
Suasana kamar Shania terasa sangat hening. Yang terdengar sayup-sayup suara ribut dari arah kamar Widya dan Ahmad yang tengah berdebat, sehingga memecahkan satu benda membuat Oon semakin kalut.
Oon duduk ditepian ranjang, ia benar-benar tampak ketakutan dan kepalanya seakan mau meledak karena tak kuasa untuk berfikir jernih. Ia menoleh kearah Shania yang langsung memeluk tubuhnya dari belakang ...
"Jujur Oon takut, Shan!"
Terasa kepala Shania hanya menggeleng, kemudian mengusap lembut punggung Oon.
"Jangan takut. Papa cuma mencurahkan rasa kecewanya saja. Besok juga reda. Mungkin jika kita menjadi orang tua suatu saat nanti akan melakukan hal yang sama."
"Ta-ta-tapi Oon benar-benar minta maaf sama kamu, Shan. Oon berjanji ..."
Shania tak mengacuhkan ucapan suaminya. Kali ini ia hanya ingin menikmati malam, selayaknya pengantin baru.
"Kita buka lembaran baru, kita nikmati saja rumah tangga yang baru seumur jagung ini. Aku tidak mau Mas pergi lagi. Karena aku sangat mencintaimu, Mas ..."
Hanya bisikkan itu yang dapat membuat Oon terlena. Memberi ruang kepada Shania, untuk terus bermain-main diatas tubuhnya. Dan tidak ingin melepaskan sang suami tanpa menghiraukan ancaman kedua orang tua mereka lagi.
.
.
Kini sudah hampir satu bulan kebersamaan mereka. Seperti janji Widya, akan membantu Oon dalam merintis bisnisnya. Diam-diam martuanya itu memberikan modal yang cukup untuk sang menantu.
"Pakailah uang tabungan Mama ini, On. Jika berkembang syukur alhamdulilah, jika tidak kita akan mengevaluasi dimana salahnya. Mama akan terus bersama kalian, jangan pernah memikirkan apapun. Jika butuh kendaraan, mungkin kamu bisa meminjam mobil Papa untuk sementara waktu."
Widya memberikan uang tunai sebesar 300 juta di kediaman anak menantunya. Yang telah ia lengkapi sesuai janjinya beberapa waktu lalu. Tentu saja mengatakan tanpa sepengatahuan Ahmad, karena kali ini mereka harus membantu Oon demi membahagiakan Shania Junianatha putri kesayangannya.
Oon terdiam, melihat uang yang terbungkus dalam plastik berwarna hitam. Wajah yang kini sudah terlihat segar, bahkan lebih terawat dari sebelumnya membuat Widya selaku ibu mertua merasa bahagia melihat perubahan pada Shania.
"Seperti yang Mama bilang, Shan. Kamu harus sabar menjalani rumah tangga. Tidak ada yang instan untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Pasti akan ada cobaan dan rintangan. Mama percaya bahwa kalian akan menemukan kebahagiaan yang lebih baik," titahnya menyambut pelukan Shania yang langsung meringkuk dipundak sang mama.
Widya memilih kembali ke toko mereka, yang berada di tanah abang. Dengan sejuta harapan yang tersirat dari raut senyuman seorang ibu. Tak banyak yang diharapkannya dari seorang Shania saat ini. Bisa menjadi istri dan anak yang baik, tidak mengulangi kejadian seperti beberapa waktu lalu, itu sudah sangat memuaskan baginya.
Akan tetapi, setibanya Widya di parkiran, kembali ia dikejutkan dengan kehadiran seorang yang sangat ia kenali.
"Mana anak ku, Widya?"
Pertanyaan yang berasal dari arah belakangnya membuat Widya sangat mengenal suara iblis yang telah membuat anak menantunya sengsara.
Widya menoleh kebelakang, kemudian tersenyum tipis, hanya untuk sekedar memastikan bahwa semua baik-baik saja.
"Bukankah Oon bersama mu? Aku tidak pernah mendengar tentang dia lagi. Bahkan aku tidak tahu dimana keberadaan putra kesayangan mu! Bukankah dia sudah hampir empat bulan tidak memberikan nafkah lahir dan batin kepada putri ku, hmm?" tuturnya dengan wajah angkuh menyiratkan dendam.
Mendengar pernyataan Widya, Mala terdiam. Ia teringat bahwa putranya menentang habis-habisan hanya karena perusahaan sang ayah. Karena enggan memberikan keterangan tentang pinjaman dana yang ia lanjutkan dengan alasan perusahaan masih milik almarhum suaminya.
Akan tetapi, Mala tidak percaya begitu saja karena melihat keluarga Ahmad tidak pernah menuntut putranya di pengadilan agama atau bahkan menggugat cerai.
"Kenapa putri mu tidak menggugat putraku Oon? Bukankah dia telah menyia-nyiakan putrimu selama empat bulan?" tantang Mala menatap nyalang kearah Widya.
Lagi-lagi Widya hanya menyunggingkan senyuman tipis disudut bibirnya, "Bukankah jika empat bulan istri tidak dinafkahi secara lahir juga batin dan tidak rela yang bisa menggugat? Sampai saat ini Shania masih ikhlas menerima kenyataan bahwa suaminya menghilang, dan kami selaku keluarga tidak pernah keberatan. Bagiku kebahagiaan Shania lebih penting, daripada mengurusi kamu dan anakmu!"
"Lancang kau, Widya!"
Mala akan melayangkan satu tamparan ke wajah Widya, akan tetapi dapat dicegah oleh wanita itu dengan cepat dan menatap lekat manik mata wanita berhati iblis tersebut.
Widya menghentakkan tangan Mala, mengarahkan tunjuknya ke wajah wanita kejam itu, "Jangan pernah berpikir bahwa aku akan takut dengan mu, Mala! Kau bisa menuntut apapun saat ini untuk keluarga ku! Tapi kau tidak memiliki bukti yang cukup kuat karena aku telah mengembalikan uangmu, justru aku yang memiliki bukti atas perlakuan mu terhadap putri kesayangan ku, Shania Junianatha. Apa kau mau, aku memproses mu secara hukum hmm? Aku sudah muak dengan semua ancaman busuk mu, Mala! Jika bukan karena perjanjian keluarga, mungkin aku tidak akan meminta putra mu untuk menikahi anak kesayangan ku! Sadarlah, suatu hari nanti kau akan sakit dan belum tentu Oon mau merawat mu, karena memiliki hati busuk seperti iblis!"
Dada Mala rasanya bergemuruh, ingin sekali ia menabuh genderang perang dengan Widya. Akan tetapi, tatapan matanya semakin melebar, ketika melihat CCTV yang berada diarea parkir.
"Aku akan membuat perhitungan dengan mu, Widya. Aku tidak akan pernah mau menjadi besan dari orang miskin seperti kalian! Sampai aku matipun, aku tidak pernah akan menerima Shania jallang itu menjadi menantu ku! Camkan itu baik-baik!" Mala berlalu meninggalkan Widya, yang masih menunggu wanita paruh baya itu menghilang dari pandangannya.
Membuat Widya hanya bisa mengurut dada, kemudian memijat pelan pelipisnya. "Kenapa ada orang yang berhati iblis seperti itu, lahir ke dunia ini ..." umpatnya menuju toko miliknya.
Setibanya Widya di toko, Ahmad langsung mendekati sang istri hanya untuk memastikan kondisi putri kesayangannya, "Bagaimana Shania dan Oon, Ma?"
Widya terkesiap mendengar pertanyaan dari sang suami, "Mereka baik-baik saja. Sepertinya kita harus segera mengambil mobil sport Shania yang sudah menjadi debu di apartemen Oon, Pa. Bisa kita jual walau harganya tidak seberapa. BPKB mobil itu masih ada sama kita. Mama juga membawa kuncinya, untuk meminta Suep mengambil ke sana. Anak-anak butuh kendaraan, dan saat ini mereka hanya memiliki motor butut itu saja," jelasnya panjang lebar.
"Apa kamu sudah mengatakan bahwa uang yang diberikan itu punya kamu? Jangan sampai Oon itu tahu, bahwa aku mau menerima dia begitu saja. Mudah-mudahan uang itu berkembang ditangan mereka. Walau kecil, tapi cukup untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Nanti Papa sama Suep yang mengambil mobil milik Shania. Biar mereka juga ada tabungan, dan membeli kendaraan sendiri," titahnya langsung menghubungi Suep yang bekerja di toko mereka.
Widya hanya tersenyum lega, kemudian merogoh handphone miliknya dari dalam tas dan melakukan panggilan video call dengan Shania. Akan tetapi, putri kesayangannya tidak menjawab panggilan telepon darinya.
.
Sementara itu, Shania tengah sibuk mencari informasi tentang bisinis yang akan dilakukan di rumah melalui sosial media. Benar saja, ide mereka berdua muncul begitu saja ...
"Bagaimana kalau kita menjual gorden serta baju-baju yang kita ambil dan memproduksi sendiri, Shan? Seperti Mama Jil, sepuluh gelombang kanan, sepuluh gelombang kiri," tawa canda mereka pecah selayaknya dua insan yang tidak memiliki permasalahan rumit.
"Wait ... Aku punya ide, Mas. Aku yakin kita pasti bisa merintis ini. Setidaknya aku punya nama di dunia hiburan walau buruk. Aku dandan dulu dan kamu pakai baju yang sangat sopan. Kita akan melakukan sesuatu!"
"Oke ..."