
Tak banyak yang di ketahui orang-orang tentang Shania Junianatha. Shania yang dulu sombong, bahkan sangat jauh dari kata baik. Kini bisa merubah cara pikir dalam menghadapi semua problematika kehidupan.
Ya ... kedewasaan seseorang itu diukur dari pola pikir, bukan dari usia. Berdasarkan pengalaman juga kepahitan dalam menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan kesabaran.
Shania kini jauh lebih tenang. Pengalaman membuatnya lebih dewasa, kepahitan dan kebencian orang-orang yang akhirnya mengerti siapa kawan, siapa lawan. Inilah karma untuk diri sendiri karena pernah menyakiti Oon diawal pernikahan mereka.
Kini pernikahan kedua-nya sudah lebih dari satu tahun. Cukup banyak isakan tangis yang Shania rasakan dari kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya, serta hantaman dari Mala yang dengan tega menyakiti secara fisik.
Senyuman kepuasan, tampak mengembang lebar disudut bibir Shania, ketika melihat Oon dengan lahap menghabiskan nasi sebanyak dua piring sangking laparnya. Perlahan tangan lembut itu menyentuh pergelangan tangan pria yang duduk disebelah kiri. "Bagaimana, enak enggak masakan aku, Mas?"
Oon menoleh kearah Shania, mengangguk-angguk sambil tersenyum sumringah karena lambung tengah sudah sangat kekenyangan. "I-i-ini e-e-enak banget Shan. Enak banget. Oon seperti mendapatkan tenaga baru, karena telah di perhatikan oleh istri Oon yang baik ini."
Shania tersipu-sipu, mendengar pujian yang diberikan Oon, kembali ia memainkan jemari sendiri diatas meja makan, dan melirik kearah sang suami hanya untuk memastikan tatapan Oon padanya, ketika beranjak menuju wastafel hanya untuk sekedar mencuci tangan.
"Tarok saja piringnya, Mas. Nanti aku yang bereskan!" Shania membereskan meja, dengan posisi duduk hanya untuk menutup lauk pauk yang masih tersisa.
"Pasti nanti lapar lagi, ikan juga masih tersisa satu ekor lagi ..." Hanya itu yang ada dalam benak Shania, karena menyadari sang suami memang suka makan di waktu sore dan tengah malam.
Perlahan tangan hangat pria yang telah dibasahi air tersebut menyentuh pipi mulus Shania dari arah belakang. Membuat wanita manja itu hanya mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah Oon yang langsung mengecup lembut bibirnya.
"Bau ikan!" Godanya agar Oon tetap bahagia karena sudah bertemu dengannya.
Oon justru langsung berbalik ke wastafel untuk membasuh mulut, agar tidak di bilang bau ikan lagi.
Shania tertawa terbahak-bahak, ia langsung berdiri untuk mendekati Oon dan memeluk tubuh pria yang sangat ia rindukan selama tiga bulan dari arah belakang.
"Aku kangen, Mas!" Hanya kalimat itu saja yang keluar dari mulut Shania, membuat Oon mematikan keran air yang masih menyala.
Hatinya terasa lebih tenang, ketika merasakan tangan yang tampak masih terlihat bersih dengan bulu tangan terlihat lebih sedap dipandang mata memeluk tubuh Oon dengan sangat erat. Ada perasaan bersalah dalam benak Oon, karena telah menyia-nyiakan keadaan sang istri selama tiga bulan lamanya.
Sehingga jika Shania bermain gila, ataupun melakukan dosa diluar sana itu bukanlah salah wanitanya. Melainkan Oon lah yang salah, karena tidak memberikan nafkah lahir dan batin kepada sang istri. Akan tetapi, Shania lebih memilih berdiam diri didalam rumah, tanpa mau keluar dari pagar rumahnya.
Susah payah Oon menelan ludah, mengatur nafas yang sedikit sulit ia dapatkan, karena tangan lembut Shania terus mengusap dada sebagai isyarat bahwa sang istri benar-benar merindukannya.
Oon membalikkan tubuh, mengatur nafas yang turun naik, dan detak jantung semakin berpacu ketika melihat istri tercinta meletakkan kepala di dada Oon.
Tangan Shania mampu memberikan kesejukan bagi Oon, sehingga pria yang dulu bertubuh subur itu, hanya bisa tersenyum pasrah menikmati sentuhan-sentuhan kecil dari tangan sang istri.
Lagi-lagi Shania menatap Oon, memajukan bibirnya agar kembali dikecup seperti tadi, karena tidak mampu menahan kerinduan yang tersirat sehingga tak kuasa untuk disembunyikan.
Oon mendehem, tangannya berusaha mengusap lembut punggung Shania, berkata pelan karena tiba-tiba merasakan sesuatu, "Shan, hmm ... a-a-aku mandi dulu, ya? Kebelet banget. Nanti kalau sudah bersih kita kangen-kangenan lagi. Mama dan Papa pulang jam berapa?"
Shania mengangguk setuju, ia melihat wajah Oon benar-benar mengeluarkan keringat dan terlihat sangat gugup. "Mas mandi di kamar mandi di kamar aku saja. Yuk ...! Mama pulang palingan jam 07.00 sampai di rumah. Sudah enggak apa-apa. Orang anaknya didatangi suami sendiri, kita ini sudah menikah Mas. Bukan pacaran lagi," tariknya pada tangan Oon membawa masuk kedalam kamar.
Oon semakin terkesiap, ketika kakinya melangkah masuk kedalam kamar Shania yang tak seluas dulu, tapi masih tetap terasa sangat nyaman. Karena istrinya kini bisa membersihkan kamar dan rumah sendiri, sesuai yang pernah dikatakan Oon padanya.
Melihat baju kaos dan traning dikeluarkan Shania dari dalam lemari, Oon kembali bertanya karena perasaan penasaran, "I-i-itu pakaian siapa, Shan?"
Wajah cantik yang sejak tadi yang tampak bahagia karena kehadiran sang suami langsung menjawab, "Punya suami ku. Sudah mandi cepetan! Aku ambilin camilan. Karena tadi pagi bibik sempat buat puding sebelum ke toko sama Mama dan Papa. Jadi kita bisa menghabiskan waktu di kamar sambil nonton film. Aku banyak beli film layar lebar waktu nemanin Mama ke glodok. Tapi enggak ada film dewasa, karena suami ku belum pulang. Jadi aku nontonnya disney saja."
Mendengar cerita Shania, Oon yang awalnya ingin segera ke kamar mandi, seketika langsung berhamburan hanya untuk memeluk istri tercinta, yang membuat dirinya semakin terkagum.
Naluri seorang suami jika baru bertemu istri terkasih setelah tiga bulan berjauhan karena satu kesalahpahaman, membuat Oon lebih dulu memulainya sebagai permintaan maafnya kepada Shania.
"Maafkan aku, Shan."
Shania menautkan kedua alisnya, hanya bisa bertanya dengan senyuman manis bak semanis gula pasir, "Maaf untuk apa? Tadi katanya kebelet, udah sana! Bersih-bersih dulu."
"Mandiin!"
"Serius?"
Oon menganggukkan kepalanya, sambil perlahan melepaskan benang yang menempel di tubuh istrinya.
"Mas ..."
"Katanya kangen, boleh kan?"
Lagi-lagi Shania mengangguk bahagia, mengikuti semua keinginan Oon untuk melepaskan kerinduan.
Kini kedua-nya saling melepas kerinduan yang selama ini terpendam didalam hati. Tangan saling menggenggam berjanji tak akan melepaskan lagi.
Shania benar-benar merindukan Oon. Pria baik yang ia nikahi hanya karena balas budi yang dijanjikan sang papa pada keluarga Oon.
Rasa benci, kata-kata kasar yang pernah terucap, bahkan pernah menyakiti Oon sebagai suami diawal pernikahan mereka, ditambah pengkhianatan yang dilakukan Shania sehingga membuat Mala tak pernah berhenti untuk menyiksa sang menantu agar berpisah dari anak kesayangan yang sengaja dibuat bodoh oleh ibu sendiri.
Saat ini kedua-nya tengah memperkuat pondasi rumah tangga mereka. Dengan saling bercerita dengan dessahan dan errangan yang semakin terdengar untuk mempererat hubungan kedua-nya dalam menghadapi semua tantangan yang akan datang dalam waktu tak terduga.
Shania masih terus menerima hentakan dari Oon, yang memompanya lebih dalam lagi dengan penuh perasaan cinta.
"Ahh Mashh ..." Tubuh Shania lagi-lagi menegang, sehingga meremas kuat punggung Oon yang tengah mengejar kenikmatannya, untuk meleburkan suasana hati yang penuh kerinduan.
"Ahh ..." Oon menyirami benih cinta dirahim Shania sebagai isyarat bahwa kebahagiaan itu kini telah dilebur menjadi satu, membuat Shania tersenyum lega menerima kecupan-kecupan kecil dari sang suami yang tengah mengatur nafasnya.
"I love you, Mas ..."
"I love you, too Shan. Lagi ya? Mas kangen ..." Oon masih menggerakkan pinggulnya dengan perlahan, membuat Shania hanya bisa pasrah, memberikan kenyamanan dalam pelepasan sebuah hasrat.