
Hati pria mana yang tidak akan gundah ketika mendengar suara denyut jantung janin dari dalam rahim sang istri dengan perasaan cemas, bahagia yang bercampur aduk.
Perasaan yang berbeda tak mampu diucapkan dengan kata-kata hanya bisa terlukis dari sorotan mata yang berkaca-kaca. Walau masih belum percaya karena Shania mengandung lima anak sekaligus, membuat Oon benar-benar melihat layar LED yang ada dihadapannya kini.
Kembali Oon menoleh kearah Shania juga dokter yang masih memeriksa kondisi kesehatan janin mungil tersebut seraya bertanya, "A-a-a-apa aku tidak salah dengar dok? Lima lho! Bukankah jika wanita hamil kembar itu biasanya dua?"
Dokter Fery meletakkan alat USG ketempat semula, kemudian membuka sarung tangannya dan kembali ke mejanya, "Tidak ada yang tidak mungkin Pak. Buktinya saja, Ibu Shania Junianatha tengah mendapatkan kejutan luar biasa dari Tuhan," titahnya mencatat semua riwayat Shania, kemudian melanjutkan ucapannya, "Saya akan merujuk Ibu Shania ke rumah sakit besar saja, jika melahirkan nanti. Yang berada di Jatinegara. Karena di sini alat-alat kurang lengkap, kita antisipasi jika terjadi sesuatu pada bayi ketika proses persalinan. Sekali lagi selamat yah, Pak? Hingga saat ini, posisi janin berada dalam masing-masing kantung dengan sangat sempurna, posisi ke-lima janin itu juga cukup bagus. Jadi saya harap, Ibu Shania tidak usah terlalu stress, ataupun bekerja dulu. Prediksi melahirkan mungkin akan lebih cepat, hanya 37 minggu dengan tindakan proses caesar nantinya."
Mendengar penjelasan dari Dokter Fery, entah mengapa pandangan Oon seketika menjadi berkunang-kunang, membayangkan semua biaya yang mungkin akan lebih besar karena melahirkan lima anak sekaligus.
Berkali-kali Oon pecah fokus pada Shania yang tengah berusaha menggapai tangannya, akan tetapi kembali terlepas karena perasaan tidak karuan juga kurang percaya.
"Mas." Shania berusaha tersenyum walau sejujurnya ia merasakan kekhawatiran yang sama dengan Oon.
Seketika Oon tersadar bahwa dirinya masih sulit untuk percaya atas kejutan luar biasa. Bergegas ia mendekati sang istri, untuk membawa Shania duduk dihadapan dokter, hanya untuk mendengarkan nasehat yang akan dilakukannya selama masa kehamilan.
Dokter Fery menjelaskan beberapa poin penting dalam menghadapi kehamilan kembar lima seperti kondisi Shania saat ini.
"Ibu Shania, berhubung ibu pernah mengalami keguguran akibat keracunan makanan, lebih baik Ibu membiasakan diri untuk menikmati hidangan rumah saja. Saat ini kita sama-sama menjaga, hmm ... kalau boleh tahu Pak Oon ini seorang produser bukan? Saya beberapa kali mendengar nama Pak Oon juga Ibu Shania yang sangat kontraversi beberapa waktu lalu. Semoga anak ini menjadi penguat pernikahan Ibu sama Bapak. Sekali lagi saya ucapkan selama, ya? Jika ada apa-apa, silahkan hubungi nomor pribadi saya!"
Oon menerima secarik kertas yang bertuliskan nomor telepon dari Dokter Fery, agar tidak terlihat oleh perawat yang masih disibukkan dengan berbagai pekerjaannya.
Dengan raut wajah penuh bahagia, Oon menundukkan kepalanya, "Saat ini saya tengah fokus dengan dunia enterpreneur di dunia digital, dok. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Semoga kami bisa menjaga kesehatan baby five ini. Anak ini merupakan rejeki yang tidak ternilai," tuturnya sambil mengusap lembut perut Shania dihadapan Dokter Fery.
Kedua-nya keluar dari ruangan dokter paruh baya tersebut, menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Oon mengeluarkan dompetnya, kemudian bertanya, "Berapa totalnya Mba?"
Pihak kasir kembali menghitung semua total pemeriksaan serta obat yang akan ditebus di bagian apotik, kembali mendongakkan wajahnya, memberikan secarik kertas dihadapan Oon, "Totalnya ini ya, Pak!" tunjuknya pada nilai yang sudah di jumlahkan.
Berkali-kali Oon menelan ludahnya, melihat angka yang tertera sambil melirik kearah Shania seraya berbisik, "Mahal banget. Cuma ngobrol-ngobrol gitu doang bayarnya 875 ribu," sungutnya membuat sang istri langsung memberikan kartu ATM miliknya.
"Pakai uang aku saja, Mas. Uang yang ditabungan kamu itu dibiarin dulu. Sampai terkumpul untuk biaya lahiran yang sudah diprediksi enam bulan lagi. Kamu harus lebih gigih berjuang untuk aku juga kelima anak kita. Ini baru awal kehamilan aku. Kita enggak tahu bagaimana kejadian sebelum enam bulan, kan? Bisa kamu bayangkan bagaimana jeleknya aku hamil, Mas!" sungut Shania menyandarkan kepalanya di pundak Oon.
Oon dapat merasakan apa yang dirasakan Shania. Ditambah kondisi keuangan mereka masih belum stabil. Membuat ia terus berfikir, bagaimana caranya menghasilkan uang dalam waktu singkat.
Kedua bola mata Oon kembali membulat lebar, saat melihat biaya persalinan caesar yang akan menjadi pilihan mereka nantinya. Kembali ia mendekatkan bibirnya di telinga sang istri kemudian berbisik perlahan, "Melahirkan dua anak saja sampai 25 jutaan sayang, bagaimana lima?"
"Sudah cepetan! Aku lapar! Tidak usah terlalu banyak berfikir, yang penting kita jalani dulu. Kalau mentok, kita ngobrol sama Mama dan Papa. Mereka pasti akan membantu kita, Mas!" tuturnya tanpa ingin mendengar keluh kesah sang suami lagi.
Oon yang masih berdiri di area kasir, hanya mengusap lembut punggung Shania agar sabar untuk menunggu, "Kalau kamu capek duduk saja, Shan. Biar Mas yang ambil obatnya di sudut sana," tunjuknya menerima beberapa bukti pembayaran, untuk diberikan kepada pihak apoteker.
Hanya menunggu lima menit, kini kedua-nya sudah berjalan menuju parkiran untuk meninggalkan rumah sakit ibu dan anak tersebut.
Cukup lama kedua-nya menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan dapur, seperti sebelumnya, dengan sangat hati-hati.
Akan tetapi, Oon kembali dikejutkan dengan kehadiran Soraya yang tanpa sengaja bertemu lagi dengan pria yang pernah menjadi bos sekaligus suami sirihnya.
"Mas Oon?" Sapa Soraya lebih dulu karena pangling, ketika melihat Oon tengah mendorong troli belanjaan, sambil mengalihkan pandangannya kearah Shania yang kaget melihat wanita yang ada dihadapan kedua-nya.
Bagaimana tidak, Soraya tampak lebih cantik juga menawan dengan berbagai macam jenis barang branded yang menempel ditubuhnya.
Shania tersenyum sumringah, ketika melihat suami tercinta seakan-akan terkagum dengan kecantikan Soraya yang sangat elegan.
"Hai!" Sapa Shania tanpa sungkan, menghulurkan tangannya lebih dulu.
Soraya yang masih tampak gugup ketika bersitatap dengan Oon, hanya bisa tersenyum tipis ketika mengalihkan pandangannya pada Shania.
Bagaimana tidak, ketika Oon mengalami kebangkrutan beberapa bulan lalu, Soraya termasuk orang yang paling frontal berbicara pada media tentang pembayarannya yang selalu di pending pihak manajemen Oon, sehingga melibatkan Mala untuk membayar model cantik tersebut.
Tidak ada kalimat 'Aku mencintai mu apa adanya, Mas. Karena aku benar-benar mencintai mu', yang keluar dari bibir Soraya selain umpatan yang menyakitkan perasaan Oon sebagai seorang yang terzolimi kala itu.
Soraya menundukkan wajahnya, ketika Shania langsung menarik tangannya dengan cepat, seraya berkata, "Kami deluan, ya? Maklum ibu hamil harus banyak istirahat!" ucapnya tersenyum tipis menarik lengan Oon, yang tak mampu berkata-kata meninggalkan Soraya begitu saja.
Ada penyesalan diwajah Soraya, karena telah memperlakukan Oon dengan sangat buruk. Ia berteriak, hanya untuk sekedar memastikan bahwa pria subur itu tidak dendam padanya, "Mas Oon, bagaimana kalau kita makan bersama? Aku yang traktir."
Langkah kaki pasangan suami istri itu seketika terhenti, dan Oon kembali menoleh kearah Soraya, "Hmm ..." Lagi-lagi ia menoleh kearah Shania, "Bagaimana, Shan?"
Shania hanya menghela nafas berat, menjawab permintaan Soraya dengan nada tegas, "Tidak Soraya, terimakasih!"
"Shan!"
"Kalau Mas, masih mau menerima tawaran dia silahkan saja. Aku bisa pulang pakai taksi online!"