
Disudut kamar yang masih tampak sepi serta berantakan, Shania masih duduk termenung sendiri sambil menunggu kepulangan suami tercinta.
Ya, sudah dua bulan Shania kehilangan janin yang ada dalam kandungannya, karena perbuatan jahanam sang ibu mertua yang tidak menginginkan pernikahannya langgeng dengan Oon, membuat ia enggan untuk bertegur sapa dengan pria yang tidak akan pernah menceraikan nya.
Air mata kembali tak terbendung, karena Oon menguncinya dari luar rumah, agar tidak terjadi sesuatu hal yang membahayakan untuk istrinya, dengan melengkapi semua kebutuhan sang istri di rumah kecil itu.
"Aku harus berpisah dari Mas Oon. Aku harus bisa membahagiakan Mama dan Papa, tidak mungkin aku terus-menerus berdiam diri seperti ini, karena akan menjadikan ku sebagai wanita yang tidak berguna ..." gumamnya dalam hati, sambil menyeka air matanya.
Tidak menunggu lama, Shania duduk termenung menatap nanar kearah luar, ia melihat cahaya lampu mobil memasuki carport teras rumah yang tidak berpagar, kemudian bergumam dalam hati.
"Hmm akhirnya Mas Oon pulang, tapi kenapa baru pulang jam segini? Apakah Mas Oon kembali memiliki hubungan dengan Soraya ...?"
Bergegas Shania keluar dari kamar, hanya untuk menghampiri suami yang perlahan telah menumpukan hidupnya pada pundak pria yang semakin hari semakin tampak terawat, membuat langkahnya kembali terhenti, ketika mendengar suara tawa Oon yang tengah berbincang melalui telepon selulernya.
Oon : "Iya, kamu tenang saja. Mungkin minggu depan kita sudah bisa menyelesaikannya. Karena hmm, aku sudah tiba di rumah. Kamu baik-baik ya!"
Wanita : "Iya Mas. Jangan lupa besok pagi aku ada pertemuan dengan beberapa klien ku. Terimakasih ya ..."
Oon : "Ya, bye ..."
Shania menggeleng, ia tidak membayangkan bahwa Oon kembali menjalin hubungan dengan wanita lain, sementara hubungan mereka masih tampak biasa saja, walau saat ini sudah sedingin es batu, yang sulit untuk kembali mencair.
Terdengar suara kunci terbuka, kemudian hendel pintu bergerak, membuat Shania berusaha tersenyum walau sejujurnya hati menaruh perasaan curiga.
Shania tersenyum tipis, menyapa sangat singkat, "Mas ..."
Oon yang sudah memasuki rumah, sedikit terlonjak, karena tidak menyadari bahwa istrinya telah menunggu di ruang tamu.
"Shan, sejak kapan kamu ada disini? Hmm bu-bu-bukankah asal Mas pulang kamu sudah tidur?" kecupnya lembut pada kening Shania, tapi hatinya sedikit merasa was-was.
Shania menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mencium aroma baju yang menyeruak masih seperti biasa.
"Ta-ta-tadi aku dengar, Mas ngobrol di telepon, dengan siapa?" tanyanya sedikit penasaran.
Oon tampak salah tingkah, berusaha menutupi tapi istrinya ternyata sangat pintar, "Ogh, i-i-itu hmm secretaris eee salah satu perusahaan yang akan menangani perfilman kita. Biasalah, dia mengajak ku untuk menghabiskan makan malam bersama, dan minggu depan kami ada perjalanan untuk melihat lokasi shooting."
Shania menautkan kedua alisnya, menatap lekat kedua netra itu dengan penuh selidik, "Mas, aku ini istrimu. Mungkin pada awal menikah, hubungan kita tidak baik, tapi aku tidak sudi jika kamu berani macam-macam diluar sana!" tegasnya sarkastik.
Shania mendecih, "Ogh, bisnis? Mas pikir aku tidak paham bagaimana wanita liar diluar sana ingin merebut hati Mas dari aku, bahkan dulu dengan terang-terangan Ibu meminta Mas menikahi Soraya! Sekarang mau mencoba lagi? Apa enggak capek memberi harapan pada wanita lain! Apa mentang-mentang aku belum bisa memberikan kebahagiaan buat kamu? Sampai-sampai kamu membuka lagi kesempatan bagi wanita lain untuk mengisi hari-hari mu, begitu? Mentang-mentang kamu sudah berubah, berwibawa, terlihat sangat berbeda, kamu memberi peluang pada mereka!" sesalnya.
Oon mengusap dadanya pelan, menghela nafas berat, karena harus menerima tuduhan dari istri sendiri, disaat kakinya baru memasuki rumah mereka.
"Ja-ja-jangan menuduh seperti itu, Shan! Oon tidak melakukan apapun diluar sana. Sumpah! Please, kita baru saja tenang dua bulan ini, karena permintaan kamu diperlakukan seperti ini, ta-ta-tapi kamu justru menuduh yang tidak-tidak," jelasnya membela diri.
Seketika tangis Shania pecah, kali ini ia tampak lebih terpuruk, "Ceraikan aku, Mas! Aku ingin pulang ke rumah Mama, aku enggak mau lagi di sini! Aku capek, sama semua ini! Harus di rumah seharian kayak orang gila, sementara kamu enak-enakan di luar sana! Aku mau kita pisah!"
Oon menepis semua keinginan Shania yang berulang kali ingin berpisah darinya, "Please Shan! Kamu jangan meminta begitu, Oon berusaha untuk mencari jalan untuk kita! Biar kamu tidak terancam di apartemen, ataupun kamu merasa aman. Jujur selama dua bulan ini, aku berfikir untuk membawa kamu pergi dari sini. Makanya aku ingin kita sama-sama saling menguatkan! Jangan begini, sayang ..."
Shania memilih berlalu meninggalkan Oon, karena tidak ingin berdebat tentang apapun saat ini. Kepalanya terasa semakin sakit, jika mengingat perlakuan ibu mertua, juga pernikahan sirih Oon beberapa waktu lalu.
Namun Oon berusaha untuk menarik tangan Shania, karena dia tidak ingin melihat wajah cantik wanita itu semakin lusuh dan tidak bersemangat dalam mengarungi kehidupan sehari-hari yang semakin tidak nyaman untuknya.
"Shan ..." tariknya pada lengan Shania, tapi dapat dielakkan oleh wanitanya.
BRAK ...!
Pintu kamar tertutup rapat, dan kembali terkunci dari dalam.
Oon mengusap wajahnya kasar, mendengus kesal, menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu kamar.
"Shan, buka sayang. Mas sayang sama kamu. Jangan marah-marah begini. Wanita itu hanya teman, Shan. Mas tidak ada hubungan apa-apa dengan dia!" ucapnya sambil mengetuk pintu perlahan.
PRANG ...!
Terdengar suara bantingan barang-barang dari dalam kamar, membuat Oon kembali pasrah akan hubungannya yang semakin buruk dengan Shania.
Lagi-lagi Oon mengetuk pintu kamar, sambil berkata, "Shan, sudah dua bulan Mas menahan. Tolong jangan sampai kita semakin berjarak, sayang. Mas bersumpah, wanita itu hanya secretaris. Bukan model. Kami hanya memiliki satu bisnis, dan Mas akan membelikan kamu rumah di daerah Depok. Biar lebih dekat dengan Mama kamu. Dia yang membantu, jual belinya. Jadi, kita bisa pindah rumah bulan depan. Enggak disini lagi kalau kamu merasa tidak nyaman ..."
Mendengar pernyataan Oon, Shania menjawab kesal, "Mas bohong! Kita pisah saja! Aku sudah tidak mau melanjutkan rumah tangga ini. Sampai saat ini, Ibu kamu tidak pernah mau minta maaf sama aku. Pernikahan apa ini? Pernikahan terpaksa yang harus pura-pura bahagia, padahal tidak bahagia. Apa ini yang dinamakan dengan pernikahan hmm!?"
Oon menghela nafas panjang, "Sumpah demi apa yang harus Mas ucapkan agar kamu percaya. Kita akan menghadapi Ibu, tapi bukan sekarang sayang. Please, mengertilah untuk saat ini saja ...!"
"Bohong! Mas bohong!!"