Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Tidak ingin terlibat ...



Sudah lebih satu bulan Shania benar-benar menutup diri dari Oon. Dari suami yang selama ini berjuang untuknya. Tapi hanya karena satu kesalahan, wanita itu enggan untuk membuka pintu maaf bagi sang suami, karena tidak pernah mempercayai ucapannya.


[Shania ... Mas tidak mau kamu seperti ini. Dari awal kita menikah, Mas tidak ingin berpisah, sayang ... Tolong Shan ... Jangan menghindar lagi ... Mas rindu sama kamu, Mas akan melakukan apapun untuk kamu dan anak kita ...]


Oon berusaha untuk membujuk Shania melalui telepon selulernya, karena masih enggan bertemu dengannya ...


[Enggak ... Maaf Mas, aku mau istirahat. Tolong jangan ganggu aku, karena kondisi ku baik-baik saja ...]


[Shan ... Please, kamu dimana? Rumah orang tua kamu dimana, Shan? Mas mohon, jangan seperti ini. Lagian, Mas sudah bicara dengan Ibu, dia tidak melakukan hal keji itu pada kamu, sayang ... Tolong Shan, Mas tidak mau kamu perlakukan seperti ini ...]


Shania menolak permintaan maaf Oon, karena rasa kecewa yang masih saja tidak percaya atas ucapannya. Membuat ia mengakhiri panggilan teleponnya, meletakkan handphone diatas meja kamar yang masih terasa asing baginya.


Entah mengapa, Shania merasa sangat hancur, ketika tiba di kediaman kedua orangtuanya, yang jauh dari kata mewah. Membuat dia terus berpikir untuk memulai hidup yang baru, walau dalam kondisi hamil seperti saat ini.


Widya yang perlahan mulai berubah, karena kehidupan yang tampak seperti rollercoaster mempermainkan kehidupan keluarganya selama ini, memilih untuk terus bersama dengan keluarga kecilnya, walau dengan kehidupan yang lebih sederhana ...


Rumah yang dulu mewah, kini harus tinggal di perumahan biasa, yang memiliki tiga kamar tidur, dan hanya menggunakan jasa satu pembantu rumah tangga, yaitu Narsih.


Widya tengah mempersiapkan sarapan untuk Shania, dengan makanan yang cukup sederhana dan bergizi, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang ada dalam kandungan putri kesayangannya.


Perlahan Widya membuka pintu kamar Shania, melihat putri kesayangannya tengah menangis terisak-isak, setelah menerima telepon dari Oon ...


"Shan ... Kamu kenapa, Nak? Apa yang sedang kamu pikirkan? Tidak baik terlalu banyak bersedih, apalagi kamu tengah mengandung. Tersenyumlah, Shan ..." usapnya pada rambut Shania yang tampak berantakan.


Shania masih terdiam, dalam isak tangis yang sangat memilukan. Bagaimana mungkin, suaminya lebih mempercayai ucapan Ibu-nya dibandingkan dirinya sebagai istri.


"Ma ... Apakah wanita yang tengah mengandung tidak boleh berpisah? Karena Shania tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Shania sudah tidak sanggup, karena Mas Oon tidak pernah mempercayai omongan aku sebagai istri, Ma ..."


Widya hanya bisa tersenyum lirih, menghela nafas berat, mengusap lembut kepala putri kesayangannya.


"Sudah, jangan pikirkan berpisah dulu untuk saat ini. Perhatikan kondisi kesehatan kamu. Mama rasa Oon belum mendapatkan bukti yang kuat, Shan. Tapi jika semua bukti sudah ada dalam genggamannya, mungkin Oon juga akan memperjuangkan kamu di hadapan Mala. Sekarang kamu makan dulu, karena Papa sudah berangkat ke toko sejak tadi subuh. Alhamdulillah Pak Hendro memesan beberapa bahan untuk perusahaannya. Jika kamu sudah mulai membaik, kamu bisa menghabiskan waktu di toko, untuk membantu usaha Mama dan Papa," titahnya untuk menenangkan perasaan Shania.


Shania menganggukkan kepalanya, ia berusaha duduk, dengan menumpukkan beberapa bantal, menjadi sandaran.


Artis papan atas, julukan itu yang pernah menaikkan nama seorang Shania Junianatha, namun harus layu sebelum berkembang karena pernikahan mendadaknya yang ternyata membawa dampak buruk karena ulah serta kebodohannya kala itu.


Saat ini Shania tidak memperdulikan tentang nama baiknya di dunia hiburan yang penuh dengan pertikaian. Ia hanya ingin melihat keseriusan suaminya dalam memperjuangkan rumah tangga untuk selalu bersama, seperti janji Oon beberapa waktu lalu padanya.


.


Di tempat yang berbeda, Mala justru tengah tertawa bahagia bersama Soraya, yang merupakan mantan istri Oon, karena mendengar Shania telah meninggalkan putra kesayangannya.


"Kamu lihat sendri kan, sayang? Apa yang telah dilakukan Shania? Dia itu takut pada ancaman saya. Makanya memilih meninggalkan Oon yang tidak pernah mendengarkan semua omongan saya sebagai orang yang telah melahirkannya ..." tawanya, ketika tengah menikmati makan siang bersama Soraya di salah satu restoran ternama kota metropolitan tersebut.


Soraya sedikit penasaran, apa yang telah dilakukan Mala pada Shania, karena ia memang tidak mengetahui tentang kejadian tersebut ...


"Emang apa yang telah Ibu lakukan pada Shania? Bukankah istri Mas Oon tengah mengandung, Bu?"


Mala mengalihkan pandangannya, menyesiasati sekelilingnya, untuk berjaga-jaga jika ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua ...


"Sebenarnya, Ibu yang telah menghempaskan wajah jallang itu di body mobil milik Shania. Waktu itu, Ibu tidak sengaja melewati apartemen karena kebetulan ada janji dengan seseorang di sana. Ibu tidak menyangka bahwa benturan itu mengakibatkan wajahnya hancur. Karena perasaan takut, Ibu kabur ... Gila saja, kalau sampai ketahuan sama petugas apartemen. Bisa-bisa Ibu masuk penjara, dan Oon akan membenci Ibu seumur hidupnya. Saat ini Ibu harus melakukan sesuatu, untuk menggugurkan kandungan Shania, karena Ibu tidak ingin memiliki cucu dari wanita jallang itu ..."


Soraya yang mendengar penuturan Mala, bergidik ngeri. Berkali-kali ia hanya menelan ludahnya, dan menoleh kearah Oon yang semakin lama, semakin mendekat pada mereka berdua ...


Sedikit berbisik, Soraya menundukkan wajahnya, melirik kearah Oon, "Bu ... Mas Oon sudah datang. Jadi lebih baik Ibu mengganti topik pembicaraan kita. Jangan bahas tentang Shania dulu, karena aku lihat Mas Oon, sama sekali tidak ingin di ganggu ..."


Mala hanya menyunggingkan senyuman tipisnya, dia tidak mengindahkan ucapan Soraya, karena baginya Oon harus menceraikan Shania dan kembali kepelukan Soraya.


"Kamu tenang saja ... Mas Oon itu sangat patuh pada Ibu. Dia tidak pernah membantah apapun ucapan Ibu. Karena Ibu ini, Ibu kandung yang telah melahirkannya. Untung si Ahmad sudah membayar hutangnya, walau sesungguhnya mereka belum membayar sisa bunga dari hutang itu, serta ginjal Oon yang ada di dalam tubuh Shania!"


Soraya semakin ketakutan, ternyata pikirannya salah selama ini. Semakin hari, semakin terlihat bagaimana sifat Mala yang begitu keji, dan tidak memiliki perasaan kasihan terhadap Shania yang jelas-jelas sudah menjadi menantu.


"Gila ni orang tua ... Mana berani aku untuk masuk lebih jauh lagi, dalam urusan keluarga mereka. Bisa-bisa aku menjadi bulan-bulanan bagi Ibu Mala, jika melakukan satu kesalahan, telah menyakiti Mas Oon ... Lebih baik aku fokus pada karir dan masa depan ku ... Karena aku tidak ingin terlibat dalam kasus anak dan menantu ini ... Dasar Ibu mertua gila ...!" geramnya dalam hati merutuki kekejaman Mala.