Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Di tipu



Hari berganti hari, tiga bulan telah berlalu, kini dua insan suami istri Oon dan Shania memilih menenangkan diri di kediaman orang tua masing-masing, setelah mengalami perdebatan panjang selama perjalanan menuju kediaman mereka di Bogor.


Tidak menyangka, demi menyelamatkan Shania dari serangan Mala yang tidak pernah menemukan titik terang untuk berdamai. Oon justru langsung mengantarkan Shania menuju rumah orangtuanya.


Entah apa yang menyebabkan Mala hingga saat ini sangat membenci menantunya itu, sehingga tidak ada kata maaf yang terucap dari bibir wanita paruh baya untuk Shania.


Perlahan Shania keluar dari kamarnya, yang tidak semewah dulu. Dengan langkah gontai ia menuju dapur untuk mengambil makanan kecil hanya sebagai pengganjal perutnya yang semakin terlihat ramping dan wajah tak sesegar dulu.


Ya ... sudah hampir tiga bulan pula Oon tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin pada Shania, padahal masih berstatuskan suami-istri.


Selama berpisah dari Oon, Shania justru tidak pernah menjalin komunikasi yang berarti, begitu juga sebaliknya, walau hanya sekedar bertanya kabar keseharian sang istri.


Shania terduduk di kursi ruang makan, hanya untuk menikmati sepotong roti, yang masih tersedia dirumah orangtuanya karena ditinggal menjalankan usaha mereka di tanah abang.


Seketika air mata Shania mengalir begitu saja, membuat tubuhnya bergetar karena telah menganggap bahwa dirinya sampai saat ini belum bisa melakukan apapun untuk membahagiakan diri sendiri, juga kedua orangtuanya.


"Tuhan, kenapa Kau menyiksa aku seperti ini? Apakah aku tidak pantas untuk berbahagia. Punya suami, tidak pernah memberi kabar lagi padaku, sehingga benar-benar melupakan aku sebagai istrinya selama tiga bulan ..."


Wajah putih itu tampak memerah, karena tak kuasa membendung rasa kecewanya terhadap Oon, membuat dirinya semakin yakin bahwa suaminya itu telah membenci juga meninggalkannya.


"Mas ... kamu kemana? Kenapa kamu tidak ingat pada ku. Kamu tahu sendiri, aku sudah tidak memiliki uang pegangan lagi ..."


Setiap hari Shania tinggal seorang diri atas saran Widya, agar tidak mendapatkan perbuatan yang tidak menyenangkan dari Mala.


Ketika Shania masih hanyut dalam pikirannya, terdengar suara bel rumahnya berbunyi, membuyarkan lamunan, kembali menajamkan pendengarannya.


Bel itu kembali terdengar, membuat Shania berdiri dari duduknya, kemudian melangkahkan kaki dengan langkah gontai menuju pintu ruang tamu yang berjarak hanya beberapa meter saja.


Tangan Shania memutar kunci pintu ruang tamu itu, kemudian membuka pintu dengan sedikit ruang, karena tidak ingin melihat orang asing langsung menerobos masuk ke rumah kedua orangtuanya.


Akan tetapi, pandangan Shania dikejutkan dengan kehadiran Oon yang tampak lusuh, bahkan jauh dari kata mewah seperti tiga bulan lalu.


Siapa yang tidak terkejut melihat pemandangan yang sangat aneh itu, membuat darah Shania mendesir tak biasa, ketika Oon yang tampak kusut itu langsung berhambur memeluk tubuhnya.


"Mas!" Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Shania, ketika tubuh itu memeluknya dengan sangat erat, membuat wanita itu sedikit huyung karena tak kuasa menopang tubuh suaminya.


Terasa tubuh Oon bergetar hebat karena menangis sejadi-jadinya dipelukan Shania tanpa bisa berkata-kata.


Cukup lama kedua-nya berdiri didepan pintu, membuat kedua bola mata Shania mencari keberadaan mobil suaminya, karena ia hanya melihat satu motor butut yang terparkir di halaman minimalis rumah orangtuanya.


Sekali lagi Shania meyakinkan apa yang ia lihat dengan kehadiran Oon dihadapannya saat ini. Kembali ia berkata perlahan, "Mas ... kamu kenapa?"


Oon benar-benar terlihat sangat hancur, bahkan jauh dari kata tampan juga mewah. Tubuh yang dulu buncit, berbadan bongsor, kini tampak lebih kurus membuat penglihatan semakin pangling.


Pemandangan yang kini benar-benar membuat bulu kuduk Shania merinding, karena baju yang dikenakan Oon jauh dari kata baik. Entahlah, wanita itu tampak kebingungan karena sang suami belum mengatakan sepatah katapun padanya.


Shania menelan ludahnya sendiri, ia menangkup wajah Oon yang masih bisa dikatakan bersih, walau sesungguhnya ditumbuhi jerawat halus dibagian kening, tapi masih bisa ia maafkan. "Bicara sama aku, Mas. Ada apa? Jangan diam begini, sehingga membuat aku bingung, sayang!"


"Ba-ba-baik. Mas kemana saja? Kenapa baru datang sekarang? Apa yang menimpa kamu, sehingga aku tidak tahu, Mas? Kamu masih menganggap aku ini istri, kan? Atau kita benar-benar sudah berpisah?"


"Bisa aku duduk dulu, Shan? Aku lelah."


Mendengar penuturan seperti itu, Shania langsung mempersilahkan Oon untuk duduk di kursi ruang tamu kediaman orangtuanya, dengan sigap ia berhambur menuju dapur untuk mengambil minuman dingin yang akan disuguhkannya untuk suami tercinta.


Dengan langkah gontai, Oon duduk di kursi tamu dengan wajah menekuk, dan terlihat sesekali ia membasahi bibir yang terasa sangat kering.


Tak berapa lama, Shania membawa sebuah nampan yang berisikan air minum dingin, serta roti yang masih ada dikediaman Keluarga Ahmad hari itu.


Shania menyuguhkan dihadapan Oon, sambil membawa handuk kecil yang ia basahi menggunakan air hangat untuk membersihkan wajah sang suami yang tampak berdebu.


Begitu banyak pertanyaan dalam benak Shania pada Oon. Namun dia tidak bisa untuk menghujami sang suami dengan semua pertanyaan yang sudah berada di ujung bibirnya.


Setelah membasahi tenggorokannya tanpa meninggalkan air dingin itu setetes pun, Oon meletakkan gelas yang ada ditangannya diatas meja, ia menerima roti pemberian Shania kemudian melahapnya.


Lapar, hanya itu yang ada dalam benak Shania untuk menjawab kondisi Oon saat ini.


Perlahan Oon menoleh kearah Shania, sambil menerima pasrah saat tangan lembut itu mengusapkan handuk hangat itu perlahan diwajahnya dengan penuh kasih sayang juga menyiratkan kerinduan.


Terdengar suara bariton itu, ketika Oon mengeluarkan kalimat yang sangat mengejutkan gendang telinga Shania sebagai seorang istri, "Aku bangkrut, Shan. Aku tidak tahu harus kemana. Karena Ibu membuang ku, dengan alasan aku mengalami kerugian yang sangat besar. Aku di tipu habis-habisan oleh Beny. Kini dia melarikan diri keluar negeri. Jujur aku tidak tahu harus kemana saat ini. Aku ditipu oleh sahabat serta Ibu, ku!"


Sontak kalimat yang keluar dari bibir Oon, membuat dada Shania terasa semakin sesak. Tangannya yang tengah mengusap wajah Oon bergetar tak berdaya. Bola matanya membulat besar, bahkan nafasnya seakan menderu berat.


Jika ditanya bagaimana perasaan Shania yang dulu, ketika mendengar suaminya mengalami kebangkrutan, mungkin ia akan mengusir Oon saat ini juga dari kediaman orangtuanya.


Namun Shania yang sekarang, justru tampak tenang walau didalam hatinya tengah menjerit atas musibah yang menimpa suami tercintanya.


Shania berusaha menjadi penghibur hati bagi Oon, berusaha mengalihkan perhatian sang suami untuk meringankan beban pikiran yang menimpa bak batu besar yang menghantam pundak kokoh itu ...


Shania menunjuk kearah luar, sambil tersenyum sumringah kearah Oon, "I-i-itu motor siapa?"


Oon tampak kaget, karena mendengar pertanyaan Shania yang justru menanyakan kendaraannya, "Hmm, eee ... motor Mas," tunduknya lemas.


Shania tertawa kecil, "Mas sudah makan?"


Oon menggeleng pelan sambil menjawab, "Belum."


Shania menjentikkan jemarinya ke udara, "Bagaimana kalau kita pergi belanja beli sayuran, terus masak. Kalau perut Mas sudah kenyang, kita ngobrol dikamar, bagaimana?"


Oon menghela nafas berat, "Ta-ta-tapi uang Oon hanya ada 300 ribu, Shan. Kamu mau masak banyak?"


Shania tersenyum sumringah, mengusap lembut wajah Oon yang mulai tampak tenang, "Kita masak sedikit buat kita berdua, secukupnya. Mama sama Papa kalau pulang selalu malam, itupun hanya membawa makanan kecil. Jadi kita bisa buat sekedarnya, yang penting sekarang kita ke warung. Mas anterin aku pakai motor butut itu atau jalan kaki juga tidak masalah. Sudah ... kita nikmati dulu masa sulit ini. Yang penting nanti Mas cerita dari awal sampai akhir sama aku apa yang terjadi!"


Oon mengikuti langkah Shania, yang langsung menarik tangannya bergumam dalam hati penuh kepiluan, "Maafkan aku, Shan ..."