
Malam semakin larut Shania masih meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat, membuat Oon hanya bisa mengusap lembut punggung hingga pinggang istrinya agar tetap tenang.
Berulang kali Oon mencari informasi melalui google, tentang bidan atau dokter kandungan yang terletak di area rumahnya.
"Tenang sayang ... Tenang ...!" bisiknya untuk memenangkan Shania.
Entahlah ... Kali ini Shania benar-benar kesakitan, sehingga membuat wajahnya tampak pucat bahkan mengeluarkan keringat dingin.
"Mas, ini sakit banget. Antarkan aku ke rumah sakit. Aku enggak kuat Mas ..." ringisnya, terus menangis.
Bergegas Oon memesan taksi online, karena tidak mau menyusahkan sahabatnya Beny.
Tentu saja Oon semakin panik, bukankah ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka berdua untuk memiliki buah hati, yang ternyata membuat Shania harus tersiksa.
Tidak menunggu lama, taksi online yang di pesan Oon, akhirnya datang juga, membawa mereka ke sebuah rumah sakit terdekat.
Wajah Shania yang masih terlihat pucat, membuat pria bertubuh subur itu semakin khawatir ditambah lagi adanya perdebatan panjangnya dengan Mala yang tidak menginginkan anak dari sang menantu.
"Mas ..." genggaman tangan Shania semakin keras, membuat Oon semakin ketakutan.
"Sabar sayang ... Sebentar lagi dokter akan melakukan pemeriksaan," jelasnya di dalam ruangan unit gawat darurat.
Tak lama mereka berada di ruangan unit gawat darurat, benar saja ... Seorang dokter spesialis kandungan, masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Shania yang mengalami kontraksi sangat kuat, di usia kandungan sepuluh minggu.
Beberapa suster melakukan pengambilan darah, serta pengecekan bagian dalam, untuk memberikan pertolongan pada Shania.
Dokter bernama Desy itu, hanya menghela nafas berat, setelah melihat kondisi janin melalui pemeriksaan USG, sambil bertanya kepada Oon yang masih berada di dekat Shania.
"Apakah Ibu Shania ada memakan obat-obatan keras, atau berbagai macam jenis makanan yang mengandung banyak gas? Di sini kita lihat, janinnya hancur, karena sesuatu hal, Pak. Harus kita angkat ya, karena sudah hancur ..."
Mendengar penjelasan dari dokter, membuat Oon menggelengkan kepalanya, karena merasa tidak yakin bahwa istrinya akan menyakiti buah cinta mereka berdua. Berkali-kali Oon, menelan ludahnya dan kembali melirik kearah Shania untuk meyakinkan apa yang dikatakan dokter barusan.
"A-a-a-apa yang kamu makan, Shan?"
Shania menggelengkan kepalanya, dia tidak ingat apa yang ia makan. Karena terakhir kali dirinya hanya menikmati satu mangkuk kecil salad yang dibawakan oleh Widya.
"A-a-a-aku enggak makan apa-apa Mas. Aku hanya makan salad, yang dibawakan Mama. Dan rasanya tidak mungkin Mama memberikan aku racun atau apapun yang dapat membahayakan kesehatan kandungan ku," jelasnya.
Akan tetapi Oon mengalihkan pandangannya kearah lain, karena perasaan kecewa yang teramat sangat, atas perbuatan istrinya.
Oon menandatangani beberapa surat, agar segera melakukan tindakan pada sang istri, kemudian berlalu keluar ruangan, karena Shania akan di bawa ke ruangan lain, untuk melakukan tindakan.
Oon mencari nomor telepon Ibu mertuanya, sambil menunggu jawaban dari seberang sana ...
[Ya ...]
[Ma ... Ini Oon. Shania keguguran. Apakah Mama yang membuat salad sayuran untuk Shania tadi siang? Karena kami harus kehilangan bayi kami, Ma ...]
[A-a-a-apa? Bukankah salad itu dari Mala? Dia yang memberikan pada Mama, ketika Mama tiba di parkiran mobil tanah abang. Makanya Mama pikir eee ... Sekarang kalian dimana? Mama tidak mau Shania kenapa-kenapa On ...]
Oon terhenyak seketika saat mendengar penuturan Widya, yang menyatakan bahwa Mala lah yang memberikan salad itu ...
"Tuhan ... Kenapa Ibu Oon sangat kejam? Bahkan ingin membunuh istri dan anak Oon ...! Ini tidak bisa di biarkan. Oon harus melakukan sesuatu, bagaimana mungkin Ibu bisa melakukan hal sekeji ini ..." geramnya dengan rahang mengeras.
Begitu banyak harapan-harapan mereka berdua, semenjak rasa sayang dan cinta itu tumbuh dengan berjalannya waktu. Tapi Mala enggan menerima Shania, karena membenci Shania.
.
Di tempat yang berbeda, Mala justru tengah tertawa bahagia bersama beberapa sahabat sosialitanya. Wajah lega bahkan dia tengah menunggu kabar dari sang putra, tentang kehilangan janin mereka berdua.
Salah satu wanita paruh baya bernama Sintya menoleh kearah Mala untuk mempertanyakan sesuatu hal ...
"Bagaimana jeng? Apakah sudah kamu kasih obat yang kamu beli itu kepada anak Widya?"
Mala menganggukkan kepalanya, dia tertawa dengan mimik wajah yang tampak kejam bahkan penuh dengan dendam.
"Sudah dong! Aku tidak ingin Oon melanjutkan rumah tangganya. Jadi tadi aku ketemu Widya hanya di parkiran mobil. Aku bilang saja, berikan ini pada menantuku ... Karena aku yakin, menantu jallang itu akan melahap apapun yang di berikan Ibu-nya. Jadi dia pasti mengira bahwa Ibu-nya yang memberikan racun dalam kandungannya. Kalau bisa, Shania juga ikut mati! Biar putra ku menjadi duda! Dan melanjutkan pernikahannya dengan Soraya!" ceritanya tanpa perasaan malu ataupun berdosa.
Beberapa sahabat sosialitanya yang mendengar hanya bisa geleng-geleng kepala, sedikit memberi penjelasan pada Mala dengan kalimat yang semakin menohok bahkan memojokkan ...
"Eeeh jeng! Ingat, karma itu pasti ada sama kamu. Kamu sudah sering menyakiti Keluarga Ahmad. Dia itu keluarga baik lho. Kasihan menantu kamu, jangan di siksa gitu dong! Entar, kalau kamu sakit ... Siapa yang merawat kalau bukan menantu. Lagian Oon sudah di terima cintanya oleh Shania, nah biarkan mereka bahagia. Jangan di pisah-pisah, iya kalau Shania kamu racun langsung mati, kalau enggak? Cacat misalnya, siapa yang susah? Anak kamu juga, kan? Aku sih lebih baik, Oon sama Shania daripada Soraya," jelasnya, dengan menyunggingkan bibir tipisnya.
Mala yang mendengar penuturan seperti itu hanya tertawa mengejek, bahkan mendelik tajam menatap kearah sahabatnya yang ternyata lebih membela Ahmad juga Widya.
"Kamu tahu apa sih jeng. Kamu enggak tahu saja, bagaimana Oon di perlakukan oleh jallang itu di dua hari pernikahan mereka. Kamu pikir aku bodoh, mau menerima begitu saja. Ditambah Shania itu sudah tidur sama suami orang. Anak ku masih polos, masak harus dapat sisa! Enggak perawan jeng! Coba kamu jad aku, mungkin kamu akan melakukan hal yang sama!!" tegasnya.
Sintya hanya tertawa kecil, "Sudah ah. Jangan berantem, mau baik atau buruk si Ahmad, tetap dia yang membunuh Putra, suami sahabat kita ini," belanya.
Para wanita yang ada disana hanya bisa tersenyum tipis, menghela nafas berat, karena tidak menyukai perdebatan hari ini ...
"Sudah, ganti topik! Sudah berumur seharusnya kita ingat mati, bukan malah berpikir yang aneh-aneh. Apalagi harus menyakiti sesama umat manusia. Ingat karma jeng! Karma ...!"