
Seperti yang ada dalam benak Shania, dia tidak ingin berdebat di pagi hari, walau sesungguhnya dirinya sangat merindukan sang suami.
Entah mengapa, setiap dirinya bersitatap dengan sang suami, wajah Mala sang ibu mertua melintas dalam benaknya. Ada perasaan iba dihati Shania, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kali ini cara itulah yang membuat dirinya nyaman untuk membalas dendam secara pribadi terhadap Mala.
Cara balas dendam seperti apa itu? Pastinya, dalam benak Oon sebagai pria biasa sedikit terkejut atas niat balas dendam sang istri.
Ya, sifat Shania yang penurut terdapat sifat dendam didalam hatinya untuk membalas perbuatan Mala melalui Oon. Dia justru tengah berpikir, bagaimana caranya untuk menghasut sang suami, agar tidak seenaknya meminta mereka bercerai lagi dan akhirnya menyakiti Shania seperti beberapa waktu lalu.
Shania berusaha beranjak dari atas tubuh suaminya, kemudian tersenyum tipis, dan membantu Oon untuk duduk di lantai dapur mini rumah kecil mereka.
"Mas ngapain sih?" sesalnya dengan wajah mengkerut dan kedua alis menyatu.
Oon menggelengkan kepalanya, dia menunjukkan satu kotak kecil perhiasan yang berisikan gelang emas bertuliskan nama Shania.
"Nih ... kemaren Mas pesan di toko langganan. Kamu pakai, yah?"
Shania menggeleng ragu, tapi dia menerima pemberian suami dengan memberikan pergelangan tangannya untuk segera di sematkan.
"Pakaiin dong. Apa kalau seorang suami memberi perhiasan sama istri, mesti aku yang pakai sendiri," tawanya menyeringai kecil langsung duduk dipangkuan Oon tanpa aba-aba.
Oon yang tidak kuasa menahan hasrat sebagai seorang suami, langsung mellumat bibir Shania yang ada dihadapannya, setelah menyematkan gelang halus tersebut dipergelangan sebelah kiri sang istri.
Tentu serangan seperti itu, membuat jantung Shania sedikit memompa lebih cepat, karena tergoda dengan aroma yang menyeruak di hidungnya.
"Mashh ..." Tangan mulus Shania mendekap erat tubuh sang suami, tapi lagi-lagi penciuman mereka terganggu.
"Mas," Shania menoleh kearah belakang, melihat kearah teflon berisikan omlet, mengeluarkan asap tebal, yang sangat mengerikan.
Secepat kilat, Oon menurunkan sang istri dari pangkuannya, untuk mematikan kompor yang ternyata masih menyala.
"Ka-ka-kamu kenapa enggak kasih ta-tahu kalau lagi masak, Shan! Bagaimana kalau kita sama-sama lupa. Mana dirumah belum ada racun api. Sudah bersiap-siap, kamu ikut sama Mas. Hari ini mau tanda tangan akte jual beli," sesalnya langsung berlalu menuju kamar, karena enggan untuk berdebat lagi.
Shania yang masih menggenggam erat spatula, merasa bersalah atas kecerobohannya. "Ta-ta-tapi bukan salah aku sepenuhnya dong, Mas. Apapun alasannya kita memang tidak boleh diam-diam seperti ini terlalu lama ..."
Bergegas Shania meletakkan spatula diatas meja kompor, kemudian berlari kencang mengejar suami yang terlihat kesal, untuk melanjutkan permainan mereka yang tertunda barusan.
"Mashh ... maaf ..." rengeknya kembali mellumat bibir tebal nan seksi itu tanpa permisi.
Oon yang sangat merindukan sentuhan Shania, tidak banyak bicara. Keduanya benar-benar saling merindukan dan membutuhkan saat ini.
Lebih dari dua jam mereka menghabiskan waktu bersama didalam kamar yang berantakan itu, membuat Oon berniat berniat untuk membawa Shania ikut bersamanya menemui wanita yang menghubunginya tadi malam.
Shania telah bersiap-siap, dengan wajah tampak lebih berseri-seri, dengan gelang indah yang menjadi kebanggaannya melekat di tangan mulus itu.
Tak banyak menolak, Oon menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia tersenyum tipis menatap wajah Shania dari arah pantulan cermin, akan tetapi sedikit bekas luka itu di bagian pelipis juga hidung yang bengkok, mengganggu pemandangannya sebagai pria normal.
Benar saja, Oon bergumam dalam hati, "Pantas Shania tidak ingin keluar rumah, karena wajahnya benar-benar rusak karena ulah Ibu ..."
.
Sementara itu, disudut kota metropolitan, tengah duduk seorang wanita paruh baya yang melakukan perawatan khusus seperti wanita lainnya.
Tidak mau kalah, layaknya seorang wanita cantik terawat, Mala melakukan beberapa treatment untuk menolak kulit yang tampak kendur, tak sekencang dulu.
Wajar saja, usia sudah memasuki kepala enam, tentu dia ingin mencari kesenangan tersendiri melakukan apapun yang ia inginkan karena harta almarhum suaminya masih banyak, dan tidak akan habis begitu saja.
Tanggung jawab Oon sebagai seorang suami yang selalu memberikan kewajibannya, membuat Mala semakin besar kepala dan yakin bahwa suatu saat nanti anaknya akan berpisah dari Shania Junianatha.
"Wah ... pagi-pagi sekali Ibu sudah berada di tempat kami," goda resepsionis ketika melihat kehadiran Mala, menyambangi rumah kecantikan ternama itu.
Tampak wajah angkuh seorang Mala, tersenyum tipis, melihat-lihat list buku, sambil memikirkan treatment apa yang harus ia lakukan untuk menarik perhatian salah satu produksi film yang kini mengganggu perasaannya sebagai janda yang lanjut usia.
Jari telunjuk Mala tertuju pada treatment kecantikan yang akan ia lakukan dan memakan waktu perawatan lebih kurang sembilan jam. "Ini saja ..."
"Baik Bu, ada lagi?"
Mala menggelengkan kepalanya, kembali duduk di kursi semula.
Melihat treatment yang menjadi pilihan Mala, sontak gadis muda itu melebarkan senyumnya, memasukkan data Mala yang akan di tangani oleh petugas rumah kecantikan yang sangat terampil.
Jemari Mala melihat status profil putra kesayangannya, yang menunjukkan kemesraan seorang suami sambil mencium pipi Shania didalam mobil, membuat amarahnya kembali meledak.
"Sial ... ternyata mereka masih terus bersama. Pantas saja, Oon tidak mau menemui aku. Rupanya karena dihasut oleh anak yang tidak tahu diri ini? Dasar jallang tidak tahu diri, berani-beraninya dia menunjukkan pemberian anak ku ..." geramnya.
Mala benar-benar tidak terima dengan semua perlakuan Oon terhadap Shania, walau mereka masih sah sebagai suami istri. Tujuannya hanya satu, memisahkan Shania dan Oon karena tidak ingin memiliki menantu yang sudah tidur dengan pria lain, karena terlanjur mencoreng nama baik keluarganya.
Tak lama Mala menggeram kesal, karena status whatsApp sang putra, seorang pelayan yang akan menangani treatment wanita paruh baya itu menghampirinya.
"Mari Bu Mala, kita keruangan khusus. Nanti dokter spesialis yang akan menangani Ibu," jelasnya sambil memberikan satu paket kain ganti untuk melakukan perawatan.
Mala menghentakkan kakinya, beranjak dari tempat duduk mengikuti langkah gadis itu, untuk masuk keruangan khusus tempat perawatan.
Dalam benak Mala masih berkecamuk, kali ini dia harus melakukan sesuatu sebelum semua terlambat. Ia sudah berhasil melukai wajah Shania, juga menggugurkan kandungan menantunya itu bahkan menikahkan Oon dengan Soraya namun gagal, kini ia harus mencari cara untuk memisahkan Oon dan Shania dengan cara lain.
"Jangan kau pikir akan bisa merebut hati anakku wanita jallang. Kau akan menyesal seumur hidup mu, telah melanjutkan pernikahan kalian. Apapun harus ku lakukan, karena aku tidak ingin memiliki cucu dari keturunan Ahmad ...!"