengan menatap iris mata Shania yang masih ada bekas merah di kelopak matanya ...
"Papa sudah membayar semua hutang-hutang kita pada Mala, dengan menjual rumah kita. Dan Papa telah membeli rumah sederhana, tapi cukup untuk keluarga kita, Shan. Papa akan menjaga dan merawat cucu Papa, jika kamu benar-benar ingin berpisah dari Mas Oon," jelasnya pelan.
Lagi-lagi Shania hanya bisa menangis, meratapi nasib pernikahannya, karena ketidaksukaan Ibu mertua padanya ...
"Ta-ta-tapi Shania mencintai Mas Oon, Bu. Sampai kapanpun Mas Oon akan selalu menjadi kebanggaan, Shania. Dia pria yang baik. Shania enggak bisa pisah karena saat ini mengandung anak Mas Oon. Tapi Shania takut sama Ibu Mala ..." tangisnya kembali terdengar, ketika terlintas dalam benaknya, Mala menyiksanya hingga harus terbaring di rumah sakit seperti saat ini ...
"Mas ... Maafkan Shania ..."