Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Masih terasa sangat sakit



Malam semakin larut, pintu tak kunjung terbuka. Yang terdengar dari arah dalam kamar hanya suara isak tangis Shania. Seketika Oon tersentak dari tidur sesaatnya.


Lagi-lagi tangan kekar itu mengetuk pintu dengan sangat pelan, "Shan ..." Ia melirik kearah jam tangan yang ada dipergelangan tangan kanannya, kemudian memanggil lagi, "Shan, Shania ... buka pintunya sayang!"


Terdengar suara teriakan Shania dari dalam, "Mas pergi saja! Tinggalkan aku, aku enggak mau punya suami yang sudah terlihat bersih terawat, malah tebar pesona diluar sana sama cewek lain! Mas pikir, aku enggak tahu hmm!"


Oon menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Entah kenapa dia yang kelelahan pulang dari kantor, harus dihadapkan dengan Shania yang meminta cerai, hanya karena mendengar telepon dari wanita lain, sehingga ia benar-benar terlelap sambil terduduk di lantai dekat pintu kamar mereka.


Sekali lagi Oon menajamkan pendengarannya, kembali mengetuk pintu secara perlahan seraya memohon, "Shan ... buka sayang. Sudah dua bulan Mas jadi pengangguran kelas atas, enggak enak banget. Mas kangen sama kamu, Shan. Beneran, wanita itu hanya secretaris perumahan yang mau kita ambil, sayang."


Krek ...


Terdengar suara kunci pintu terbuka, Oon langsung memegang hendel pintu, membuka sedikit hanya untuk melongokkan wajahnya dihadapan sang istri tercinta.


Terlihat wajah Shania masih cemberut masam, membuat Oon kembali mengurut dadanya, kemudian menghampiri sang istri yang masih menekukkan wajahnya.


"Hmm, kamu kenapa sih? Selama pasca keguguran, kamu selalu cemberut. Mas juga merasa sedih karena kehilangan anak kita, Shan. Tapi jangan pernah berubah menjadi introvert begini. Kamu tidak ingin bertemu dengan siapapun, bahkan sangat menutup diri termasuk sama, Mas. Apa yang salah, kamu bisa menceritakan semua," usapnya pada punggung sang istri.


Semenjak kejadian Mala menghajar wajah Shania di pintu mobil beberapa waktu lalu, memang ada luka baret yang membekas di wajahnya. Berkali-kali ia meminta pada Oon untuk melakukan operasi penghilang bekas baret seperti tersayat itu, akan tetapi tidak pernah diindahkan oleh pria tersebut.


"Wajah ku cacat, Mas! Cacat karena ulah Ibu mu. Jadi lebih baik aku mengurung diri, agar tidak menjadi bahan ejekan orang-orang yang bertanya penyebab luka ku!"


Mendengar celotehan sang istri, Oon menelan ludahnya sendiri, merasa tidak nyaman, karena tahu kemana arah pembicaraan mereka.


"Sayang, dengarkan Mas. Sudah lebih dari dua bulan Mas tidak bertemu sama Ibu. Karena Mas tidak mau melawan orang tua. Jadi lebih baik Mas menghindar karena tidak ingin berdebat. Tolong pahami posisi, Mas."


Shania justru mengalihkan pandangannya, ia memilih beringsut naik ke atas tempat tidur yang berantakan, menutup tubuhnya dengan selimut hingga tidak terlihat lagi wajahnya.


Jujur kali ini Shania seperti orang yang benar-benar menutup diri, sehingga betah di tinggal di rumah seorang diri tanpa melakukan aktivitas apapun.


Entah apa yang ada dalam benak Shania, membuat Oon benar-benar bingung harus berbuat apa.


Perlahan, Oon merebahkan tubuhnya karena perasaan lelah, tanpa mau bertanya lagi. Berharap ketika bangun pagi, ia melihat senyuman mengembang dari bibir mungil sang istri dengan penuh canda tawa selayaknya pasangan suami istri normal lainnya.


Sesekali Oon melirik kearah tubuh Shania, kemudian melilitkan tangannya di perut ramping itu sambil memejamkan kedua matanya.


Shania justru masih menangis, tanpa mau menyentuh tangan Oon karena kecurigaan serta kecewanya.


Kedua-nya terlelap, masuk ke dunia mimpi. Kedua-nya sama-sama berharap, mereka akan masuk dalam mimpi yang sama, akan tetapi semua itu hanya harapan semu.


.


Pagi menyapa, terdengar rinai hujan di telinga keduanya, membuat tubuh mereka semakin berpelukan erat karena merasa kedinginan.


Oon dapat merasakan geliat tubuh Shania yang manja dan semakin merapatkan tubuhnya, langsung mengecup lembut kening sang istri.


"Mashh, aku minta cariin pembantu dong. Untuk menemani aku, membersihkan rumah dan mengemasi semua baju-baju kita. Aku capek, Mas!" sungutnya sedikit merengek.


Pipi yang sudah terlihat mulus itu hanya mengangguk setuju, sambil berkata pelan melirik kearah Shania, "Mas kangen, Shan ..."


Shania justru langsung membalikkan tubuhnya ke sisi kiri, dan tidak ingin berdebat pagi-pagi buta begini. Bergumam sendiri, karena perasaan dongkol yang masih ia rasakan didalam hati, "Emang enak, dua bulan aku anggurin. Siapa suruh cuek gini sama istri. Dari kemaren aku minta ke Singapura, malah beli rumah. Terus rumah ini mau di kasih sama siapa ...?" sesalnya.


Oon yang melihat perubahan pada Shania, hanya bisa menghela nafas panjang, dan duduk di bibir ranjang memijat pelipisnya perlahan.


Entah mengapa, Oon yang merasakan sesak pada bagian miliknya, memilih beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mengguyur tubuhnya, dengan perasaan campur aduk bahkan perasaan kecewa.


Dua bulan bukanlah waktu yang sebentar bagi seorang laki-lak yang memiliki istri menjalani semua tanpa melakukan hal itu. Perasaan Oon seperti di permainkan oleh Shania, karena rasa bencinya terhadap Mala.


"Aku harus ketemu sama Ibu, dan membawa Shania bertemu dengannya. Biar tahu dan jelas apa masalah Ibu sama Shania selain membenci karena tidak mengacuhkan Oon waktu itu. Tapi semua itu sudah berlalu. Bahkan sudah hampir satu tahun rumah tangga kami, malah menjadi dingin seperti es batu ..."


Tanpa menunggu lama, Oon keluar dari kamar mandi, kemudian melihat sang istri yang sudah tidak ada di kamar peraduan mereka.


"Kemana Shania, apakah dia mempersiapkan semua sarapan ...?"


Karena perasaan penasaran, Oon berdiri di belakang pintu kamar, melihat sosok Shania tengah mempersiapkan sarapan di dapur mini rumah kecil mereka.


Satu senyuman mengembang lebar di bibir Oon, merasakan kebahagiaan tersendiri dalam hatinya sebagai seorang suami.


Bergegas Oon, mengambil baju kaos dalam lemari pakaian, karena ingin memberikan surprise yang ia beli beberapa waktu lalu di salah satu pusat perbelanjaan.


Dengan langkah kaki yang mengendap-endap, Oon menghampiri Shania yang tengah membelakanginya, karena perasaan senang pria bertubuh tinggi besar itu langsung melilitkan tangannya diperut ramping sang istri.


Akan tetapi, karena perasaan kaget, Shania langsung mengelakkan tubuhnya dari dekapan sang suami, dan langsung beringsut kebelakang membuat Oon yang mendapatkan penolakan tidak melepaskan pelukannya, sehingga satu keset kaki dapat membuat keduanya terjatuh kelantai dapur mereka.


BHUG ...!


BRAK ...!


PLAK ...!


Tubuh Oon lebih dulu jatuh dilantai dengan posisi telentang, sementara Shania yang tengah menggenggam spatula melayang di wajah sang suami, kemudian badannya disambut oleh pria tersebut.


Kedua-nya sama-sama kaget dan Shania dapat merasakan bahwa suaminya meringis menahan rasa sakit di bagian punggungnya.


"Shan ... ini sakit sekali. Kenapa kamu tidak baik-baik sih? Agh ..." wajah yang kini tampak glowing sepeti harapan wanita itu, masih tidak melunakkan hati Shania yang kembali tertutup karena kembali teringat akan perlakuan mertuanya.


"Maafkan aku, Mas! Aku enggak bisa seperti awal, hati ku masih terasa sangat sakit ..."