Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Menjadi istri simpanan



"Berita headline news pagi ini ... Seorang artis papan atas Shania Junianatha tengah menutup diri dari media. Karena terlihat tengah makan siang, wajah tertutup masker, dengan busana rumahan biasa tanpa make-up dan juga jauh dari kata mewah. Permirsa, ternyata benar, Shania Junianatha akhirnya menjadi istri simpanan seorang produser film yang biasa di sapa Mas Oon. Tapi sampai saat ini, kami belum menemukan dimana keberadaan mereka ..." 


"Berikut beberapa foto-foto Shania yang mengenakan masker juga kaca mata hitam, meringkuk di lengan Oon seminggu yang lalu ..."


Sontak berita terbaru tentang Shania, membuat murka pihak manajemen artisnya, serta Mala selaku mertuanya. Namun sangat berbeda dengan Ahmad, yang tersenyum bahagia melihat foto-foto itu.


"Brengsek! Ternyata pria bodoh itu yang menyembunyikan Shania dari kita, tanpa mau membayar kerugian apapun pada kita! Dasar artis matre, angkuh, kita harus cepat melaporkan ini pada pihak berwajib. Dia harus mengganti kerugian kita pada pihak produksi film layar lebar tujuh bulan lalu. Shania, Shania, gara-gara tingkah kamu kami mengalami kerugian dalam jumlah besar," geram Eric pada Sita manatan manager Shania.


"Hmm biarkan saja dulu, Mas. Mungkin Shania ingin tenang. Jangan terlalu menggebu-gebu melaporkan, ingat tidak ada menang atau kalah saat ini. Karena kita harus berhadapan dengan Mas Beny, asisten suami Shania. Di tambah pengacara mereka Bang Husin. Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika pengacara itu sudah bertindak. Apalagi Tante Lala yang menuntut dua milyar saja, hanya diberikan 50 juta. Kamu mau menuntut berapa? Pasti mereka tidak akan memberikan apapun!" tegasnya menatap wajah Eric yang masih berdiri didepan televisi ruangannya.


Erik menggelengkan kepalanya, menepuk meja, karena pasti akan kalah jika sudah berurusan pengacara kondang tersebut.


Wajah garang itu menoleh kearah Sita sambil bertanya, "Terus kita harus bagaimana? Apakah kita harus diam saja saat ini? Kita di rugikan lima milyar, Sita, dan ini bukan jumlah yang sedikit," geramnya.


Sita menghela nafas panjang, memijat pelipisnya, sesekali melirik kearah televisi yang masih memberitakan tentang Shania Junianatha.


.


Sementara di kediaman Ahmad, lagi-lagi Mala menghina besan yang selama ini masih belum melakukan apapun sesuai keinginannya.


"Apa maksud kau, Ahmad! Sekarang lihat berita di televisi itu! Gugat Oon sekarang, karena aku tidak ingin memiliki menantu yang sudah tidur dengan beberapa pria di luar sana! Kau lihat kan, berita di media!!" bentaknya penuh kemurkaan.


Widya lagi-lagi hanya bisa meneguk air ludahnya, mengusap sudut mata yang basah karena ucapan Mala.


"Sudahlah jeng. Jangan seperti ini lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Biarkan anak-anak tenang dulu, mereka sudah menikah, kita tidak berhak untuk ikut campur. Jika memang uang yang kamu harapkan dari semua ini, aku akan menjual rumah ini, dan memberikan semua hutang ku pada mu. Jangan memperkeruh suasana lagi, jeng. Kita sudah berumur, lagian Oon sudah bahagia, walau dia menutup semua akses untuk kami selaku mertuanya," jelasnya dengan mata berkaca-kaca.


Mala menganggukkan kepalanya, mendengar penuturan Widya yang akan menjual rumah mereka, dan membayar semua hutang yang mereka pinjam beberapa waktu lalu.


"Bagus! Karena uang yang kalian pinjam, sudah berbunga menjadi empat milyar. Dan aku sudah menghitung semua kerugian ku selama tujuh tahun di tinggal suamiku karena ulah kau, Ahmad!" teriaknya semakin lantang dengan tatapan mata penuh amarah.


Ahmad menggeleng, dengan cepat menyela celotehan Mala yang sejak dulu menyalahkannya, "Tidak Mala! Aku memang berada di dalam mobil Putra, tapi bukan aku yang mencelakai dia. Itu memang kecelakaan murni! Aku yang menyetir, tapi Putra tidak mengenakan safety belt kala itu, makanya terpelanting, karena mobil kami terbalik!"


Mala tertawa mengejek, mendelik tajam menantang mata Ahmad, yang memerah jika mengenang kecelakaan tragis itu ...


Ahmad berbicara untuk membela dirinya, "Semua sudah aku jelaskan saat dipersidangan. Dan aku telah di penjara selama enam bulan, apa semua itu kurang Mala? Aku tidak membunuh suami mu! Kenapa kau berkata, seolah-olah akulah penyebab kematian Putra," ucapnya dengan suara bergetar.


Widya hanya terdiam, mengusap lembut dadanya, menahan amarah yang semakin membuat kepalanya mendidih.


"Bagaimana ini Pa. Jika kita jual rumah ini, kemana kita akan pergi? Sudah lebih dari tujuh bulan kita tidak bertemu dengan Shania, sementara Oon masih menutup pintu hatinya untuk menemui kita. Kemaren pernikahan Oon dan Soraya, sekarang Mala lagi-lagi mengancam kita akan menyeret kamu ke penjara. Mama sudah tidak kuat tinggal di sini. Lagian mobil sport milik Shania, masih berada di apartemen Oon. Entahlah Pa ..." tangisnya tersedu-sedu.


Ahmad hanya mengusap wajahnya lembut, dia menatap kearah pintu yang terbuka lebar, dan hanya bisa pasrah pada keadaan yang sangat menyakitkan bagi seorang Ayah sepertinya.


Bagaimana mungkin mereka harus berbesan dengan wanita seangkuh Mala, yang tidak pernah bertata krama baik semenjak putrinya menikah dengan Oon.


.


Namun di kediaman kecil Oon, Shania yang tidak pernah menyalakan televisi, hanya di sibukkan dengan kegiatan barunya, mempersiapkan sarapan pagi untuk Oon sebagai seorang istri, menanti suami yang tengah bersiap-siap didalam kamar, dan menghampiri sang istri.


"Mas, aku berhasil buat omlet dan roti bakar. Kemaren gosong karena belum kamu utak-atik pembakar yang kita beli seminggu lalu, hari ini aku berhasil, Mas! Terimakasih yah ..." peluknya pada tubuh Oon, yang sudah berdiri didepannya.


Oon tersenyum sumringah, mengusap lembut kepala istrinya, mendekatkan wajahnya pada piring yang ada di meja makan, "Hmm bagus dong, kamu sudah bisa menjadi istri yang baik buat Mas. Oya, nanti Mas pulang agak sore. Kita ke Bandung, yah? Kebetulan ada acara di sana. Jadi kamu bersiap-siap jika Mas sudah memberi kabar."


Shania mengangguk setuju, "Tapi janji harus kasih kabar terus ke aku. Jangan pernah tidak menjawab telepon ku!" sungutnya.


Oon mengangguk, "Nanti siang kamu masak apa? Jangan banyak-banyak yah, masak yang praktis saja. Jika bahan-bahan sudah habis, kita belanja lagi. Yang penting kamu sudah bisa melakukanya sesuai resep yang ada di catatan. Oya, jangan keluar rumah. Itu saja pesan Mas!"


Lagi-lagi Shania mengangguk patuh, dia tidak ingin mendengar omelan Oon, karena semua keinginannya selalu di turuti pria itu. Membuat diri sendiri berpikir ulang untuk membangkang pada pria yang sudah menjadi suaminya tersebut.


Perasaan butuh terhadap Oon, membuat Shania dapat menerima kenyataan bahwa dirinya telah menikah dengan pria yang tidak tampan.


"Terkadang Tuhan memberi pasangan, sesuai yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan ..."


Shania mengecup lembut bibir Oon lebih dulu, sambil berkata ...


"Hati-hati Mas ... Jangan nakal."


Oon mengecup kening Shania, selayaknya pasangan yang berbahagia, "Jangan pernah ketiduran kalau menyalakan kompor, yah ..."


"Iya Mas ..."