
Oon duduk disamping Mala, yang bersebelahan dengan Soraya. Matanya menatap nanar kearah Mala, hanya untuk meyakinkan ucapan Shania yang bersikukuh bahwa pelaku sebenarnya merupakan Ibu-nya sendiri.
Dengan demikian, Oon berusaha untuk bertanya sekali lagi pada Mala, hanya sekedar ingin meyakinkan ucapan sang istri padanya ...
"Bu ... Siapa pelaku penyerangan Shania. Sudah beberapa minggu Oon sulit bertemu dengan dia. Shania lagi hamil anak Oon, dan tidak mungkin Oon akan meninggalkannya begitu saja. Tolong Bu, jujur saja. Sebelum Oon meminta pada petugas apartemen untuk memeriksa CCTV dan semua akses masuk!" tegasnya.
Tenggorokan Mala seakan tercekat seketika, seperti ada tulang yang menusuk sehingga menembus ke jantungnya. Bagaimana mungkin, ia melupakan tentang CCTV atau melakukan penyuapan lebih dulu terhadap pihak security apartemen yang di huni putra kesayangannya.
Mala menghela nafas panjang, dia mengusap wajahnya sedikit kasar. Dengan lantang ia menghardik Oon tanpa memikirkan perasaan Soraya dan para pengunjung lainnya ...
"Kalau Ibu yang melakukannya, kamu mau apa? Mau menuntut Ibu hmm? Mau marah-marah sama Ibu? Mau menjadi anak durhaka, karena Ibu tidak pernah merestui pernikahan kalian? Seharusnya kamu bersyukur Ibu nikahkan dengan Soraya, On! Dia masih suci, masih perawan, belum terjamah oleh pria manapun! Kalau Shania, sudah tidak suci, malah berlagak sok suci, dan sok-sokan mau berjuang sama kamu! Kamu harus ingat, bagaimana keluarganya membunuh Ayah kamu!" jelasnya sarkastik.
Mendengar pernyataan Mala yang meledak-ledak padanya, Oon hanya bisa menunduk malu, karena berada di restoran, dan di lihat beberapa pasang mata di sana.
Dengan sadisnya Mala menunjuk-nunjuk kening putranya, dengan perasaan marah sambil berkata ...
"Seharusnya kamu itu mikir! Mikir pake otak, Shania itu pantas enggak untuk kamu pertahankan? Dia tidak lebih dari seorang wanita murahan dan jallang, yang sudah tidur dengan suami orang. Laki-laki yang bukan suaminya!" cecarnya semakin menyudutkan Oon.
Oon yang sesungguhnya mengetahui bagaimana Shania, berusaha menjawab, "I-i-ibu salah! Shania itu wanita baik-baik. Kami sama-sama hmm! Pokoknya Oon yang tahu bagaimana Shania, Bu! Tidak mungkin Oon akan menceraikan dia, karena Shania mengandung, Bu! Kenapa Ibu kejam sekali hingga melukai istri Oon! Dia tidak bersalah sama sekali, karena kami saling mencintai, Bu!"
BRAAK ...!
Mala menghembuskan tangannya diatas meja restoran, membuat beberapa pasang mata para pengunjung mengarah pada mereka.
"Apakah dengan kematian suami ku, tidak kamu pikirkan hah!? Karena Ahmad yang berjanji pada Putra, makanya kalian menikah Oon! Kamu selalu saja membela jallang itu, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Ibu menghadapi semua kebodohan kamu!" Mala mendengus, memilih berlalu, meninggalkan kedua insan itu di sana, tanpa mau menyapa lagi.
Oon menelan ludahnya sendiri, perlahan tangannya mengusap dada sendiri hanya untuk sekedar menenangkan perasaannya.
Soraya hanya menundukkan kepalanya, karena tidak tahu akan berada dalam situasi seperti ini. Dadanya seketika merasa sesak, karena tidak menyangka bahwa Oon akan menghadapi masalah yang sulit ...
Perlahan Soraya meraih jemari tangan Oon yang berada diatas meja, hanya untuk sekedar memastikan, bahwa pria yang ia kagumi baik-baik saja.
"Mas ..."
Oon menoleh kearah Soraya, sambil tersenyum tipis, "Hmm ..."
"Eee aku minta maaf, yah. Aku tidak menyangka semenjak kehadiran ku, akan membuat hubungan Mas dan Mba Shania jadi memburuk. Jujur, aku yang mengirimkan video kebersamaan kita pada Mba Shania beberapa waktu lalu. Ta-ta-tapi aku hanya buat eee ... Buat dia cemburu saja, dan aku tidak tahu bahwa akan jadi seperti ini. Aku minta maaf, Mas!" tunduknya lagi.
Oon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, karena tidak menyangka bahwa Soraya juga berniat untuk menyakiti Shania.
"A-a-a-apa salah kami padamu, Soraya? Sejak awal, hubungan kita hanya karena Ibu. Bukan karena perasaan sayang ataupun cinta. Mas, hanya ingin mengorbitkan nama kamu, agar tidak selamanya menjadi artis kacangan. Mas memberikan peluang itu, tapi ternyata kamu juga berniat buruk pada Shania. Jujur Oon kecewa sama kamu!" tegasnya, mengeluarkan dompet, mengambil beberapa lembar uang, kemudian meletakkan diatas meja restoran.
Oon berlalu meninggalkan Soraya tanpa permisi, karena dia tidak ingin berdebat di situasi sulit seperti saat ini.
Berkali-kali Oon mencoba menghubungi Shania, karena perasaan khawatir dan merasa kerinduan yang teramat sangat.
[Hmm ...]
Terdengar suara lemah Shania diseberang sana, membuat Oon dapat bernafas lega ...
[Shan ... Mas minta maaf! Mas mohon, kita harus ketemu. Mas khawatir sama kesehatan kamu, sayang ... Please ...]
[Maaf Mas, mungkin ada baiknya kita seperti ini dulu. Aku takut, takut sama Ibu yang selalu menyakiti aku. Ditambah, Mas juga masih menjalin hubungan dengan model itu, kan? Mentang-mentang dia lebih baik dari aku, lebih cantik, dan namanya lebih cemerlang, membuat aku merasa sangat tidak pantas buat kamu, Mas]
Oon mendengus dingin, dia meremas kuat kepalanya, menghela nafas berat.
[Tolong sayang. Kita harus ketemu, Shan ... Kita harus bicara ... Mas minta maaf. Mas sudah tahu semua cerita tentang Ibu yang menyakiti kamu. Tapi Mas enggak tahu harus berbuat apa! Mas tetap akan mempertahankan rumah tangga kita, ada atau tidaknya restu dari Ibu! Itu janji Mas sama kamu, Shan. Tolong hargai perasaan Mas]
[Maaf Mas, aku mau istirahat ...]
Seketika tidak terdengar lagi suara Shania di seberang sana, membuat Oon benar-benar semakin frustasi.
"Aaaagh! Sial! Sial! Kemana aku harus mencari tahu rumah Pak Ahmad, karena aku tidak tahu dimana letak toko mereka, bahkan aku sudah berulang kali bertanya pada pemilik rumah mereka yang lama, tapi tidak mendapatkan jawaban yang berarti!" sesalnya memukul ke udara.
Entahlah, kesalahan Oon tidak pernah percaya pada istrinya sendiri, sehingga dia benar-benar kehilangan Shania saat ini.
.
Sudah lebih dari dua minggu Oon tampak gundah. Bagaimana tidak, wanita yang tengah mengandung anaknya benar-benar hilang dari peredaran, hingga tidak mendapatkan kabar apapun saat ini ...
"Tuhan, tolong pertemukan aku dengan Shania. Sampai saat ini, dia menonaktifkan handphonenya ...!"
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan kantornya, membuat dia hanya bisa memberi perintah ...
"Masuk!"
Mendengar perintah dari Oon, bergegas Beny membuka pintu ruangan sahabatnya sedikit, kemudian melongokkan kepalanya hanya untuk memastikan bahwa Oon baik-baik saja.
"Pagi Mas Oon. Lagi bete banget. Kenapa? Udah lama kita enggak ketemu, akhirnya aku berhasil menemukan keberadaan kamu di kantor produksi kita!" tawanya sekedar bercanda.
Oon menggelengkan kepalanya, "Ada apa? Aku lagi malas untuk berbasa-basi. Katakan, dan tinggalkan ruangan ku!"
Beny tertawa kecil, dia justru memilih masuk, dengan semangat 45 meletakkan file yang sudah mendapatkan dukungan dari berbagai macam iklan, untuk melanjutkan produksi film layar lebar mereka, yang dibintangi oleh Shania Junianatha ...
Beny menaik turunkan kedua alisnya, dan bertanya, "Bagaimana hmm? Aku berhasil mendapatkan team untuk produksi film layar lebar kita. Ini kesempatan emas On. Cerita ini akan di sukai banyak kalangan. Kamu setuju Shania menjadi artis utama yang akan di sandingkan dengan Jonathan?"
Oon menutup matanya, menghempaskan tubuhnya di kursi kebanggaan, "Masalahnya aku kehilangan kontak, Shania saat ini!" sesalnya dengan mata berkaca-kaca, dan nafas yang terasa semakin sesak.
Beny terdiam, hanya bisa menjawab, "Terus ... Bagaimana dengan projectnya?"