
Sudah lebih dari satu bulan kedua insan suami istri itu menghabiskan waktu mereka sebagai partner dalam berbisnis.
Benar saja, Shania yang selama ini diketahui oleh Oon hanya sebagai wanita manja, tidak memiliki keahlian selain menjadi aktor dalam seni peran. Ternyata memiliki bakat terpendam sebagai pedagang online yang sangat cekatan.
Beberapa pakaian yang Shania coba karena menerima orderan yang tak kunjung berhenti mengalir dari para pelanggan mereka, membuat kedua-nya bisa menghela nafas saat ini, walau masih belum sekaya dulu.
"Bagus enggak, Mas? Ta-ta-tapi perutku buncit banget ya, apa benar aku hamil? Kalau ia ... kenapa aku tidak merasakan pusing dan mual selayaknya wanita hamil pada umumnya, Mas?" Senyumnya mengembang lebar, sambil berputar-putar didepan cermin kamar mereka.
Oon berdiri mendekati Shania, memeluk tubuh istrinya yang semakin tampak berisi, "Dari kemaren Mas bilang sama kamu, Shan. Kita cek ke dokter. Karena sudah hampir dua bulan kamu tidak periode. Kalau kamu hamil lagi, Mas sangat bahagia. Semoga saja anak kita selalu sehat, dan tumbuh dengan baik. Jika tidak, kita harus berusaha terus, sayang." Kecupnya pada cerug leher Shania dari arah belakang, sambil mengusap-usap lembut perut sang istri yang benar-benar semakin terasa padat.
Shania berpikir sejenak, kemudian membalikkan posisinya agar saling bertatapan dengan sang suami. "Hmm ... tabungan kita sudah berapa, Mas? Kalau tidak salah, sudah terkumpul lebih dari empat jutaan. Bisakah kita melakukan pemeriksaan hari ini? Mas enggak ada rencana keluar rumah, kan?"
Dengan senyum yang mengembang lebar, Oon menggelengkan kepalanya, "Mas kemaren hanya mengantarkan uang Mama. Karena Mas rasa kita belum membutuhkan, eeh ternyata Mama memberikan uang hasil penjualan mobil sport kamu. Makanya hari ini Mas mau ngajakin kamu membeli mobil, dan memeriksakan kondisi kamu. Bagaimana?"
Shania mengangguk setuju. Ia sangat bahagia ternyata masih memiliki harta dari hasil keringatnya selama menjadi artis ternama. Walau hanya cukup untuk menutupi semua kebutuhan rumah mereka yang semakin nyaman dengan tambahan beberapa furniture tanpa memberatkan kedua orang tua wanita cantik itu.
Kembali Shania bertanya pada Oon, "Emang masih sisa berapa, Mas uang kita?"
Oon menyentuh puncak hidung sang istri yang bertanya seolah-olah tidak mengetahui tentang keuangan mereka, "Kan Mas masukin semua ke account kamu, sayang. Cukup buat beli mobil yang kamu sukai. Dan kita harus berhemat karena Mas yakin, kamu lagi hamil. Mas tidak mau kejadian beberapa bulan lalu, terjadi lagi sama kita. Mas Oon sayang banget sama kamu, Shan!" Geramnya memeluk erat tubuh sang istri yang enggan beranjak dari dekapan suami tercinta.
Ya ... kini Shania seperti mendapatkan Oon yang dulu. Oon yang selalu memberikan perhatian padanya, sehingga tidak sedikitpun membiarkan wanita itu kesusahan ataupun bersedih.
Begitu juga sebaliknya, Shania melakukan tugasnya sebagai istri pria yang tidak tampan, akan tetapi sangat bahagia karena kasih sayang tercurah sepenuhnya dari sikap sehari-hari Oon.
Kedua-nya bersiap-siap untuk segera menuju salah satu pusat jual beli otomotif hanya untuk mencari mobil yang sesuai kebutuhan mereka.
Kini Shania ataupun Oon tidak memperdulikan tunggangan ataupun penampilan mereka berdua, yang hanya menggunakan taksi online.
Seperti biasanya, Shania lebih memilih menutupi wajah cantiknya menggunakan masker, begitu juga Oon. Kini mereka lebih berhati-hati, agar tidak diketahui oleh pihak lain, untuk menutupi siapa diri mereka sebenarnya.
Ketakutan Shania semakin besar, ketika melihat sekelompok ibu-ibu sosialita yang selalu terbayang kejadian bersama Mala di pusat kecantikan.
"Mas!" Remasan tangan Shania pada baju Oon, ketika mereka memasuki salah satu toko otomotif yang menyediakan bermacam-macam jenis mobil bekas.
Betapa terkejutnya Oon, ketika matanya tertuju pada mobil lamanya yang berwarna hitam. Dadanya seakan-akan bergemuruh ingin meledak, karena baru kali ini melihat mobil itu tidak terawat selayaknya kendaraan kesayangan.
Benar saja, pihak showroom mobil mengatakan seraya bertanya, "Mobil ini baru satu mingguan ada di toko kami, Mas. Dijual oleh wanita paruh baya. Apakah Mas tertarik dengan mobil yang terparkir di samping itu?"
Tatapan mata Oon yang masih tertuju pada mobil berwarna hitam itu, lagi-lagi menggeleng sambil menyentuh punggung tangan Shania yang masih berada di lengannya.
"Kami hanya melihat-lihat, tidak ingin membeli mobil seperti itu. Kami hanya ingin membeli satu city car yang cukup untuk kami berdua!" titahnya mengalihkan pandangannya kearah mobil buatan Jepang berwarna silver.
Pelayan showroom langsung membuka kedua tangannya, mempersilahkan Oon melihat-lihat mobil yang menarik perhatian kedua insan suami istri itu ketika mendekati satu mobil yang hanya memiliki tempat duduk empat penumpang.
Shania tertawa kecil mendengar celotehan Oon, sambil menjawab dengan penuh perasaan bahagia, "Apaan sih, Mas. Mobil ini juga buat kerja kamu kalau ambil barang ke toko Mama. Yang pasti kita rawat rumah dan harta kita yang masih tersisa, tanpa ada campur tangan orang tua juga pihak ketiga lainnya. Kamu sudah janji sama aku, untuk terus bersama apapun kendalanya, nanti!"
Kedua-nya melakukan transaksi untuk satu unit mobil Jepang, dan menyerukan tawa canda mereka secara live untuk menjadi bukti, bahwa mereka tidak jatuh miskin seperti yang dibayangkan para pihak heaters juga orang-orang yang sengaja membully mereka melalui akun fiktif atas perintah Mala.
Begitu banyak mereka menerima hujatan juga hinaan, ketika sering muncul di YouTube juga tik tok. Membuat mereka tidak memperdulikan apapun tentang perkataan orang-orang yang menghina secara fisik serta masa lalu Shania Junianatha.
Sebutan 'pelakor' masih terus di ucapkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Shania, membuat mereka berdua menutup telinga, juga jari untuk membalas satu persatu pesan yang selalu muncul di setiap tayangan live kedua-nya.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di showroom mobil bekas, kini mereka telah berada di sebuah rumah sakit ibu dan anak di wilayah Depok.
Shania masih meringkuk dipundak Oon, hanya karena merasa kelelahan tak seperti biasa. Tubuhnya seketika sempoyongan setelah menikmati makan siang mereka disalah satu warung sate tegal untuk menikmati semangkuk tongseng kambing, juga sate kambing dengan saus kacang.
Oon yang tidak merasa khawatir melihat kondisi sang istri, mengusap lembut kepala Shania dengan penuh kasih sayang. "Kamu capek banget, ya?"
Perlahan Shania mengangguk meng'iya'kan, dengan mengusap lembut perut yang terasa sangat penuh. "Kayaknya aku kekenyangan banget. Semoga saja, kalau aku hamil semua baik-baik saja ya, Mas?"
Dengan tatapan mata penuh cinta, Oon menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Kalau kamu benar-benar hamil, kamu stop dulu untuk life, dan kita meneruskan untuk fokus pada toko online kita yang sudah aku daftarkan di beberapa pusat perbelanjaan online milik kita. Yang penting kamu tidak boleh capek-capek!"
Ketika mereka tengah asyik berbincang-bincang selayaknya dua insan yang baru mereguk kebahagiaan rumah tangga. Terdengar pihak perawat memanggil nama, "Ibu Shania!"
"Ya, Shania!" Oon mengacungkan tangannya, kemudian membantu Shania untuk berdiri dan mendekati sang perawat rumah sakit.
"Ogh, silahkan Mas," sapa perawat itu dengan sangat ramah, kemudian membuka pintu ruangan dengan sangat lebar dan menutup kembali.
Bergegas Oon membawa Shania masuk keruangan dokter ahli kandungan tersebut, menyapa selayaknya pasangan pengantin baru.
Tanpa basa-basi, dokter ahli kandungan yang bernama Fery itu meminta Shania untuk berbaring di bangkar yang tersedia, hanya untuk melakukan pemeriksaan USG setelah berbincang ringan tentang keterlambatan masa periode Shania.
Shania tampak gugup. Ia terus meremas kuat tangan Oon yang berada di sisi kirinya, setelah perawat itu memberikan cream diatas perut yang sudah terbuka.
Dokter Fery, meletakkan alat USG di atas perut Shania, dengan mata menatap kearah layar lima dimensi dihadapannya.
Betapa terkejutnya Dokter Fery, ketika melihat lima janin yang berkembang sempurna didalam rahim Shania.
"I-i-ini ya, Bu Shania! Ibu benar-benar hamil dengan lima janin yang tumbuh sehat didalam rahim ibu. Usianya sudah menginjak tujuh minggu."
Wajah Oon yang masih tampak culun, sontak tersedak karena mendengar lima janin yang ada didalam rahim Shania membuat dirinya semakin tidak percaya.
"Uhug, uhug, uhug ... a-a-a-apa dok? Apakah Anda tidak salah? Apa mungkin anak saya ada lima? Ka-ka-karena saya melakukannya hanya sekali setiap malam, ti-ti-tidak berkali-kali!"