
Melihat satu bungkus rokok mentol, dan jajanan kecil yang diperiksa Oon, membuat pria bertubuh subur itu menghela nafas dalam-dalam. Bagaimana mungkin, Shania masih belum bisa melupakan kebiasaan merokoknya, dan membuat Oon hanya bisa menahan amarahnya.
"Ke-ke-kenapa kamu tidak membeli minyak goreng, Shan? Kenapa malah membeli rokok. Kamu harus tahu bagaimana kesehatan kita ... Ingat Shan, tinggalkan kebiasaan buruk mu, ji-ji-jika ingin hidup bersama Oon!" tegasnya saat memasuki kediaman mereka.
Shania hanya memajukan bibirnya, kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena harus melakukan sesuatu yang tidak ia sukai, yaitu sebagai wanita yang sibuk dalam mengurus rumah tangga.
Shania menjawab celotehan Oon, "Iya, tapi sesekali enggak apa-apa kan, Mas! Lagian selama ini aku merokok enggak ada perubahan yang berarti pada kesehatan aku! Kamu seperti anak kecil, terlalu banyak aturan," sesalnya menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu, sambil menatap layar laptop yang masih menyala diatas meja.
Oon hanya menggelengkan kepalanya, kali ini iya tidak ingin berdebat panjang, hanya karena sebungkus rokok.
Pria bertubuh subur itu, mengambil kunci mobil, dan menoleh kearah Shania, sambil bertanya, "Kamu mau ikut ke supermarket? Kita beli bahan makanan, dan mulai saat ini kamu yang mengurus semua kebutuhan aku! Karena mulai besok, aku sudah aktif lagi di kantor. Tidak mungkin aku meninggalkan kantor, karena semua projek ku semakin banyak tuntutan!"
Shania menelan ludahnya berkali-kali, memilih berdiri agar lebih dekat dengan Oon. Bagaimana mungkin ia harus tinggal di rumah ini sendirian, dan mengurus semua kebutuhan suaminya seorang diri.
"Mas, aku enggak bisa masak. Aku enggak mau," tolaknya dengan wajah murung.
Oon menggelengkan kepalanya, kali ini ia benar-benar berang melihat tingkah istrinya, "Kamu bisa belajar lewat youtube, Shan. Tidak harus menunggu aku yang melakukannya! Kamu sebagai wanita, sekaligus istri dan bakal jadi ibu dari anak ku! Tidak mungkin aku yang melakukannya semua sendiri. Handphone milik ku, juga masih sama kamu, dan kamu bisa mendownload semua resep masakan di sana. Please Shan ... Tuntutan kamu banyak, tapi kamu tidak mau di tuntut! Istri seperti apa kamu hmm?"
Kedua bola mata Shania membulat seketika, bibirnya ternganga lebar, "Kita menikah karena pemaksaan, Mas!! Dan bukan atas dasar cinta, kalau kamu mau di masakin, diurusin, kenapa kamu tidak menikahi pembantu atau Ibu mu!"
PLAAK ...!
"Aaugh Mas ..." Shania terdiam, ia mengusap wajahnya yang terasa memanas, saat menerima tamparan dari tangan Oon untuk pertama kalinya.
Oon benar-benar menampar wajah Shania karena tak mampu menahan amarahnya ...
Kedua insan itu saling menatap, dan menantang. Bahkan tidak ada lagi perasaan kasihan atau apapun dihati Oon untuk Shania.
Oon menunjuk kearah wajah Shania, "Dengar, jika bu-bu-bukan karena aku ingin bertanggung jawab padamu, mungkin aku sudah meninggalkan mu, sesuai perintah Ibu ku, Shania! Dari awal kita menikah, kamu sama se-se-sekali tidak pernah hormat dan tu-tu-tu-tunduk pada ku sebagai suami.
Tak mampu berkata-kata lagi, Shania menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka bahwa Oon akan memperlakukannya kasar seperti saat ini. Ia kembali terduduk di sofa, dengan menutup wajahnya, tanpa mau mendengar permintaan maaf dari Oon.
"Shan ... Ja-ja-jangan nangis, Oon minta maaf. Oon mohon, jangan pernah berkata-kata kasar lagi. Oon ini suami kamu, Shan. Oon benar-benar tidak suka kamu membawa-bawa nama Ibu, jika kita ada masalah. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Oon, Shan. Oon cinta sama kamu, tapi sampai saat ini kamu tidak pernah menghargai semua jerih payah Oon. Tolonglah, melunak sedikit Shan. Oon sudah melakukan semua keinginan Shania, tapi kenapa kamu tidak pernah berubah. Berkata-kata kasar, ditambah merokok, dan kamu terus mengeluh. Jika kita tinggal di rumah ini, memang salah? Oon ingin sekali hidup berdua dulu, tanpa ada yang mengetahui bagaimana keberadaan kita. Tolong Shan, mengertilah ..."
Shania hanya bisa menangis sesenggukan, namun Oon langsung memeluk tubuh ramping istrinya tersebut.
Maka dari itu, saat Shania menjawab dan menyebut Ibu-nya, Oon seakan-akan tidak rela, karena bagi pria itu, Mala sudah banyak melakukan hal yang sangat baik untuk hidupnya selama ini.
Tangan kanan Oon masih memeluk Shania, kembali mengecup kening istrinya, berusaha menguatkan kembali dengan menatap wajah cantik sang artis Shania Junianatha.
"Mas mohon maaf, Mas janji tidak akan pernah melakukan hal yang kasar sama kamu. Saat ini kita sama-sama dalam tekanan, Shan. Karena keadaan kita tidak seperti dulu. Ibu masih mencari cara untuk memisahkan kita, aku mohon, kamu sebagai istri tolong jangan berkata-kata kasar lagi. Kita ini suami istri, Shan ..."
Shania mengangguk patuh. Kali ini ia harus mengikuti semua perintah Oon, demi kelangsungan hidupnya. Walau sangat menyakitkan, namun harus ia lakukan demi menyelamatkan status sebagai seorang istri walau dengan terpaksa.
Oon mengusap wajah cantik Shania, menyeka air mata yang sudah mengering, mengajak wanita itu menuju supermarket untuk membeli semua kebutuhan rumah tangga sesuai keinginan Shania selaku nyonya rumah, dikediaman kecil itu.
Sepanjang perjalanan, Shania hanya diam, mencari keberadaan masker yang ada di jok belakang, sesekali melirik kearah Oon, dengan wajah menekuk merah.
Oon yang menyadari bahwa istrinya tengah mencuri perhatiannya, langsung merangkul bahu Shania saat mengemudikan kendaraannya.
"Maafkan aku, yah. Aku harap kita bisa memperjuangkan pernikahan ini bersama-sama ..."
Shania menganggukkan kepalanya, mengenakan masker, saat mobil memasuki pusat perbelanjaan yang tidak begitu jauh dari kediaman mereka.
Shania bertanya dengan suara pelan, "Mas ... Aku boleh beli apa saja, kan?"
Oon mengangguk, "Ya, kamu beli apa saja yang kamu butuhkan. Sekalian kita nanti mampir ke toko seluler untuk membeli handphone terbaru buat kamu. Dengan syarat, kamu tidak boleh menjalin komunikasi dengan siapapun. Selama satu tahun ini kamu harus menahan diri, agar tidak terlihat oleh wartawan atau siapapun. Kamu mengerti?"
Lagi-lagi Shania hanya bisa mengangguk patuh. "Hmm ... Bagai burung didalam sangkar. Hidup berkecukupan, namun tidak bisa melakukan apapun diluar sana ..." geramnya dalam hati.
.
Di apartemen yang luas, Mala tengah berteriak keras dengan suara menggelegar lantang di tengah-tengah ruang keluarga sambil membentak Darmi.
"Dimana Oon! Katakan pada ku, jika tidak, kau akan jatuh miskin di luar sana!"
Darmi mendongakkan wajah lelah itu, mengatup kedua tangannya, berbicara seraya memohon ... "Ma-ma-maaf Nyonya, saya tidak tahu dimana Mas Oon. Karena mereka pergi lima hari yang lalu, setelah makan siang dan membawa travel bag. Saya pikir mereka tengah berbulan madu, karena sudah tidur bersama," jelasnya.
Mala tertawa mengejek, mendelik tajam menatap nanar kearah Darmi, menyunggingkan senyuman tipis sambil berkata, "A-a-apa!!! Bulan madu? Tidur berdua? Astaga ... Ternyata artis jallang itu menjebak anak ku! Jallang brengsek, sudah jadi pelakor, malah merebut Oon dari ku!"