Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Jumpa pers ...



Ditempat yang berbeda, Shania tengah bersiap-siap untuk mengadakan pertemuan jumpa pers, bersama Oon suaminya. Penampilan kedua-nya tampak menarik beberapa pasang mata.


Bagaimana mungkin, Shania yang dibalut mini dress tanpa lengan, dengan leher tertutup rapat, untuk menutupi semua tanda kepemilikan dibagian-bagian tertentu karena ulah Oon atas kemesraan mereka berdua, membuat ia tampak terlihat elegan dan sangat cantik.


"Sayang ... Bagaimana? Kamu sudah siap?" peluk Oon memeluk tubuh ramping Shania dari belakang.


Shania menganggukkan kepalanya, ia membalikkan tubuhnya, hanya untuk menatap wajah Oon yang masih jauh dari kata tampan tersebut ...


"Mas janji sama aku? Kita akan selalu bersama, demi mempertahankan rumah tangga kita? Tidak akan ada wanita lain di hati, Mas?" tanyanya pelan, sambil mengusap lembut puncak hidung Oon dengan pipi halusnya.


Oon menganggukkan kepalanya, "Mas janji, Shan. Tapi lebih tepatnya kita sama-sama membuktikan, untuk memperjuangkan rumah tangga kita."


Shania meletakkan kepalanya di dada Oon, mendengarkan denyut jantung yang terdengar tak biasa. Detakan terasa semakin kencang, membuat wanita itu hanya bisa tersenyum memejamkan matanya.


Ada segelintir ketakutan saat ini, matanya seketika berembun, karena harus menghadapi tantangan yang sangat berat di depan matanya. Menghadapi Mala, juga Soraya, membuat dia harus berpikir keras, untuk meyakinkan perasaannya.


Oon bertanya, sambil mengecup lembut kepala Shania, "Kita jalan ke ballroom sekarang?"


Shania menghela nafas berat, mengangguk perlahan, sambil mengusap lembut wajah suami yang kini ia cintai.


Dengan langkah mantap, Oon menggandeng tangan Shania, menuju ballroom hotel, yang telah dipersiapkan oleh Beny untuk melakukan jumpa pers, demi mengembalikan nama baik seorang Shania Junianatha.


Entah berapa banyak kamera mengambil foto-foto mereka saat melangkah memasuki ballroom, bahkan tampak beberapa dari media yang sengaja menjatuhkan Shania beberapa waktu lalu, atas permintaan Eric selaku pihak manajemen lamanya.


Shania duduk di tengah, dengan wajah tampak tidak percaya diri. Beberapa kali ia menyembunyikan wajah cantiknya, dibelakang tubuh Oon, karena tidak ingin bertemu dengan awak media.


Cukup lama Shania benar-benar menutup diri dari berita-berita yang sangat menyakitkan kedua keluarganya, sehingga menjadi bulan-bulanan Mala untuk menghakimi seorang menantu yang tidak suci lagi.


Beny selaku orang kepercayaan Oon, memberi ruang pada Shania untuk berbicara lebih dulu ...


Berkali-kali Shania menghela nafas berat, mendehem, dan menggenggam erat jemari Oon, saat matanya tertuju pada Soraya yang berdiri di pintu masuk ballroom.


"Sial, ngapain wanita itu menatap lekat kearah ku ...! Apakah dia tidak yakin, bahwa aku akan melakukan jumpa pers hari ini ...?" sesalnya dalam hati.


"Mba Shania Junianatha. Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarnya, Mba?" sapa seorang wartawan yang duduk di nomor dua, saat mengambil beberapa foto momen Shania dan Oon, yang masih enggan untuk menatap kearah kamera.


Shania berusaha untuk tetap tenang, "Ya ... Hai! Maafkan saya, mungkin beberapa waktu lalu lebih menutup diri, karena ada beberapa hal yang harus saya selesaikan. Kini saya menegaskan pada semua awak media tentang status sa-sa-sa-saya ..." lagi-lagi ia melirik kearah Oon, yang juga menatapnya dengan senyuman.


Wartawan yang tidak sabar dengan steatmen Shania, langsung menyela ucapan wanita itu ... "Bagaimana status mu, Mba Shania?"


"Hmm status saya saat ini, adalah sebagaimana yang telah kalian lihat, bahwa Mas Oon is my husband ... Beliau telah menjadi suami saya selama delapan bulan lebih, bahkan saat ini kami sangat merindukan kehadiran seorang baby," ucapnya dengan suara bergetar, dan mata berkaca-kaca.


Suara tepuk tangan, menggema di ruangan ballroom tersebut, membuat dada Soraya semakin mendidih bahkan terasa sangat sesak mendengar penuturan Shania Junianatha.


"Sekali lagi saya minta maaf, kepada kedua orang tua saya, serta kepada Ibu mertua saya, karena telah melakukan hal yang sangat memalukan bagi keluarga beberapa waktu lalu. Saya juga mohon maaf pada Mas Oon, yang selalu sabar menemani saya selama ini. Terimakasih atas dukungan dari semua pihak, saya mohon izin ..."


Shania menundukkan wajahnya, merangkul tubuh Oon yang menyambutnya dengan pelukan hangat, hanya bisa menahan beban yang teramat sangat ...


"Maaf Mas, bawa aku pergi. Shania enggak suka berada di situasi ini ..." isaknya.


Oon yang mengerti dengan kondisi Shania, memilih melindungi istrinya, dari berbagai pertanyaan wartawan yang langsung bertubi-tubi menghampiri mereka berdua.


"Ma-ma-maaf Mas Oon, Mba Shani, bagaimana nasib karir Mba saat ini? Apakah akan kembali ke dunia hiburan? Atau jangan-jangan enggan kembali ke layar televisi?"


Oon dan Shania justru berlalu meninggalkan ballroom, yang langsung diambil alih oleh Beny selaku orang kepercayaan Oon.


"Mas, Mas Oon. Kita belum selesai jumpa pers. Apakah yang dimaksud pria 'KETERBELAKANGAN MENTAL' itu Anda Mas Oon?" teriak salah satu wartawan, membuat Shania yang tak mampu berkata-kata hanya bisa melayangkan satu bogeman mentah kepada salah seorang wartawan yang sejak tadi mendekatinya.


BHUUG ...!


"Aaagh!" pekik semua orang yang berada di ballroom tersebut.


Shania menantang para wartawan, "Dengar yah! Semua pernyataan saya beberapa waktu lalu tentang pria keterbelakangan mental itu merupakan rencana dari pihak Eric! Pihak manajemen lama saya. Tolong hentikan berita ini, sebelum saya membawa semuanya ke jalur hukum!" tegasnya.


Akan tetapi, suasana semakin ricuh, bahkan semakin banyak gosip miring tentang Shania yang merasa tertekan bahkan tidak dapat menerima takdir tentang pernikahannya yang sudah terjadi.


Benar saja, beberapa wartawan membandingkan foto Rizal juga Oon yang jauh dari kata tampan, namun demikian tidak menyulutkan niat mereka untuk terus bersama dalam ikatan pernikahan.


Masalah baru muncul kembali, karena pukulan Shania pada wartawan, membuat pemberitaan semakin simpang siur sebelum acara Grammy award di mulai pukul 20.00 waktu Indonesia barat.


Shania kembali menangis di dekapan Oon, karena satu kesalahan yang ia lakukan ketika berada dikamar hotel, sambil berkata, "Mas ... Maafkan aku! Bagaimana jika mereka melaporkan aku ke polisi! Aku hanya tidak suka membahas tentang kata-kata itu, Mas! Hati ku semakin mendidih jika membayangkan kalimat itu terlontar. Karena kebodohan ku, kita jadi begini, Mas!" isaknya.


Tak banyak bicara, Oon hanya bisa menahan amarahnya. Jujur ada setitik kekecewaan karena sikap Shania, namun ia tidak dapat berkata-kata lagi, karena ingin menjaga perasaan sang istri.


"Mas yang meminta maaf sama kamu, karena terlalu cepat meminta agar kamu berhadapan dengan wartawan. Sesungguhnya kamu belum siap untuk berhadapan dengan mereka. Sudahlah, kita akan menyelesaikan semua ini bersama. Nanti Bang Husin yang akan menyelesaikan nya. Yang penting jika mereka tidak terima akan perbuatan kamu, biasanya mereka akan meminta kita mengajukan surat permohonan maaf secara tertulis ..." jelasnya.


Shania menatap sendu iris mata Oon, "Bagaimana jika mereka menuntut aku dengan uang, Mas?"