Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
I love you too, Mas Oon ...



Ketika kamar tertutup rapat, Shania memeluk erat tubuh Oon. Dia memeluk seakan-akan tidak ingin kehilangan pria subur yang kini telah menjadi belahan jiwanya.


Oon yang menyadari perubahan istrinya, mengusap lembut punggung Shania, dan bertanya, "Sayang, kamu kenapa? Ada apa? Apakah kamu tidak mau mengatakan pada media bahwa Oon suami kamu?"


Shania menggelengkan kepalanya, "Bukan itu Mas. Tapi sepertinya perjuangan aku akan lebih sulit. Ditambah lagi dengan Soraya merupakan wanita pilihan Ibu kamu. Dan kalian pernah menikah. Aku hanya takut, Mas. Takut jika suatu hari nanti kamu kembali pada Soraya," ia mengalihkan pandangannya, dengan mata berkaca-kaca.


Oon tersenyum lega mendengar penuturan Shania, perlahan tangan kekar itu mengusap lembut punggung istrinya, membawa wanita cantik itu untuk duduk di sofa kamar yang sudah tersedia berkata perlahan ...


"Ji-ji-jika kamu memberikan seluruh hidup, cinta, dan kasih sayang mu kepada Oon, kita akan selalu bersama, apapun yang terjadi. Oon akan menjadi suami yang baik, bahkan siap mengikuti arahan kamu untuk hidup sehat. Ditambah, kita hanya memiliki satu ginjal, Shan. Oon mau kita sama-sama belajar untuk saling memahami dan mengingatkan. Oon akan menghadapi Ibu, jika benar-benar itu terjadi."


Shania menganggukkan kepalanya, dia mengusap lembut perut buncit Oon, yang sangat lucu dan menggemaskan, "Mas mau cicipin masakan aku enggak? Tapi sudah dingin, tadi aku makan hanya sedikit, dan sekarang lapar lagi. Kalau aku gendut enggak apa-apa kan, Mas?" godanya.


Oon tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan istrinya, beberapa kali ia menggeleng karena tertawa geli membayangkan bagaimana kiranya istri langsingnya itu berubah menjadi gemuk seperti dirinya ...


"Pasti seru deh, kalau kita sama-sama gemuk! Dan kita pasti jadi ejekan banyak orang ..." tawanya, sambil mencondongkan tubuhnya dihadapan Shania.


Namun, lagi-lagi Shania selalu menyambut tubuh Oon yang duduk dihadapannya, dengan lebih menenggelamkan tubuhnya di sofa.


Oon hanya mengecup lembut bibir Shania yang selalu siap menyambut ciumannya, sambil berkata, "Kenapa kamu lebih mudah pasrah akhir-akhir ini, Shan. Bahkan kamu lebih sensitif jika Mas sentuh. Hmm apakah kamu benar-benar sudah siap untuk menjadi istri yang penurut?" godanya menggesekkan puncak hidung mereka berdua.


Shania justru langsung mengalungkan tangannya keleher tegap Oon, menjepit kuat pinggangnya dengan kedua kaki jenjangnya.


Bisikan-bisikan manja yang keluar dari bibir Shania membuat Oon benar-benar mengerti akan apa yang dirasakan sang istri.


Dengan sigap, Oon menggendong tubuh Shania untuk beranjak ke atas ranjang kingsize kamar hotel yang terasa sangat indah.


Baru pertama kali keduanya, menginap di hotel setelah delapan bulan pernikahan mereka, membuat kedua-nya benar-benar menikmati momen indah berdua yang sangat berbeda.


Lampu kamar yang tampak remang, ditemani alunan musik yang terdengar dari televisi, membuat Oon juga Shania menikmati keindahan malam berdua sebagai pasangan suami-istri yang bahagia.


Bahagia, hanya itu yang selalu Oon ciptakan untuk Shania, demi menyelamatkan rumah tangganya, dari serangan pihak ketiga termasuk Mala selaku orangtuanya.


Berkali-kali Shania mengeerang manja, mendessah hebat, bahkan menggeliat lebih liat bak penari erotis yang kehausan akan hal itu.


Oon sebagai seorang pria normal, yang sangat menyukai keindahan, tak pernah berhenti membahagiakan Shania yang semakin lama semakin menggemaskan.


"Mau berapa kali lagi sayang ...?" kecup Oon sebelum menghentakkan pinggulnya untuk mencapai pelepasan surganya ...


Shania hanya menatap wajah Oon dengan penuh perasaan cinta yang bahagia, "Mashh jangan berhenti, aku pengen terus ..." rintihannya membuat Oon semakin bersemangat untuk memompa lebih cepat dibawah sana.


Cukup lama mereka bergelut, saling menikmati lummatan ditiap-tiap inci tubuh pasangan itu, sehingga ... "Ahh ..." Kedua-nya sama-sama menikmati keindahan malam ditempat yang berbeda.


Kedua-nya mereguk kebahagiaan secara bersamaan, membuat Oon merebahkan tubuhnya disamping Shania, mengecup lembut bibir yang kini menjadi candunya, sambil meremmas punuk kenyal yang semakin terasa masih sangat kencang.


Shania menganggukkan kepalanya, memejamkan matanya, memeluk tubuh Oon, yang masih menatap kearahnya ...


"Selamat tidur Shan ... Terimakasih sudah mau menerima Mas ..."


.


Pagi menjelang, matahari bersinar terang menyinari kota kembang. Shania lebih dulu terjaga dari tidurnya, dan melakukan ritualnya seperti biasa. Tak lupa ia juga memesankan beberapa makanan sehat untuk suami tercinta, yang baru memasuki kamar mandi.


Karena tidak ada kegiatan, Shania membuka siaran televisi, dan mencari beberapa channel kartun lucu untuk menghibur saat sarapan mereka berdua. Akan tetapi, ketika remote televisi masih mencari beberapa channel, tiba-tiba pemandangan Shania dikejutkan tentang pemberitaan media ...


[Shania Junianatha, ternyata telah menjadi simpanan Oon Syahputra seorang produser film FTV, kini merambah ke dunia film layar lebar ... Setelah gagal dari suami Tante Lala, kini ia justru menjadi simpanan dengan alasan balas budi. Mas Oon ternyata suami yang pernah Mba Shania katakan, sebagai pria keterbelakangan mental beberapa waktu lalu ...]


Shania menekan tombol off televisi, agar tidak mendengar berita yang lain, karena akan menjadi momok yang sangat menakutkan baginya. Ada perasaan trauma, bahkan menyesal telah menyakiti pria sebaik Oon, pada awal pernikahan mereka.


"Apakah ini kerjaan Eric? Yang kembali mengingatkan aku dengan semua itu ...? Atau jangan-jangan, Soraya yang mengetahui pihak manajemen lama ku, dan meminta mereka untuk mengulang-ulang berita lama agar aku keluar dari persembunyian ku? Aaagh sial ... Jika setiap hari berita hanya ini dan ini terus, bagaimana aku akan mendapatkan perlakuan baik dari Ibu mertua. Sementara semua berita selalu mengatakan aku simpanan, bahkan pelakor ..." geramnya dengan linangan air mata di kelopak mata indahnya.


Oon yang melihat istrinya bersedih, mendekati Shania. Bertanya pelan, dengan penuh kasih sayang ...


"Mas, kenapa masih ada gosip lama itu? Apakah ini kerjaan manajemen kamu? Untuk menjatuhkan harga diri ku? Kamu bayangkan saja, aku dikatakan sebagai istri simpanan kamu! Sementara aku ini istri sah kamu, Mas! Lama-lama aku bisa gila dengan gosip di luar sana yang tidak pernah memberitakan yang baik-baik tentang aku!" tangisnya karena kecewa.


Oon tidak ingin melihat istrinya bersedih, ia kembali menyalakan televisi, melihat siaran langsung saat beberapa pihak manajemen artis memperkenalkan para artis baru mereka.


"Sial, ini pasti kerja Eric!" geramnya, langsung menghubungi Beny untuk menghentikan semua berita yang mereka dengar pagi itu.


[Kamu dimana? Berita apa pagi ini? Tolong hentikan Eric bicara, sebelum aku yang menuntut mulutnya]


[Dikamar ... Sudah kami lakukan, dan hari ini semua pemberitaan hanya tentang film baru yang akan launching. Oya kalian jadi jumpa pers]


Oon mengehela nafas dalam-dalam, bertanya pada Shani, "Sayang kita jadi jumpa pers?"


Shania menganggukkan kepalanya satu kali, hanya bisa pasrah menerima takdirnya hari ini.


[Ya, jadi. Di ballroom yang kecil saja, jam 11.00, oke]


[Oke]


Oon meletakkan handphone miliknya diatas meja, bersimpuh dihadapan Shania Junianatha, "Apapun yang akan kamu katakan untuk Mas hari ini didepan media, sepenuhnya akan menjadi hal yang baru untuk kita dan masa depan kita, Mas cinta sama kamu," kecupnya pada kedua punggung tangan istrinya ...


"I love you too, Mas Oon ..."