
Soraya tersenyum, ia berdiri dari duduknya untuk meninggalkan ruangan Oon. Karena tidak ingin melihat dua pasangan suami istri itu tampak kaku, membuat Oon semakin serba salah menghadapi Shania.
"Mas ... Aku ke studio saja, ya! Nanti susul saja," senyumnya menyeringai kecil, dan segera berlalu meninggalkan Shania juga Oon.
Oon menutup pintu ruangannya rapat, kembali menoleh kearah Shania yang masih berdiri menahan amarahnya.
"Siapa dia Mas? Apakah dia istri muda mu? Pantas saja kamu enggak mau peduli sama aku, ternyata kamu memiliki hubungan dengan model kamu sendiri!" tangis Shania pecah tak tertahankan.
Dada Shania terasa sangat sesak, bahkan dia merasa dikhianati oleh Oon yang menjadi suaminya. Pria yang selama ini ia percaya melakukan hal baik selama ini, ternyata memiliki hubungan khusus dengan seorang model lebih cantik dari dirinya.
Oon tersenyum sumringah, menatap lekat iris mata Shania, yang mengalami cemburu terhadapnya.
"Kamu kenapa? Kita kan tidak memiliki perasaan apa-apa lagi. Dua bu-bu-bulan Oon menunggu kamu, bahkan rasanya sangat sakit, saat kamu sama sekali tidak mengacuhkan Oon," jelasnya santai.
Namun Shania semakin tak kuasa membendung amarahnya yang seketika akan meledak dihadapan Oon dengan berapi-api.
"Jadi maksudnya? Mas memang sudah menikah dengan dia? Dengan Soraya itu?"
Oon menganggukkan kepalanya dua kali, kemudian duduk disofa sambil menepuk-nepuk sofa yang kosong di sebelahnya.
Akan tetapi, Shania semakin tampak seperti orang gila, dia merasa frustasi telah dikecewakan oleh seorang pria bernama Oon, dia menatap nyalang pada pria itu, berteriak lantang ...
"Kamu anggap apa pernikahan kita, Mas? Apa yang ada di kepala kamu? Tega kamu Mas, tega menyakiti aku sebagai istri kamu!"
Oon masih diam tak bergeming, dia hanya melihat Shania Junianatha meluapkan kekesalannya, tapi sama sekali tidak menjawab makian yang keluar dari bibir tipis istrinya.
Wajah Oon tertawa kecil seketika, saat melihat Shania berguling-guling dilantai ruang kerjanya, yang tidak pernah dikunjungi gadis cantik itu.
"Kamu ternyata lebih senang melihat aku seperti ini, Mas!" teriaknya semakin keras.
Oon mengembuskan napasnya dalam, mendekati Shania agar tenang, sambil berkata pelan, "Dia itu istri dalam film, Shan. Karena dia memerankan sebagai seorang istri dari Jonathan. Sudah berdirilah, nanti tubuh kamu semakin kesakitan, karena berguling-guling seperti ini," bohongnya.
Shania terdiam, wajahnya memerah karena malu. Kali ini dia tidak mengerti akan apa yang dirasakannya pada Oon. Sama sekali ia tidak mengerti, karena tidak ingin pria itu memiliki wanita lain diluar sana. Perasaan campur aduk ini, mampu membuat Oon menebak bahwa ...
"Jangan-jangan ia takut jauh dari ku, karena aku hmm, memiliki segalanya, dan dia ingin mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat ini. Soraya sangat baik, dan dia sangat peduli padaku, bahkan dia tidak pernah malu untuk mengakui bahwa aku adalah suaminya ..."
Benar saja, Oon dan Soraya telah menikah atas izin Mala, untuk membalas perlakuan Shania terhadap putranya. Tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun saat ini.
Namun, kebersamaan Oon dan Soraya hanya sebatas pernikahan sirih, dan tidak tinggal bersama.
"Mas, sampai kapan kamu akan membohongi Ibu? Aku takut Mas ..."
Hanya pertanyaan itu yang selalu Soraya utarakan pada Oon, karena tidak ingin dikatakan pelakor oleh Shania suatu saat nanti.
Oon memperlakukan Soraya sangat baik, begitu juga Shania. Namun perbedaannya, Shania memiliki sifat yang kasar, sementara Soraya sangat lembut dan perhatian. Perumpamaan bagai langit dan bumi perbedaan Shania dan Soraya, sangat terlihat jelas dimata Oon.
Membuat pria berusia 25 tahun itu hanya bisa pasrah menerima takdirnya yang memiliki istri lebih dari satu, karena permintaan Mala sang ibunda.
"Apakah Shania akan bunuh diri jika mengetahui Oon menikahi Soraya ...?" gumamnya dalam hati.
Entah mengapa, perasaan Shania semakin dilanda cemburu saat Oon menerima panggilan telepon dari Soraya yang berada di ruangan lain ...
[Ia ... Setelah Shania pulang, Mas susul kamu di studio, yah? Tapi mungkin Mas akan mengantar Shania pulang dulu ke apartemen. Nanti Mas hubungi kamu lagi, yah ...]
[Iya Mas. Hati-hati yah, hmm jadi kapan Mas nginap di apartemen aku? Semenjak kita menikah belum melakukan apapun ...]
Oon menelan ludahnya, tak terasa keringat dinginnya mengucur deras, akan pertanyaan Soraya.
[Nanti Mas kabari kamu, yah ... Bye]
Hanya kalimat itu yang dapat di ungkapkan Oon hanya untuk menghargai perasaan Shania yang masih duduk dihadapannya.
Oon mengakhiri percakapannya dengan Soraya, meletakkan handphone pipih itu diatas meja yang masih penuh dengan makan siangnya.
Oon menoleh kearah Shania, sambil bertanya, "Ka-ka-kamu sudah makan, Shan?"
Shania mengangguk, sebagai jawaban bahwa dia sudah makan. Membuat dirinya semakin curiga pada Oon. Karena suaminya itu terlihat sangat manis saat berbincang dengan Soraya. Ia bergumam dalam hati, "Tidak mungkin Mas Oon hanya berteman biasa saja. Mereka pasti memiliki hubungan spesial, karena aku bisa melihat tatapan wanita itu, dia sangat menyukai suamiku ..."
Shania berusaha untuk merayu Oon, dia memberanikan diri untuk mengusap lembut paha pria yang telah menjadi suaminya enam bulan yang lalu ...
"Mashh ..."
Oon terdiam, wajahnya merah padam, bahkan jantungnya berdegup lebih kencang, karena merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari sentuhan Shania yang lebih berani padanya.
"Hmm Shan ... Apa yang kamu lakukan? Bu-bu-bukankah kamu tidak pernah menginginkan Oon menjadi suamimu?"
Kali ini Shania tidak perduli, dia hanya ingin memiliki Oon sepenuhnya, walau kini dirinya harus tampak seperti jallang. Ia tak ingin Oon di rebut oleh wanita bernama Soraya.
"Jujur sama aku, Mas! Apakah kamu benar-benar sudah menikah dengan wanita bernama Soraya itu? Aku melihat foto kamu bersama Ibu. Kenapa kamu jahat sama aku, Mas?" tangisnya kembali terdengar.
Oon menghela nafas berat, kali ini iya tak ingin menyakiti Shania, ataupun berbohong lagi pada wanita itu, "Maaf Shan ... Semua Oon lakukan untuk Ibu. Bukan karena mencintai Soraya. Oon tidak tahu harus berbuat apa. Karena Ibu mengancam akan membuka seluruh aib keluarga kita di media. Apa yang harus Oon lakukan, Shan? Sementara Soraya, kamu lihat sendiri, dia sangat baik, dan tidak pernah malu untuk mengakui Oon sebagai kekasih atau bahkan suaminya sendiri. Sementara kamu? Sampai saat ini, pihak manajemen kamu tidak pernah meminta maaf atas ucapan mereka tentang steatmen mereka yang menyatakan Oon keterbelakangan mental. Apa kamu sadar akan hal itu?"
Shania terdiam, semua memang ia lakukan kala itu untuk menutupi semua statusnya yang telah menikah.
"Itu karena aku memiliki kontrak dengan pihak manajemen, Mas!" belanya pada diri sendiri.
Namun Oon menepis semua ucapan Shania, "Kontrak yang mana kamu maksud? Kontrak iklan? Kontrak film? Buktinya mereka tidak pernah melarang kamu menikah, tapi apa yang kamu lakukan? Masalah kita belum pernah selesai, Shan!" tegasnya mengingatkan.
Shania terdiam, saat ini dirinya sendiri tidak tahu harus berkata apa, sejak awal, dirinyalah yang selalu menolak Oon ...
"Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan ...? Kenapa semua tampak seperti membalikkan semua masalah ini padaku ...?" isaknya meremas kuat jemari tangannya.