Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Bilang cinta ...



Setibanya di kantor, Oon menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan yang biasa ia lakukan. Sesekali pikirannya memikirkan bagaimana istrinya di rumah sendiri tanpa ada teman yang menemani.


Lagi-lagi Oon harus menerima kedatangan Mala didalam ruang kerjanya yang sengaja membawa Soraya. Kedua-nya tampak semakin akrab, dan kini mereka berdua sama-sama duduk di sofa ruangan Oon setelah mendapatkan izin dari pria tersebut.


Mala menaikkan dagunya, sambil bertanya, "Kenapa kamu terlihat kurus sekali Oon? Apakah wanita itu tidak mempersiapkan makan mu, Nak?"


Oon menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, sejujurnya hari ini dia tidak suka di ganggu karena ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya ...


"Bu ... Oon baik-baik saja, jadi tolong jangan buat Oon seperti anak kecil. Ditambah Shania sudah menjadi istri yang baik. Sekali lagi, Oon minta maaf ... Karena harus meninggalkan kalian berdua. Ada meeting rapat direksi hari ini. Jadi mungkin kita bisa bertemu, kira-kira pukul 14.00. Oon permisi, Bu ..."


Oon berdiri dari duduknya, membawa beberapa berkas, seketika ...


"Apa benar kamu tinggal di Bogor sekarang?"


Oon menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah Mala juga Soraya yang menatap kearahnya, hanya menjawab dengan senyuman ...


"Bu, biarkan Oon dengan pilihan hidup On. Jangan mencampuri semua kehidupan pribadi Oon, karena Oon sudah dewasa dan On yakin Shania wanita yang baik," jelasnya membuat Soraya merasa cemburu dan kesal.


Mala mendecih, "Ternyata kamu sama sekali belum bisa membedakan mana wanita suci, dan wanita yang gampang di pakai oleh pria hidung belang seperti artis figuran itu! Shania sudah tidur dengan pria lain Oon, apa kamu mau memiliki istri yang tubuhnya sudah di lihat beberapa banyak pria?"


Oon hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan Mala, dan melirik kearah Soraya, berkata memberi perintah ...


"Jika sudah selesai kalian di ruangan Oon, tolong tutup rapat pintu ruangan Oon. Soraya, bukankan kamu ada sesi pemotretan hari ini? Aku rasa tolong propesional, karena ini masih jam kantor. Aku tidak ingin se-se-semua terpending, karena team editor akan mengirimkan pada team management produk!"


Soraya terdiam, dia mengangguk patuh, karena jadwal pemotretannya bersama Beny masih ada dua sesi foto lagi. Bergegas dia berjalan seperti pinguin, tanpa permisi pada Mala.


Mala masih ingin menikmati indahnya ruangan putra kesayangan. Ia tidak peduli Oon suka atau tidak dengan kehadirannya. Karena dia ingin Oon merubah pikirannya, untuk menceraikan Shania, dan kembali bersama Soraya.


"Hmm Bu, Oon rapat dulu. Terserah Ibu masih mau di sini, atau bagaimana!"


Oon berlalu menuju ruang meeting, yang sudah dinantikan oleh beberapa koleganya.


.


Sementara Shania, masih berkecimpung dalam dunia masak memasaknya. Dia membuat ayam lada hitam, yang semua bahan-bahan sudah ada sejak kemarin didalam kulkas miliknya.


Shania meraih handphone miliknya, hanya untuk memberi kabar pada Oon suami tersayangnya. Suami buncit seperti Pooh, tapi ternyata sangat menggemaskan.


Sudah tiga malam mereka menghabiskan malam bersama lebih intens, selayaknya dua insan yang saling mencintai, bahkan sangat menyenangkan bagi kedua insan pasangan suami-istri itu.


Shania membayangkan indahnya saat Oon terus memompanya di bawah sana, dan mencium bibirnya dengan sangat lembut, sambil mengusap lembut kepala istrinya ...


"Sayang, Oon sudah tidak kuat ... Oon ci-cin-cinta sama kamu, Shan ..."


Hanya kata-kata itu yang selalu terngiang-ngiang di telinga Shania, selaku wanita yang paling beruntung mendapatkan seorang Oon walaupun tidak tampan.


"Hmm ... Mas Oon kemana sih ...?" sungutnya, mencoba menghubungi berkali-kali.


[Ya sayang ...]


Shania tersenyum sumringah ...


[Mas kemana saja? Sudah makan siang? Aku buat ayam lada hitam, jadi tidak ada yang mencicipi rasanya. Asin atau bahkan tidak terasa garam sama sekali ...]


[Hmm ... Nanti Mas cobain yah, sayang ... Oya, mungkin sebenarnya lagi ada tukang ojek online yang mengantarkan roti unyil dari salah satu rekan, Mas. Tolong kamu bukain pintu ...]


Shania terdiam, wajahnya berubah seketika, karena dia tidak suka bertemu dengan orang asing walau hanya mengantarkan makanan.


[Kenapa tidak menunggu Mas pulang saja? Karena aku tidak menyukainya ...]


[Ya sudah, tunggu Mas pulang saja. Mas hubungi rekan Mas dulu, yah]


Saat Oon mengakui panggilan teleponnya, Shania mendengarkan suara ketukan pintu dari arah luar, membuat ia terlonjak kaget.


Seperti pemikirannya di awal, Shania tidak akan pernah membuka pintu ruang tamu, saat Oon tidak di rumah.


Akan tetapi, suara ketukan terdengar semakin keras, dan membuat Shania semakin geram. Ia mengintip melalui jendela ruang tamu, melihat sosok pria berkulit putih, dan seperti ia kenali.


"Ri-zal ...!? Apakah toko kue rekan Mas Oon tidak bisa memilih tukang ojek online yang lain? Selain dia ...?" geramnya.


Lagi-lagi terdengar suara Rizal memanggil dari arah luar.


"Permisi ... Ojek online. Dari toko roti milik Holi."


Shania tidak bergeming, dia masih menutup mulutnya, karena tidak ingin bertemu dengan pria yang dulu telah mencelakainya.


Karena tidak mendengar tanda-tanda kehidupan dari arah dalam, tanpa pikir panjang, Rizal langsung membawa satu kotak kue itu berlalu meninggalkan kediaman Shania.


Menyaksikan Rizal telah pergi meninggalkan kediamannya, Shania bergegas menghubungi Oon kembali ...


[Ya Shan ...]


[Kok Shan sih, Mas! Biasanya sayang! Kamu kalau sudah sampai di kantor, pasti lupa sama aku ...]


Shania merengek manja, membuat Oon tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan istrinya.


[Kalau lupa Oon enggak a-a-akan menjawab panggilan telepon kamu dong sayang]


Shania mendudukkan tubuhnya di sofa, menikmati sejuknya air conditioner yang menyala 24 jam, dengan kaki kanan terangkat keatas.


[Mas ...]


[Iya sayang ...]


[Gitu dong, eee entar malam kita eee anu hmm aku kangen ... ]


Oon yang mendengar penuturan Shania untuk pertama kali mengatakan kangen, membuat perasaannya semakin berbunga-bunga.


Kedua-nya merasakan ada yang berubah, dari mereka berdua. Perhatian Shania lebih over terhadap Oon, begitu juga sebaliknya. Ditambah mereka telah melakukan hubungan suami-istri, membuat keterikatan secara batin itu normal adanya ...


[Ya sudah, mendengar kamu kangen, Mas jadi pengen cepet-cepet pulang. Oya Shan, Mas dapet paket perawatan sedot lemak. Kamu bisa temanin Mas besok? Karena mereka ingin menawarkan terapi penurunan berat badan, tapi tidak diet, cuma bisa turun empat sampai lima kilo selama satu bulan. Mas pengen, tapi kata Beny sakit ... Jadi Mas takut ...]


Shania tertawa terbahak-bahak, mendengar cerita Oon yang semakin lama semakin menggemaskan ...


[Bagaimana kalau Mas ikut gym saja. Lagian kita bisa lari pagi atau mungkin mengurangi jadwal makan malam Mas, dengan buah dan pengganti karbo dengan cara lain. Mas juga bisa vegetarian, dan mulai makan teratur, paling lambat jam 17.00. Jika lapar, minum air putih. Mas mau coba ...]


[Hmm Mas pikir-pikir dulu deh. Masih belum sanggup masalahnya ...]


[Mas ...]


[Hmm ya sayang]


[Kalau bilang cinta sama suami itu dosa enggak, yah]


[Ma-ma-maksud kamu apa, Shan ...]