
Lebih dari dua jam Oon duduk di koridor rumah sakit. Ada sedikit perasaan kesal di hati Oon ... Karena perbuatan Mala yang sangat menyesakkan dada.
Oon hanya menunggu Widya juga Beny di rumah sakit, jika mertuanya telah tiba di rumah sakit, pria yang belum memiliki waktu untuk merawat tubuhnya tersebut akan mendatangi kediaman orang tua yang cukup jauh dari keberadaannya saat ini.
Tak terasa air mata Oon menetes dengan sendirinya, mengingat dia harus kehilangan buah hati yang ia yakini dapat memperkuat hubungannya dengan Shania Junianatha.
"Apa yang harus aku lakukan jika Shania benar-benar tidak ingin kembali ke apartemen? Apakah kami harus tinggal di rumah kecil itu? Aku tidak ingin menyakiti Shania lagi dan harus percaya padanya juga melindungi dia. Karena begitu banyak yang ia alami semenjak menikah dengan ku ..." Hanya pikiran itu yang ada dalam benak Oon saat itu.
Perlahan Oon menoleh kearah Widya serta Ahmad, yang datang berbarengan dengan Beny.
Bergegas Widya bertanya kepada Oon, "Bagaimana Shania, Nak?"
Oon menundukkan kepalanya, hanya bisa menahan tangis dan menjawab, "Anak Oon ti-ti-tidak bisa di selamatkan, Ma!"
Widya terduduk di kursi yang tersedia di koridor rumah sakit. Entahlah, ada perasaan yang sangat menyakitkan di hatinya. Ia tidak menyangka bahwa salad yang ia terima dari Mala untuk Shania, ternyata bercampur dengan obat-obatan keras yang sangat membahayakan janin putrinya.
"Kau kejam Mala! Kau sangat kejam ..." geram Widya mengepalkan kedua tangannya.
Widya berdiri, menatap lekat kearah Oon, kemudian berkata, "Kamu jaga Shania! Mama dan Papa akan menemui Mala! Bahkan Mama tidak ingin kalian terus di sakiti Ibu mu sendiri!
Oon tak mampu berkata-kata, apalagi menahan ibu mertuanya, yang ternyata sangat peduli pada dirinya juga Shania.
"Ma, lebih baik Mama yang menjaga Shania, biar Oon yang menemui Ibu!" pintanya agar tidak terjadi sesuatu kepada kedua orangtuanya.
"Tidak-tidak-tidak! Kamu suaminya, lebih baik Mama yang membicarakan ini pada Mala! Kabari Mama jika terjadi sesuatu!" tegasnya menarik lengan Ahmad dan meninggalkan rumah sakit.
Oon hanya bisa pasrah, dia tidak ingin berdebat, kemudian mengajak Beny untuk duduk di depan ruangan Shania.
Tidak menunggu lama, Dokter Desy keluar dari ruangan tindakan, dan langsung mengarahkan pandangannya kepada Oon sambil tersenyum dan berkata ...
"Ibu Shania sudah bisa pulang lebih kurang satu jam lagi, Pak. Kalau bisa di tunda dulu untuk kehamilannya lebih kurang dua atau tiga bulan. Biar rahimnya bisa menerima pembuahan lagi. Saya turut berduka ya, semoga jika hamil lagi dapat gantinya lebih dari satu," jelasnya dengan sangat ramah.
Oon hanya bisa tersenyum tipis, menunjuk kearah ruangan Shania, "Bi-bi-bisa saya masuk keruangan, Dok?"
Dokter Desy menganggukkan kepalanya, "Oogh ... Tentu boleh. Tapi Ibu Shania jangan sampai berpikir yang berat-berat dulu. Karena biasanya keguguran ini selain dari makanan, bisa jadi karena tekanan dan tingkat stress yang tinggi. Saya mendoakan agar cepat pulih ya Pak. Saya permisi," senyumnya meninggalkan Oon juga Beny yang berdiri berdekatan.
Beny tersenyum tipis melirik kearah Oon, sambil berkata untuk menguatkan sahabatnya, "Sudah ... Mudah-mudahan dapat anak kembar lima setelah ini! Jadi gugur satu, tumbuh lima! Banyak anak, banyak rejeki On!"
"Hmm ...!" Oon hanya mendehem tak menghiraukan ucapan sahabatnya.
Mereka masuk kedalam ruangan, terlihat Shania yang masih terbaring lemah, bahkan wajah yang menyiratkan bahwa saat ini dia lelah.
Oon menghampiri Shania, menggenggam jemari tangan istrinya, mengecup lembut punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang, "Yang kuat ya sayang. Bagaimana kamu sudah di perbolehkan pulang, mau pulang sekarang atau nanti?"
"Mas, aku pengen pulang ke rumah Mama. Aku takut Mas, kalau tinggal sendiri di rumah kita, atau di apartemen. Nanti hmm eee ..."
Oon langsung mengusap lembut kepala Shania, hanya untuk menenangkan sang istri ... "Kamu bisa tinggal di rumah dulu. Karena Mas yang akan merawat kamu. Nanti kalau sudah agak enakan, kita akan mencari rumah lebih dekat dengan Mama kamu. Kalau kamu di rumah Mama, Mas enggak enak. Karena kondisi kita lagi seperti ini. Mas enggak mau ada perdebatan panjang sama Ibu. Kamu mengerti, kan?"
Shania hanya bisa tersenyum tipis, menuruti semua permintaan Oon. Walau sesungguhnya hatinya menolak karena tidak ingin melanjutkan pernikahannya.
Ada ketakutan di hati Shania untuk tetap bertahan, karena selalu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari ibu mertuanya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Oon membawa Shania untuk kembali ke rumah, tentu dengan bantuan Beny yang membawa mobil pribadi milik pria bertubuh subur itu.
.
Sangat berbeda dengan kejadian yang sangat mengejutkan di kediaman Mala.
Kedua orang tua Shania benar-benar murka karena kelakuan besannya yang di luar pikirannya.
BRAAK ...!
Widya memaksa untuk menerobos masuk kedalam rumah, saat pintu ruang tamu hanya terbuka sedikit oleh asisten rumah tangga wanita paruh baya itu ...
"Mana Mala! Mana dia!" teriak Widya, saat masuk kekediaman mewah milik Mala.
Dengan langkah angkuh, Mala keluar dari kamar miliknya, menghampiri Widya yang menatap nanar kearahnya.
"Hmm berani sekali kau datang, membuat keributan di kediaman ku malam-malam begini! Oogh apakah kau datang kesini untuk membayar bunga dari hutang-hutang mu?" ejeknya menyeringai lebar.
Widya mendorong bahu Mala, karena tidak kuasa menahan amarahnya, "Apa yang kau kasih kedalam box salad tadi siang Mala! Shania keguguran, dan aku kehilangan cucu ku! Cucu kita Mala!" teriaknya lantang.
Mala mendengus dingin, ia justru berpura-pura terkejut, dengan meletakkan tangan kanannya di bibir, "Hah ... Bukankah itu yang kamu berikan pada Shania? Kenapa kau menuduh aku, Widya. Seharusnya kau yang salah, kau yang berniat untuk menyakiti putri mu! Bukan aku. Lagian, apa untungnya aku melakukan semua itu? Tidak ada, kan? Jadi kau tidak bisa menuduh ku, jika tidak ada bukti, Widya!" hardiknya.
"Sial kau, Mala!"
PLAAK ...!
Widya berhasil melayangkan satu tamparan keras di pipi Mala, membuat wanita paruh baya itu tersulut emosi, berusaha untuk membalas, namun di tepis oleh Widya dengan cepat.
Dengan wajah garang Widya menatap lekat mata Mala, dengan tangan bergetar meremas kuat tangan Mala, yang berhasil ia tepis, dengan jantung semakin berpacu untuk menyakiti wanita paruh baya tersebut, mencoba mengingatkan ...
"Dengar Mala! Jika Oon mencintai Shania, dan tidak ingin meninggalkan putri ku, itu hal yang wajar! Karena mereka sudah menikah! Tapi jika kau ingin menyakiti putri ku, dan berniat untuk memisahkan mereka berdua, KAU SALAH BESAR!!! Karena aku akan melindungi putri ku, juga menantu ku! Kau paham!!" tegasnya.
"Sialan kau, Widya! Kau jebak putra ku dengan pernikahan jahanam ini! Kau langkahi dulu mayat ku, baru bisa mereka bahagia!" geram Mala semakin mencaci-maki besannya tersebut.