Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Ceraikan aku ...



Mendengar pernyataan Oon, Shania terdiam. Ia tidak tahu apakah keputusannya untuk menggugat cerai Oon merupakan satu keputusan yang tepat, atau bahkan dapat menghancurkan seluruh hidup dan harapannya.


Tubuh rampingnya ambruk seketika, Shania sama sekali tidak kuasa untuk melakukan apapun saat ini. Pikirannya menerawang, bahkan berkecamuk, membuat tubuh itu seakan melayang karena tak kuasa untuk melawan takdir yang sudah digariskan dalam hidupnya.


"Apa yang harus aku lakukan ...? Aku tidak mencintai pria ini! Bahkan aku sangat jijik melihat dirinya berdiri dihadapan ku ..." tangisnya berteriak keras, memukul-mukul dada sendiri.


Kali ini Shania merasa frustasi, dan tidak ingin melanjutkan pernikahannya, ia ingin pergi meninggalkan Oon, namun tidak tahu harus kemana. Kali ini pihak manajemennya, sama sekali tidak pernah menghubunginya sama sekali.


Oon masih tak bergeming, ia hanya berdiri dihadapan Shania yang terlihat sangat frustasi dan urakan. Rambut yang biasa tertata rapi, riasan wajah yang sangat cantik dengan balutan baju mini ketika berada dirumah, kini tak terlihat lagi.


Sengaja Oon menyalakan televisi yang berada dikamar itu, agar Shania dapat mendengar berita jahat tentang dirinya yang menjadi seorang pelakor ...


Berkali-kali Shania menelan ludahnya sendiri saat telinganya dihujami pertanyaan yang menghujat, bahwa dirinya sebagai artis sombong yang tidak memiliki perasaan pada semua penggemar ...


Bahkan, Shania harus mendengar steatmen team managementnya, menyatakan bahwa mereka mengundurkan diri, dan memutuskan kontrak kerja sama mereka dengan aktris cantik tersebut.


"Ya ... Sejujurnya kami sangat kecewa dengan kelakuan Shania. Karena dia sama sekali tidak pernah mengindahkan permintaan kami, agar tidak berhubungan dengan pria figuran itu. Rendah sekali seleranya mau menjalin hubungan dengan simpanan tante-tante," tukas Eric selaku manajer Shania di salah satu acara gosip pagi secara live.


Pembawa acara televisi, kembali menanyakan pada Eric, "Jadi kamu sendiri, sudah tahu belum bahwa Shania sudah keluar dari kepolisian dan sudah menjalin komunikasi lagi enggak sama Shania selaku artis kalian, yang akan meluncurkan film baru layar lebar?"


Eric menggelengkan kepalanya, dia menjawab pertanyaan pembawa acara dengan sangat singkat, "Yah ... Sampai saat ini, kami belum mendapatkan kabar apapun dari Shania. Bahkan kami tidak mengetahui dimana keberadaan dia saat ini. Yah mungkin Shania harus membayar royalti bahkan kerugian yang di alami pihak produksi film layar lebar ini. Karena di cekal langsung oleh pihak komisi penyiaran Indonesia, agar tidak menayangkan film layar lebar tersebut sampai kasus ini selesai. Bisa dibayangkan berapa besar kerugian kami saat ini. Makanya kami meminta pihak keluarga untuk menyelesaikan semua tanggung jawab aktris kami, terhadap Tante Lala yang menuntut Shania. Biar tidak ada yang dirugikan."


Shania yang mendengar pernyataan itu hanya termangu menatap lekat layar televisi tersebut, membuat dadanya semakin bergemuruh bahkan terasa sangat sesak. Ia hanya bisa menoleh kearah Oon, dengan tatapan mata yang memohon bantuan agar terlepas dari semua jeratan hukum dan tuntutan pekerjaannya yang hampir rampung.


Kali ini tidak ada pilihan. Hanya Oon yang ada dihadapannya, dengan merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita yang telah berstatus sebagai istri sahnya.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Aku tidak tahu harus bagaimana dalam bertindak. Semua orang menjauhi ku, bahkan menghujat aku habis-habisan. Kali ini aku mohon, bantu aku. Aku akan melakukan apapun untuk mu! Aku mohon!" tangisnya kembali pecah membuat Oon sebagai seorang suami merasa sangat iba.


Oon berusaha mendekati Shania, hanya untuk menenangkan tangisan wanita itu, namun lagi-lagi gadis angkuh itu menolak pria yang sama sekali tidak tampak menurutnya.


"Jangan mengambil keuntungan dari kasus ini! Aku akan menjadi pembantu mu! Bukan istri mu, pria bodoh!" sesalnya menggeram lantang.


"Te-te-ter-tenanglah Shan, kita ini suami istri. Apapun aib kamu diluar sana, kamu tetap istri Oon. Kamu akan Oon lindungi, dan Bang Husin telah mengurus semua permasalahan kamu. Asalkan kamu mau menjadi pendamping Oon, dan hiduplah menjadi istri Oon yang baik," ucapnya lembut, sambil meletakkan Shania diatas ranjang kingsize kamar apartemen tersebut.


Shania terdiam, wajah cantiknya semakin tidak suka melihat Oon yang sangat baik memperlakukannya.


"Kenapa kau menolong aku? Bukankah lebih baik aku mati? Bahkan kau bisa mendapatkan wanita lebih baik diluar sana, jangan aku! Aku tidak pantas untuk mu. Karena yang menjadi kriteria ku adalah pria tampan yang memiliki tubuh sispack seperti sahabat-sahabat ku!" Shania mengalihkan pandangannya kearah lain, karena tidak ingin melihat wajah Oon yang semakin mendekat dihadapannya.


Oon duduk di bibir ranjang dia hanya bisa tersenyum lirih, melihat Shania yang tidak ingin berdekatan dengannya, sambil bertanya, "Apa ada yang salah dengan wajah ku? Padahal aku tidak buruk, bahkan sangat banyak wanita yang menginginkan aku diluar sana. Tapi kenapa kamu sama sekali tidak menyukai aku? Kita sudah menikah Shan ... Jangan perlakukan aku seperti laki-laki yang tidak berharga di mata mu! Kita bisa memulai semua dari awal, apa yang kamu inginkan, Oon akan melakukan untuk mu!" tegasnya.


Shania yang tidak mengetahui apa penyebab dirinya tidak menyukai Oon hanya terdiam, tidak ingin menjawab pertanyaan bodoh tersebut. Ia hanya mengingatkan bahwa ...


"KAMU ITU KETERBELAKANGAN MENTAL, DAN TIDAK MUNGKIN AKAN MENJADI SUAMIKU SAMPAI KAPANPUN!!!"


Oon meremas kuat kedua tangannya, entahlah ... Kali ini ia ingin meremas mulut wanita yang ada dihadapannya itu. Namun, enggan ia lakukan karena tidak akan pernah menyakiti wanita sampai kapanpun.


Oon menggelengkan kepalanya, hanya bisa berkata, "Yah ... Sampai kapan kamu akan mengatakan Oon memiliki keterbelakangan mental, Shan. Oon memang begini adanya, bahkan inilah Oon!" hardiknya dengan suara lantang dan bergetar.


Shania terlonjak seketika saat mendengar hardikan dari mulut pria yang selama ini lembut memperlakukannya, sejujurnya dirinya sendiripun tidak tahu siapa Oon, dan kenapa pria itu mau menikahi dan memperjuangkan rumah tangga mereka.


Ditambah kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Shania sejak awal pernikahan mereka membuat Oon masih enggan untuk menalaknya.


"Bagaimana caranya aku membayar semua yang telah kamu berikan pada ku hmm? Aku tidak ingin berdebat panjang lebar, bahkan sejujurnya aku tidak sudi menerima semua kebaikan mu!!!" teriak Shania.


Oon menoleh, menatap lekat mata Shania dengan tatapan marah, rahangnya seketika mengeras, "Jangan pernah meminta ku untuk menuntut mu habis-habisan, Shan. Aku suami mu! Aku tidak peduli dengan keadaan mu. Jika kamu memang mau pergi dari kehidupan ku, kembalikan ginjal ku yang ada dalam tubuh mu, wanita keras kepala!!"


Oon memilih meninggalkan Shania, namun wanita itu kembali berteriak keras ...


Dengan kedua bola mata Shania membulat besar, tubuhnya bergetar hebat, sehingga bingung harus menjawab apa ... Hanya bisa menjawab, "Ceraikan aku! Ceraikan!! Kau menjebak ku laki-laki jahat!! Kau menjebak keluarga ku!!"