Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Mendapatkan pembelaan



Cukup lama Oon menghabiskan waktu di kantor notaris untuk pembelian rumah pribadi mereka berdua di daerah Depok, agar lebih dekat dengan kedua orang tua Shania, dengan di dampingi secretaris pribadi pemilik perumahan yang bernama Dinar.


"Terimakasih Mas. Setidaknya, karena Mas membantu aku, hmm eee aku tidak jadi di pecat. Maklum Mas, jika tidak mencapai target penjualan dalam waktu tiga bulan, bakal di pecat. Mas Oon, tahu sendiri cari pekerjaan sangat susah. Ditambah jabatan aku sekarang bukan secretaris lagi," jelasnya dihadapan Shania.


Oon mengangguk mengerti, setidaknya kali ini mereka saling membantu, agar pindah dari rumah kecil dan jauh dari orang tua sang istri.


"Sama-sama Dinar. Yang penting saat ini posisi pekerjaan kamu sudah aman. Jadi sudah bisa bernafas lega," jelas Oon sambil menggandeng tangan Shania.


Shania yang tidak suka dengan kebaikan sang suami dihadapan para wanita, hanya tersenyum lirih ketika Dinar menghulurkan tangan padanya sebagai salam perpisahan.


Tidak menunggu lama, kedua pasangan suami istri itu masuk ke dalam mobil, setelah menerima kunci unit rumah yang mereka beli secara cash keras, lengkap dengan interiornya.


Rumah dua lantai, yang dilengkapi tiga kamar tidur dan dua kamar mandi, membuat mereka saling membayangkan akan menjadi lebih bahagia jika sudah menetap di sana.


Oon menoleh kearah Shania, mengecup lembut punggung tangan sang istri yang tersenyum sumringah, ketika berpisah dari wanita karir seperti Dinar.


Perlahan Shania menoleh kearah Oon, mengerlingkan bola matanya, ketika bersitatap dengan Dinar, yang masih melambaikan tangan kemudian berkata lirih, "Mas ngapain sih pakai ngasih dia tips segala. Dua juta itu banyak lho. Aku enggak suka!" sesalnya ketika kaca mobil mereka tertutup rapat.


Tak ingin berdebat, Oon mengalihkan pikiran sang istri untuk bertanya pada Shania, "Kita mau kemana lagi? Jadi mau ke salon? Ta-ta-tapi operasi tulang hidung kamu bulan depan saja ya? Kita fokus pada perawatan kamu saja untuk treatment. Bagaimana?"


Dengan sangat terpaksa Shania menuruti keinginan Oon, karena sudah malas menghabiskan waktu berdebat sejak tadi malam, "Terserah Mas saja, deh!"


Oon yang mendengar penuturan 'terserah' dari bibir mungil Shania menghentikan kendaraannya, meremas kuat stir kemudi, hanya untuk sekedar mengendalikan amarahnya. Ia mengalihkan pandangannya kearah sang istri, hanya untuk bertanya ...


"Kamu kenapa lagi, sayang? Kenapa kamu masih cemberut begini. Rumah sesuai permintaan kamu, Mas beliin! Operasi hidung dan bekas luka kamu, Mas sanggupi untuk membawa kamu ke Singapura. Tapi satu-satu, please sayang. Jangan buat mood kita jadi hilang berantakan hanya karena ego kita! Mas janji akan membawa kamu ketemu sama Ibu, tapi tidak sekarang. Mas masih ingin menikmati pernikahan kita ini berdua, tanpa ada campur tangan siapapun! Termasuk orang tua kita."


Sontak saja, mendengar penegasan dari Oon, Shania hanya bisa menekukkan wajahnya. Dia tidak ingin kehilangan pria yang ada disampingnya itu saat ini. Walau wajah tidak tampan rupawan seperti sang mantan kekasih, pria itu mampu merubah hidupnya menjadi lebih baik.


"Ta-ta-tapi, aku cemburu Mas! Mas terlalu baik sama semua wanita. Bagaimana jika mereka ingin merebut Mas dari aku. Seperti yang dilakukan Soraya. Bahkan kalian sampai menikah walau pada kenyataannya kalian sudah bercerai!" sungut Shania, mengeluarkan semua unek-unek yang ada didalam hatinya.


Kali ini Oon hanya terdiam, ia tidak mampu untuk berkata-kata, semua yang pernah dilakukannya itu merupakan permintaan Mala. Walau sejujurnya sama sekali tidak ingin mengakhiri pernikahanya dengan Shania Junianatha.


"Shan ... please! Jangan pernah untuk mengungkit masa lalu. Kita sudah bahagia, walau masih seumur jagung. Mas janji sama kamu akan membela kamu jika berhadapan dengan Ibu!"


Mendengar janji yang keluar dari bibir Oon, Shania tersenyum tipis, "Oke. Aku pegang janji, Mas!"


Oon menganggukkan kepalanya. Mencium punggung tangan sang istri kembali, karena merasa bahwa Shania mau memaafkannya.


Lebih dari dua jam mereka menghabiskan waktu bersama di salah satu pusat perbelanjaan, hanya untuk makan siang, kemudian berniat melanjutkan hari mereka di salah satu tempat treatment kecantikan melanjutkan perawatan selayaknya pasangan hits masa kini.


Mobil Oon terparkir di salah satu pusat perawatan kulit yang terbiasa di kunjungi oleh artis-artis papan atas. Ia menggandeng tangan istrinya dengan senyuman manis sebagai isyarat bahwa dirinyalah pria paling beruntung di muka bumi ini.


Walau berwajah tidak tampan, tapi mampu menikahi wanita secantik Shania hanya karena mapan.


Tentu kedatangan Shania, menjadi satu kehormatan bagi resepsionis karena sudah lama tidak bertemu dengan wanita angkuh namun selalu memberikan tips kepada para pekerja yang membantunya dalam memberi saran untuk kulitnya.


"Hai Mba Shan! Kok sudah lama tidak nongol kesini? Dilayar kaca juga jarang nongol lagi, apa tidak ada film lagi ni, Mba?" sapa resepsionis yang bahagia begitu menyambut kedatangan Shania.


Shania meletakkan jemari telunjuknya di bibir tipisnya, agar tidak bersuara lebih keras, dan membuat heboh pada pengunjung lainnya, "Iya, lagi fokus sama rumah tangga saja. Jadi sibuk ngurusin Mas Oon," tawanya menyeringai kecil.


Dengan cepat resepsionis itu menutup bibirnya, memberikan masker kepada Shania, dan Oon agar tidak menjadi pusat perhatian bagi pengunjung lainnya.


Shania mendekatkan wajahnya, sedikit bertanya kepada gadis centil dihadapannya, "Lagi rame nggak?"


"Rame Mba. Ada ibu-ibu sosialita di dalam, tapi sebentar lagi selesai kok. Sudah dari tadi pagi mereka di sini, sekalian arisan," jelasnya pelan.


Shania mengangguk mengerti, dia menunjuk pada daftar pilihan seperti biasa, untuk dirinya berdua suami tercinta, tentu dalam ruangan yang sama.


"Oke Mba. Silahkan duduk dulu, ya. Tempatnya di persiapkan dulu, kayaknya bakal sampai malam ni, Mba perawatannya," godanya lagi.


Shania hanya tertawa kecil, menarik tangan sang suami untuk duduk di sofa ruang tunggu, menunggu panggilan.


Cukup lama kedua-nya saling tertawa kecil, berpelukan mesra, tiba-tiba rombongan wanita sosialita para ibu-ibu paruh baya itu keluar dari ruangan perawatan.


Mata Mala tertuju pada sang putra kesayangan, yang ternyata membawa Shania bersamanya.


Tanpa pikir panjang lagi, Mala menghampiri Oon karena tak kuasa membendung amarahnya, menyaksikan sang putra kesayangan tengah tertawa bahagia, karena tidak mengacuhkan bahwa Ibu-nya berada di tempat yang sama.


"Ogh, jadi wanita ini lebih berhak mendapatkan perhatian yang berlebihan, On! Ternyata kamu lebih memilih istri kamu daripada Ibu hmm!?"


Sontak hardikan Mala, membuat Oon benar-benar terlonjak kaget, karena tidak menyangka akan bertemu dengan sang ibu di tempat sepeti ini.


"I-i-ibu ... ngapain Ibu di sini?" Oon berusaha untuk berdiri, dan melepaskan tangannya dari bahu sang istri.


Shania yang mendapatkan tatapan nyalang dari Mala, berusaha berlindung dibalik punggung Oon, tapi pria subur itu justru menepis tangan sang istri dari tubuhnya.


Senyuman tipis menyeringai kecil di bibir Mala, sebagai bentuk ejekan pada Shania. "Hei, jallang! Kau tidak akan pernah mendapatkan pembelaan dari Oon, karena anak ku lebih patuh pada ku, daripada dengan mu!"


"I-i-ibu ... apa yang Ibu katakan?" ucap Oon, tidak ingin berbuat onar di tempat umum.


"Pulang! Ngapain kamu kesini membawa jallang ini! biarkan dia sendiri menjadi janda. Biar tahu rasa!"


Mala menarik tangan Oon, meninggalkan tempat perawatan tersebut, tanpa membawa Shania.


"Mas! Mas Oon jangan tinggalkan aku!"