Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Menjual putri mu ...



Di kediaman Ahmad Cirendeu, ia tengah bernegosiasi dengan salah seorang pengusaha yang akan membeli rumah sekaligus perabotan rumah tangganya.


Entahlah ... Kini Ahmad tidak ingin melanjutkan perdebatan panjangnya dengan Mala yang kini sudah menjadi besan. Ia sama sekali tidak memikirkan untung ataupun rugi, demi menyelamatkan rumah tangga Shania Junianatha dari serangan Mala yang berniat menceraikan mereka berdua.


Ahmad bertanya pada Hendro yang merupakan langganannya di toko textile miliknya, "Bagaimana Pak? Apakah angka yang kami tawarkan cocok untuk Anda?"


Hendro mengangguk setuju, "Saya rasa tidak ada masalah. Tujuh milyar itu sangat masuk akal untuk bangunan seluas dan semegah ini. Kalau boleh tahu, kenapa di jual Pak? Bukankah Shania sudah memiliki penghasilan sendiri?"


Ahmad hanya menelan ludahnya sendiri, melirik kearah Widya, "Ada beberapa yang harus saya selesaikan dengan beberapa rekan bisnis saya yang lama. Mungkin saya akan membeli rumah sangat jauh dari sini," jelasnya pelan.


Hendro mengangguk mengerti, "Jadi kapan kita akan menyelesaikan semuanya? Saya bisa mendapatkan Pak Ahmad melunasi rumah ini segera. Karena saya dan anak-anak akan segera menempati kediaman ini secepatnya. Kebetulan lusa istri saya tiba dari Australia."


Tanpa menunggu lama, Ahmad mengangguk setuju. Mereka bergegas mengambil beberapa berkas asli sebagai kepemilikan yang sah, dan bergegas menuju kantor notaris.


Hendro bukanlah tipe orang yang mempersulit proses apapun, karena ia memang menyukai perumahan elite itu sejak lama, namun belum ada yang cocok di hatinya.


Kini, kediaman kecil Shania yang tampak kokoh, bahkan sangat terawat itu, segera menjadi miliknya, dengan harga yang cukup baik. Tentu jauh dari harga pasaran yang di tawarkan oleh pihak developer padanya.


Hanya butuh waktu empat jam, bagi mereka untuk menyelesaikan semua administrasi jual beli antara Ahmad dan Hendro yang disaksikan oleh Widya serta dihadapan notaris yang mereka percayai.


"Terimakasih Pak Hendro. Saya harap, rumah itu membawa keberkahan untuk keluarga Anda. Beri saya waktu untuk berbenah, sesuai perjanjian kita, dan saya akan menghubungi Anda jika sudah selesai. Paling tidak dalam waktu dua minggu, saya akan menghubungi Anda," jelasnya.


Hendro mengangguk setuju, mereka berpisah, setelah saling memberi dan menerima uang secara utuh sebesar tujuh milyar.


Widya bertanya pada Ahmad, "Pa ... Hutang kita sama Mala hanya satu setengah milyar. Tidak mungkin kita akan membayar bunga yang tidak masuk akal itu Pa ... Paling tidak dua milyar, Mama ikhlas. Tapi jika empat milyar, sama sekali tidak masuk akal, Pa! Mama ingin kita membeli rumah biasa saja. Karena Mama ingin kita hidup dalam kesederhanaan, tidak ingin bermewah-mewah seperti dulu. Lagian toko kita, juga semakin sepi," tunduknya, dengan mata berkaca-kaca.


Ahmad mengangguk, ia melajukan kendaraannya menuju kediaman Mala, untuk menyelamatkan semua hutang-hutangnya. Karena tidak ingin berdebat panjang, sehingga mengorbankan perasaan putri kesayangan mereka.


Mobil Ahmad terparkir di pinggir jalan kediaman Mala, yang tampak asri dan sangat terawat. Kedua orang tua Shania turun dari mobil mereka, menuju rumah wanita bengis yang selalu menghina mereka berdua.


Pembantu rumah tangga yang masih muda itu, membuka pintu lebar ... "Eeh ada Pak Ahmad. Sebentar Pak, silahkan masuk dan duduk dulu, Nyonya lagi ada di kamar," jelasnya mempersilahkan Ahmad juga Widya duduk di sofa ruang tamu yang tersedia.


Widya yang masih menekukkan wajahnya, karena perasaan kesal serta kecewa hanya datang untuk menyelesaikan semua tanggung jawabnya, dan berlalu meninggalkan kediaman keluarga wanita angkuh tersebut.


Cukup lama mereka menunggu, Mala datang dengan langkah malas dan tatapan mata penuh kebencian ...


Tanpa basa-basi, Ahmad meletakkan uang tunai sebesar dua milyar, yang berada di dalam satu kantong plastik hitam besar, tanpa pengawalan.


"Ini yang bisa saya serahkan pada mu, Mala. Saya harap setelah ini, kita tidak ada urusan lagi! Karena aku telah melunasi semua hutang ku pada mu! Walau sesungguhnya, aku berhutang pada Putra suami mu, tapi kamu merupakan istrinya, sekaligus ahli waris Putra. Dua milyar, aku rasa sangat cukup, karena aku menggunakan dana Putra hanya satu setengah milyar," tegasnya.


Mala bergidik, menyunggingkan senyuman tipis namun penuh arti, "Kau pikir aku akan menerima semua ini begitu saja? Bagaimana dengan ginjal Oon? Yang telah menyelamatkan nyawa putrimu, hah ...!"


Widya menyela ucapan Mala, "Dengar jeng, Oon yang ikhlas memberikan kehidupan untuk Shania. Dan sesuai perjanjian kita, kami akan menyerahkan anak kami pada Oon. Semua sudah kami lakukan jeng!" tegasnya.


Mala menegaskan pada dua orang tua Shania, tanpa sungkan, "Oooh ... Jadi kau mau menjual putri mu yang sudah tidak suci lagi pada putra ku? Aku meminta putri mu untuk menggugat cerai Oon! Bukan hidup bersama dengan putra kesayangan ku! Apalagi Shania tidak perawan untuk Oon!!"


Ahmad yang tidak terima atas penghinaan Mala, justru mendobrak meja dengan sangat keras ...


BRAAK ...!


"Jaga ucapan mu, Mala! Yang tahu Shania tidak suci lagi itu hanya Oon. Aku lihat mereka saat ini sangat bahagia, dan aku tidak yakin bahwa mereka akan berpisah. Sudah cukup kamu menginjak-injak keluarga ku. Aku sudah cukup terhina dengan sikap mu!" tegasnya sarkastik.


Mala menghentakkan kakinya dilantai, berdiri tegap dan berkacak pinggang, "Pergi kalian dari kediaman ku! Apapun yang terjadi saat ini, aku tidak pernah menerima putri mu menjadi istri dari putra kesayangan ku, Ahmad. Aku akan memisahkan mereka, apapun caranya! Camkan baik-baik!! PERGI!!" teriaknya lantang.


Widya menantang nanar kedua bola mata Mala, wanita yang selama ini ia anggap baik, ternyata berhati setan, bahkan lebih kejam dari bayangannya.


"Jadi berapa lagi yang harus aku bayar pada mu! Tapi ingat, jika kau masih mengganggu kebahagiaan putri ku, aku yang akan menuntut mu Mala!" tantangnya.


Mala tertawa mengejek, mendelik tajam menatap nanar dua orang yang sangat menjijikkan baginya, "PERGI!!! Aku tidak akan pernah bisa menerima putri mu sebagai menantu, tidak akan pernah!!!"


Widya menarik tangan Ahmad, berlalu meninggalkan kediaman Mala, tanpa mau berdebat lagi. Karena melawan wanita paruh baya itu tidak akan ada jalan keluarnya ...


"Sial, kita datang baik-baik ... Malah dia memperlakukan kita sangat buruk. Aku akan melakukan apapun jika dia benar-benar membuat onar pada rumah tangga Shania dan Oon!" geram Widya sepanjang perjalanan menuju mobil mereka.


Kali ini tidak ada pilihan, keluarga yang dulu tampak harmonis, kini harus menelan pil pahit dalam kekecewaan hanya karena semua fitnah yang beredar diluar sana.


"BRENGSEK, KAU AKAN MENYESAL AHMAD!!!"