
Berulang kali tangan Oon membolak-balikkan semua berkas yang Beny berikan padanya. Sambil memijat pelipisnya, sesekali menelan ludah. Nilai yang disebutkan, sangat fantastis, bahkan lebih menggiurkan dari nilai sekelas FTV.
"Aku kehilangan kontak istri ku, Ben! Bagaimana jika kamu menghubungi Shania. Apakah dia akan menjawab?"
Beny mengangguk setuju, dia mencoba menghubungi istri sahabatnya itu, untuk memberi kabar tentang film yang akan menaikkan namanya kembali. Tentu dengan iming-iming pembayaran di muka senilai 30%.
"Sama sekali tidak ada jawaban! Apakah Shania mengenal nomor telepon pribadi ku? Kenapa dia tidak mau menjawab panggilan telepon dari nomor 10 digit?" sombong Beny.
Lagi-lagi Oon hanya tersenyum tipis, kembali bertanya, "Apakah kamu mengetahui toko tekstil Ahmad Cirendeu? Coba kamu tanya sama Eric. Atau mantan manager Shania yang lama. Kamu kan mengenal mereka, jadi kita bisa mencari keberadaan Shania. Sudah dua minggu aku tidak dapat kabar dari istriku! Apalagi dia lagi hamil, Ben!" tegasnya.
Tanpa pikir panjang, Beny hanya menjawab singkat ... "Oke ..."
Beny menghubungi Sita, yang menjadi manager Shania beberapa waktu lalu ...
[Ya ...]
[Ta ... Kamu tahu di mana letak toko Pak Ahmad? Aku ingin membeli beberapa bahan untuk bahan ...]
Entah mengapa, Sita hanya mendecih, karena enggan memberikan jawaban atas pertanyaan Beny.
[Ck ... Enggak ada tempat lain apa? Kamu beli bahan? Kenapa mesti di sana]
Berkali-kali Beny mengepalkan tangannya, namun memberi jawaban dengan nada lembut, selembut kapas ...
[Tolong dong. Aku butuh banget, karena kami tidak mendapatkan toko yang bisa mengantarkan dengan cepat, deadline ...]
[Oke, aku share saja sama kamu. Sebenarnya aku malas buat bantu kamu, tapi karena kita sudah lama berteman, lebih baik aku memberitahu. Emang sih, kalau sama toko mereka mau mengantarkan kapan kita perlu. Papa-nya Shania itu bisa dikatakan propesional ...]
Namun telepon sengaja Beny tutup, karena tidak ingin berlama-lama, dengan mengirim pesan melalui whatsApp, bahwa jaringan handphone miliknya mati begitu saja.
Tidak menunggu lama Beny menerima dimana keberadaan lokasi toko milik keluarga Ahmad.
"Dapat! Kita jalan sekarang!" tegasnya.
Tak menunggu lama, mereka meninggalkan gedung perkantoran, menuju toko milik mertua Oon. Kali ini Oon hanya ingin bertemu dengan Shania, karena perasaan khawatirnya.
Mereka memasuki daerah tanah abang, sesuai lokasi yang di kirim Sita.
Benar saja, ketika mereka memasuki daerah tanah abang, seketika kedua bola mata Oon tertuju pada sosok wanita yang tengah duduk di salah satu toko sambil mengenakan masker, tanpa menyadari akan kehadirannya.
Bergegas Oon menarik lengan Beny, menunjuk kearah Shania, yang baru menyadari kehadirannya ...
"Shania!" teriak Oon tanpa perasaan sungkan.
Oon langsung berhambur mendekati meja kasir yang terasa sangat sesak dengan beberapa buntelan barang-barang toko milik mertuanya, menghampiri Shania tanpa memperdulikan keberadaan mertuanya.
"Shania! Shania!" peluk Oon ketika berhasil meraih tubuh ramping istrinya.
Shania merasakan hal yang sama seperti Oon, langsung memeluk tubuh subur suaminya, tanpa banyak bicara. Air mata keduanya mengalir begitu saja, karena perasaan nyaman yang tidak pernah berubah.
Oon bertanya, menangkup wajah cantik sang istri, "Kenapa handphone kamu tidak aktif, Shan? Kamu sengaja menghindar dari Mas?"
Shania menggelengkan kepalanya, "Handphone aku hilang Mas. Sudah dua atau tiga hari. Aku sengaja di sini, untuk mengusir kejenuhan saja. Menemani Papa sama Mama," senyumnya mengembang lebar.
Shania langsung menggeleng sebagai isyarat tidak setuju, karena trauma akan kelakuan Ibu mertuanya. "Untuk sementara waktu aku sama Mama dan Papa saja, Mas. Ternyata asyik, berjualan seperti ini, dan aku menginginkan ada bisnis yang bisa aku kembangkan untuk anak kita nantinya ..."
Karena perasaan lega, Oon hanya terus mengusap lembut punggung istrinya, mengecup lembut kepala yang meneteskan keringat tanda terlalu lama duduk dan merasa kelelahan.
Oon menatap kearah Ahmad, menghampiri Papa mertuanya, mencium punggung tangan selayaknya anak pada orang tua, sambil berkata ...
"Oon bawa Shania ya, Pa!"
Ahmad menoleh kearah Shania, menatap iris mata putrinya, hanya ingin mendapatkan isyarat, sebelum memberi izin pada Oon.
Shania mengangguk pelan, kemudian tersenyum tipis, mencari keberadaan tas miliknya.
"Kita mau kemana, Mas? Boleh istirahat saja enggak di hotel terdekat? Aku capek sekali," rengeknya meringkuk di lengan Oon.
Oon mengangguk setuju, karena dia dapat merasakan tubuh Shania sangat kelelahan, karena duduk terlalu lama.
Mereka keluar dari tanah abang, karena terlalu ramai pengunjung, membuat sesak ketika berada di sana.
"Ki-ki-kita makan dulu ya, sayang. Ada yang mau dibahas oleh Beny sama kamu," cerita Oon ketika sudah berada di parkiran.
Shania mengangguk setuju, memasuki mobil dengan cepat, karena merasa sangat kelelahan. Usia kandungan yang masih dalam trimester pertama, membuat dia merasa sedikit pucat, di tambah kaki yang semakin bengkak, karena terlalu lama duduk di toko orangtuanya.
"Hah ..." Shania melepaskan nafasnya yang tadi sedikit sesak.
Beny yang merasa menjadi obat nyamuk bagi kedua insan suami istri itu, hanya tersenyum tipis melirik kearah Oon.
"Kita mau makan dimana, bro?"
Oon menoleh kebelakang, "Kita makan dimana sayang?"
Dengan cepat Shania menjawab, "Di hotel saja bagaimana, Mas? Aku mau istirahat sebentar saja. Karena lelah sekali rasanya. Entah kenapa akhir-akhir ini kondisi tubuh ku kurang sehat. Mau tinggal di rumah tidak ada teman," ceritanya.
Oon mengangguk mengerti, "Kita ke hotel yang dekat bundaran HI saja. Kita bisa memesan makanan lewat aplikasi. Sambil membahas pekerjaan kita," jelasnya, dengan perasaan berbunga-bunga.
Oon kembali menoleh kearah Shania, namun istrinya sudah tertidur pulas, "Ben ... Kamu antar aku pulang saja ke Bogor. Tidak usah ke hotel. Karena Shania sudah tertidur. Aku khawatir kenapa-kenapa sama kandungan istriku. Jadi besok aku tidak ke kantor!"
Beny mengikuti semua perintah Oon, melajukan kendaraannya menuju kediaman sahabatnya itu yang berada di Bogor.
Bagaimanapun, ada setitik kerinduan bagi Oon juga Shania, mengingat rumah kecil itu yang sudah semakin nyaman untuk keluarga kecil mereka. Tidak ada yang mengetahui siapa mereka, walau sesungguhnya banyak orang yang curiga.
Lebih kurang dari tiga jam perjalanan, akhirnya mobil hitam itu terparkir didepan carport minimalis milik Oon.
"Aku langsung yah, On! Aku makan sendiri saja di daerah sini. Kalau ada apa-apa kabari saja. Besok aku pinta sopir untuk mengantarkan mobil mu!"
Oon hanya mengacungkan jempolnya, setelah Beny membantu untuk membukakan pintu utama rumah minimalis tersebut.
Akan tetapi, ketika Oon telah berhasil meletakkan tubuh Shania diatas ranjang peraduan mereka, wanita itu meringkuk, dan merintih kesakitan ...
"Mashh ... Augh ..." Shania meremas kuat lengan Oon, karena tak kuasa menahan rasa sakit di bagian perutnya.
"Shan ... Kamu baik-baik saja?"