
Jika ditanya hati Shania saat ini, ketika melihat suami tercinta mengikuti semua keinginan sang bunda dan meninggalkannya seorang diri diruangan itu, pasti akan tahu bagaimana mirisnya perasaan seorang istri.
Shania masih terdiam, melihat Mala menarik tangan putra kesayangannya agar masuk ke mobil sang putra, untuk meninggalkan Shania di tempat perawatan itu seorang diri yang masih termangu menatap dari balik kaca, dengan beberapa pasang mata melihat kejadian itu hanya ternganga kemudian berbisik-bisik menatap lekat wajah Oon penuh perasaan benci dan sakit.
Kali ini, Shania benar-benar harus bangkit, menghadapi semua penghinaan yang dilontarkan Mala sepanjang ruangan hingga parkiran, yang disaksikan beberapa kerabat dekat mereka, membuat Shania memberanikan diri melangkah keluar dari ruangan dingin tersebut, untuk merebut Oon dari ibu mertua kejamnya itu.
Dengan dada yang bergemuruh, bahkan tampak kedua tangannya mengepal kuat langsung berkata dengan sangat lantang ketika pintu kaca itu terbuka lebar, "Lepaskan suamiku!" hardik Shania dengan nada bergetar.
Secepat kilat, Mala menoleh kearah Shania, membuang wajahnya melihat sinis kearah beberapa sahabatnya, sebagai isyarat bahwa menantunya seorang wanita tidak baik, bahkan berani membentak ibu mertua sendiri.
Kembali Mala menatap nyalang kearah Shania yang menantangnya, "Hmm, kau memaksa agar aku melepaskan putra kesayangan ku? Hah, jangan mimpi kau wanita jallang! Karena Oon tidak akan pernah memilih mu untuk menjadi seorang istri. Dia anak ku, sampai kapanpun tetap menjadi anak ku!"
Shania justru tersenyum sumringah, dia membuka masker yang dikenakannya, berkacak pinggang selayaknya Mala yang berdiri dengan gaya yang sama, kemudian melirik kearah Oon sang suami. "Anda memang ibu suamiku, tapi kau harus ingat ibu mertua yang zolim, Mas Oon suamiku, Mas Oon, is my husband! Kami tidak akan pernah berpisah, sampai kapanpun! Karena dia suamiku!" teriaknya lantang.
Mendengar pernyataan Shania, para ibu-ibu yang menjadi sahabat Mala ternganga lebar, kembali berbisik-bisik menatap kedua insan yang saling menantang itu dengan penuh perasaan iba terhadap Shania, tapi tidak bisa memberikan support kepada Shania. "Kasihan yah, ternyata Mala sangat kejam, jeng!"
Kalimat itu yang terngiang di telinganya, membuat langkah Shania semakin maju untuk mendekati Mala, kemudian berkata lagi, "Kenapa terdiam hmm? Apakah saya salah telah mengakui bahwa Mas Oon suami saya! Sejak awal menikah, Anda selalu merendahkan saya dan keluarga, tapi jangan salahkan saya, kali ini saya akan memperjuangkan Mas Oon, karena dia suami saya!"
Mala yang tidak terima dengan pernyataan Shania, berusaha menampar wajah wanita yang berani menantangnya, dengan perasaan amarah yang semakin berkecamuk.
Dengan cepat Oon menahan tangan Mala, untuk melindungi sang istri, "Cukup Bu! Berhenti!"
PLAK ...!
Tak terima anaknya membela Shania, Mala justru menampar wajah Oon dihadapan para sahabatnya, "Berani sekali kamu membela wanita jallang ini?"
Dengan cepat Oon menepis anggapan Mala, bahwa Shania telah melakukan kesalahan kala itu, "Ibu, dengar! Shania bukan jallang, dia istri Oon, Oon yang tahu bagaimana dia menyerahkan kehormatannya untuk Oon! Berhenti Bu, jangan sampai anakmu ini semakin tidak mengingat mu!"
Mendengar pernyataan Oon, Mala justru tertawa remeh, kemudian mendecih menatap jijik kearah Shania, "Wanita seperti ini kamu bilang memberikan kehormatannya? Bagaimana dengan kemesraannya yang di umbar di media? Buka mata mu, On! Buka!"
Perlahan Shania mengalihkan pandangannya, kembali berkata dengan nada tinggi, "Kenapa Anda tidak percaya bahwa saya telah memberikan segalanya pada putra mu, Nyonya? Apa yang membuat Anda tidak percaya? Hmm atau Anda masih belum percaya dengan semua yang kami lakukan? Justru kamu terus melakukannya, hingga saya hamil, dan Anda yang membunuh janin cucu sendiri, apakah Anda lupa, Nyonya? Jika Anda ingin merebut Mas Oon dari saya, ambil saja, tapi ceraikan saya! Pertanyaannya, anak Anda mau tidak menceraikan saya, Nyo-nya Mala?"
"Be-be-berani sekali kamu!" Dada Mala sontak semakin terasa sangat sesak. Entah kenapa, pernyataan Shania membuat kepalanya semakin berdenyut, bahkan pandangannya berkunang-kunang, karena tidak menyangka Shania akan seberani ini dengannya di muka umum.
Tak ingin memberi Mala satu peluang sebagai tanda kemenangannya, Shania mengusap lembut punggung Oon yang berdiri didekatnya, "Mas ... kita pulang saja, aku tidak ingin terlalu lama berada di sini, berhadapan dengan Ibu, Mas!" Sindirnya lembut.
Tidak banyak bicara Oon hanya menunduk hormat pada Mala, berlalu pergi meninggalkan tempat treatment kecantikan tersebut, agar tidak berkelanjutan ke masalah lainnya.
Jujur dada Shania terasa sangat panas juga sesak, bahkan kekesalannya semakin membuncah ketika membayangkan bagaimana jika dirinya tidak berjuang sama sekali.
Entah keberanian dari mana, Oon melindungi Shania dari serangan Mala, yang menatap kedua insan suami istri itu penuh dendam.
Kembali terdengar suara Mala, yang ia lontarkan untuk sang putra, hanya untuk sekedar mengancam, "Jika kamu masih membela Shania, maka Ibu tidak akan pernah memaafkan mu, On! Kamu anak Ibu, jangan jadi anak durhaka hanya untuk membela wanita jallang itu!"
Oon menoleh kearah Mala, ketika memastikan istrinya sudah berada didalam mobil, "Terserah Ibu. Yang pasti Oon tidak pernah melupakan semua kewajiban Oon untuk Ibu! Selamat siang!"
Bergegas Oon menuju stir kemudi, sebelum mendengar makian dari Mala, dan menoleh kearah Shania yang masih terdiam membisu dengan air mata akhirnya mengalir deras.
"Shan ..."
"Jalan!"
Tidak ingin berdebat panjang dengan sang suami, Oon melajukan kendaraannya, meninggalkan tempat perawatan tersebut, tanpa menoleh hanya atau bahkan sekedar bertanya 'kamu baik-baik sja'.
Selama di perjalanan, masih terdengar suara isak tangis Shania, membuat Oon tampak serba salah.
Perlahan Oon menghentikan kendaraannya disalah satu tempat peristirahatan ketika berada di jalan tol kembali menoleh kearah Shania, "Kamu tunggu didalam saja."
Shania masih terdiam, dengan wajah merah padam Shania langsung berkata, "Aku minta cerai Mas! Aku minta ceraikan aku! Aku pikir kamu pasti membela aku dihadapan Ibu mu, tapi kamu malah meninggalkan aku, tanpa berpikir bagaimana perasaan aku. Mungkin jika aku tidak berjuang melawan ibumu, kamu tidak akan membawa aku kesini. Jadi, sebelum semua terlanjur saling menyakiti lagi, lebih baik kita berpisah! Karena ... sepuluh tahun lagipun pernikahan kita, Ibu mu pasti akan seperti ini padaku!"
Oon menggelengkan kepalanya, "Shan, ti-ti-tidak Shan ... kita tidak akan pernah berpisah. Sampai kapanpun kita tidak akan berpisah!"
Tangan Oon langsung memeluk tubuh sang istri. Perasaan kedua-nya tidak dapat di bohongi, karena perasaan cinta yang mereka miliki kini semakin besar. Akan tetapi, Shania tidak ingin melanjutkan pernikahan mereka karena perasaan bersalahnya ketika awal menikah.
"Ki-ki-kita pisah saja, Mas! Aku sudah tidak bisa memberikan yang terbaik. Di tambah lagi ibumu sangat menghina aku, mengata-ngatai aku sebagai jallang! Aku ini menantu, aku ini istri kamu, Mas. Aku mau kita pisah, tidak ada yang harus dipertahankan untuk hubungan ini ...!"
Oon semakin mendekapnya, kali ini ia benar-benar tidak menyangka, bahwa Mala akan terus menghina Shania walau berubah. Bergumam dalam hati, karena masih ingin menenangkan perasaan wanita yang ada dalam dekapannya, "Ibu memang keterlaluan ...!"