Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Mas Oon telah kembali



Setelah kedua-nya berjalan kaki ke warung yang berada didekat rumah Ahmad Cirendeu, Oon mengikuti langkah kaki Shania yang langsung menuju dapur, dengan membawa satu bungkus plastik berisikan ikan dan sayuran.


Oon tersenyum sumringah, ketika melihat Shania semakin terampil melakukan tugasnya sebagai seorang istri yang baik. Ia bertanya dengan penuh kelembutan, "Kok kamu jadi pinter masak sayang?"


Dengan wajah tersipu Shania sambil menuangkan beras didalam panci magic com, menjawab pelan, "Kan kamu yang ngajarin aku. Terus bagaimana rumah yang di Bogor? Dan rumah yang kita beli tiga bulan lalu, Mas? Itu enggak hutang sama bank lho. Masih ada, kan?"


Oon mengangguk, ia menyesap kopi hitam buatan Shania, "Masih. Dua rumah itu masih ada, karena pihak pelelangan tidak tahu aset Mas yang cash." Kembali ia merebahkan tubuhnya di kursi makan untuk melanjutkan ceritanya. "Mas pikir selama ini hutang bank, ibu yang bayar. Karena setahu Mas, rumah produksi itu punya Ayah yang tidak memiliki hutang. Ternyata ibu masih memperpanjang hutang itu, dan jumlahnya sangat mencekik karena ditambah bunga."


Shania menelan ludahnya sendiri, karena tidak menyangka bahwa Mala dan Beny lah penyebab Oon tidak pernah memberikan kabar padanya. Jika diuraikan satu persatu, ketakutan ibu mertuanya jika Shania masih mendampingi Oon, hanya takut dirinya akan menguasai sang suami sepenuhnya. Ternyata dengan masih tidak percaya, Oon nyata sudah miskin dan tidak memiliki cukup uang lagi setelah ia menunjukkan bukti yang ada didalam tas ransel berisikan sertifikat rumah mereka berdua.


"Jadi selama ini kamu tinggal dimana, Mas?"


"Di Bogor, Shan. Tapi syukurnya aku masih diberi kesehatan oleh Tuhan. Jadi aku bisa mengunjungi kamu di sini. Mau pindah ke rumah baru kita, aku malu. Karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli semua kebutuhan di rumah. Bagaimana jika kita menjual rumah itu, Shan? Lumayan, kita bisa merintis usaha baru atau mungkin kamu punya rencana lain?"


Mendengar permintaan suaminya, Shania terdiam. Seketika otaknya kembali bekerja dengan cepat sambil melakukan tugasnya sebagai seorang istri untuk mempersiapkan makan siang buat mereka berdua.


Perlahan Shania menoleh kearah Oon, "Aku enggak mau menjual rumah itu, Mas. Bagaimanapun rumah itu punya kita berdua. Yang di Bogor atas nama kamu, yang di dekat sini atas nama aku. Jadi setidaknya kita tidak jatuh miskin beneran. Saat ini kita lagi di uji dari segi ekonomi. Bagaimana kalau aku kembali jadi artis? Kita bisa masuk ke management yang membutuhkan artis baru, kamu jadi manager aku. Lagian sekarang kita bisa mencari kegiatan apapun melalui sosial media. Kita bisa jadi YouTubers, tik-tokers, atau apapun yang kers-kers gitu," tawanya hanya untuk menggoda Oon agar tidak terlalu larut dalam kemiskinan yang ada dalam benaknya.


Oon masih mengusap-usap bibir gelas, sambil memikirkan perkataan Shania, karena kali ini pikirannya memang terasa sangat berat semenjak jauh dari Shania.


Bagaimana tidak, tiga bulan Oon berperang habis-habisan melawan Mala, dan mendapatkan Beny telah melarikan uangnya dalam jumlah besar, sehingga membuat ia tidak mampu membayarkan para model, juga hutang bank yang ternyata tidak dibayarkan selama enam bulan, karena management menyerahkan semua kepada Beny.


Melihat kegalauan Oon karena rumah tangganya hancur berantakan dengan Shania, membuat pria yang menjadi sahabat Oon itu melakukan aksi bejatnya untuk melarikan dana dalam jumlah yang tidak main-main.


Oon datang menemui Mala untuk meminta bantuan, wanita paruh baya itu justru mengusirnya dengan cara kasar, karena tidak terima akan perlakuan putranya lebih membela Shania daripada kembali ke pelukan sang ibu ketika di rumah kecantikan tersebut.


Ingin rasanya Oon menghancurkan seluruh hidupnya, bahkan berniat untuk mengakhiri hidupnya, hanya karena mendengar makian sang ibu, 'Rasakan, aku rasa jika kau jatuh miskin seperti ini istrimu itu tidak akan pernah mau menerima mu'. Kalimat ini yang terus menerus terngiang-ngiang ditelinga Oon membuat dirinya tidak berani untuk mendekat pada Shania.


Tidak menunggu lama, Shania menghidangkan telor dadar, ikan goreng, ditambah sayuran bening pokcai yang dicampur dengan tahu. Dengan cekatan ia menambahkan bawang goreng kedalam sayuran itu agar semakin menggugah selera karena aroma wangi yang harum menyeruak ke hidung pasangan suami istri itu.


"Tara ... sudah selesai! Jadi kita tunggu nasi mateng dan makan. Wait, aku ambil sambal kecap yang aku buat tadi. Karena ikan goreng ini lawannya sambal kecap biar ada pedesnya, manis gitu kayak, Mas kuh!'' godanya pada puncak hidung Oon sambil tertawa kecil.


Yang dialami Oon, sudah sangat cukup menyakitkan. Entah apa salah dan dosanya, sehingga ia terus berfikir keras membuat berat badannya turun drastis.


Tubuh buncit itu rata, bak tergilas buldozer untuk meratakan jalanan. Tidak ada kulit yang bersih walau berwarna sawo matang. Kini kulit yang tampak kencang itu, kini sedikit mengendur karena pikiran terlalu keras.


Ketika tombol magic com terdengar berbunyi sebagai tanda nasi sudah matang, Shania tersadar dari lamunannya, bahwa ia harus segera menghidangkan makanan untuk Oon lebih cepat, dengan melihat wajah sang suami masih tampak pucat karena menahan rasa lapar sejak tadi pagi.


"Kamu kenapa enggak makan di warteg sih, Mas? Nanti sakit baru tahu rasa. Apalagi kit--," Shania menghentikan ucapannya. Lagi-lagi ia terkenang akan kebaikan Oon yang memberikan ginjalnya untuk bertahan hidup.


Seketika air mata yang sejak tadi tertahan, kini kembali terasa hangat, membuat Shania tak mampu membendung kesedihannya karena cerita sang suami sepanjang perjalanan menuju warung.


Dengan cepat Shania menyeka wajahnya, agar tidak terlihat oleh Oon bahwa ia tengah menangisi nasib pernikahan mereka yang jauh dari kata-kata bahagia.


Kembali Shania mengembangkan senyuman manisnya untuk tetap memberikan respon positif kepada sang suami agar tidak minder, ketika bertemu dengannya tanpa memberikan uang yang cukup.


Ketika Shania akan duduk di kursi makan, Oon langsung menahan lengan istrinya, hanya untuk sekedar memastikan bahwa wanita cantik itu menerimanya dengan lapang dada.


Oon mendongakkan wajahnya dengan posisi masih duduk di kursi makan, sambil menatap iris mata Shania hanya untuk merasakan getaran cinta diantara mereka, "Ka-ka-kamu enggak keberatan, kan? Kalau kita memulai semua dari awal lagi?"


Tangan Shania kemudian mengusap lembut punggung suaminya, menjawab pertanyaan Oon dengan ucapan kesejukan, "Dari dulu aku ingin memulai semua dari awal. Sekarang kita makan dulu, terus kamu mandi, kita istirahat di kamar. Nanti kalau Mama dan Papa pulang, kita ngobrol untuk mencari solusi. Sementara waktu, kita bisa tinggal di sini dulu."


Oon menggeleng tidak setuju, "Enggak Shan, bagaimana kalau kita pindah ke rumah kita saja."


Shania sangat memahami bagaimana kekhawatiran Oon tinggal dikediaman mertua. Dengan kondisi miskin seperti ini. Tapi ia, masih ada sedikit rasa percaya kepada kedua orangtuanya akan memperlakukan sang menantu dengan sangat baik.


Karena Widya selalu menjadi penyejuk bagi Shania ketika Oon masih belum menunjukkan puncak hidungnya, "Tenanglah Shan ... jika Oon masih ditakdirkan untuk menjadi suami kamu, maka ia akan datang menjemput kamu dalam keadaan apapun."


Kini semua ucapan Widya sudah menjadi kenyataan, maka dari itu Shania akan mendapatkan sebuah solusi, dari semua permasalahan yang ada kini.


"Terimakasih Ma, terimakasih Pa, Mas Oon telah kembali untuk Shania ...!"