Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Pengangguran profesional



[Hai guys ... yang ada di seluruh dunia sejagat raya, seantero dunia bumi ibu pertiwi. Masih ingat dengan saya, Shania Junianatha ... ada enggak ya, yang merindukan aku? Mungkin berbeda dengan saat ini ... hari ini aku ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa aku telah menjadi seorang istri dan ingin memberikan informasi tentang bisnis baru ku saat ini ...,]


Oon menganggukkan kepalanya, menatap kearah handphone miliknya yang mereka letakkan didepan meja rias menggunakan tongsis dengan pencahayaan yang sangat cukup.


Kedua-nya saling bercerita, pengalaman mereka, keindahan hubungan mereka selama menikah, sehingga memberi beberapa contoh desain baju-baju wanita yang Shania kenakan, kemudian melenggak-lenggok bak seorang model di dalam kamar minimalis tersebut, sambil memeluk tubuh sang suami dengan penuh perasaan cinta.


Lebih kurang 30 menit durasi yang mereka lakukan, sehingga Oon mengedit video tersebut di layar laptop miliknya, sebelum menayangkan di YouTube juga tik tok sesuai rencana Shania.


Cukup sederhana, mereka melakukan hal baru, tanpa harus keluar dari rumah sehingga bisa menciptakan satu peluang di dunia yang berbeda.


Benar saja, setelah melakukan pengeditan pada ucapan-ucapan Shania, Oon mempublish video tersebut dengan penuh keyakinan.


Kedua-nya terbaring diatas ranjang peraduan dengan senyuman mengembang lebar diruas bibir keduanya, menatap langit-langit kamar, setelah melakukan pengeditan video juga foto-foto lama dalam waktu lebih kurang empat jam.


"Ternyata enak begini. Jika ada yang menghujat kamu, ataupun menghina kamu, kita tertawa saja ya, Shan. Aku yakin kita pasti bisa kok. Aku juga akan terus mencari informasi tentang produk-produk yang mau menggunakan jasa endors untuk kita diawal," titahnya memiringkan tubuhnya, kemudian mengecup lembut punggung Shania yang hanya mengenakan tangtop tali satu.


Akan demikian, ketika mereka akan mengalihkan pandangannya hanya untuk menatap layar laptop yang masih menyala ... beberapa fans Shania langsung menyerbu youtobe yang menayangkan artis favorit mereka.


Tentu banyak heaters yang mengatakan ...


[Hmm ... kembali lagi di artis angkuh ini. Mana suaminya jelek, dasar wanita ... pasti menikah hanya karena memiliki suami kaya ...]


Ada juga yang mengatakan ...


[Kak Shania kemana saja? Sudah satu tahun lebih aku menunggu kehadiran Kakak. Tidak semua orang-orang percaya begitu saja, kalau Kak Shania benar-benar jatuh miskin ...]


Banyak, hari itu sangat banyak mereka menerima beberapa pinangan untuk empat produk kecantikan, juga kesehatan, serta pakaian-pakaian dari sesama teman artis yang sangat merindukan sosok Shania Junianatha.


Kedua-nya terdiam, dalam waktu singkat mereka dapat di buat menganga hanya karena merasakan atmosfer kerinduan fans kepada seorang Shania.


"Mas ... apakah kita tidak sedang bermimpi? Kenapa kamu tidak kembali sejak dua bulan lalu. Dan kita bisa melakukan hal ini, atau bahkan kita melakukannya sebelum semua hancur berantakan. Agh ... Mas Oon, aku senang banget. Ternyata tidak semua orang yang menghujat ku. Aku juga masih punya fans yang merindukan aku, Mas!" Pekiknya memeluk erat tubuh Oon, yang langsung tersenyum bahagia.


Siapa sangka, dalam waktu lima jam, mereka bisa mengantongi ribuan view. Bahkan banyak yang mengajukan penawaran untuk menjadikan Shania brand ambassador untuk mempromosikan perawatan kecantikan mereka.


Shania terdiam, ia enggan membalas komentar para netizen, dan ada yang langsung menghubungi Oon via email.


"Mulai saat ini, kamu manager aku. Manager Shania Junianatha," tawanya menyeringai lebar, kemudian naik keatas tubuh Oon yang masih menatap layar laptop.


Merasakan tubuhnya sudah dikungkung oleh Shania, Oon sedikit meringis karena ada sesuatu yang terasa nyeri, langsung membalikkan tubuhnya, "Kamu ya, enggak sabaran banget ... Oon masih melihat komentar mereka, sayang!"


Tanpa memperdulikan apapun, Shania langsung mencium bibir Oon dengan sangat cepat. Bibir tebal, yang terasa sangat candu baginya, membuat Oon benar-benar tidak ingin melewatkan momen indah bersama sang istri.


Kini kedua-nya bergelut, dalam dessahan dan errangan yang sangat menggairahkan, membuat tangan mereka saling menggenggam erat.


"Kamu bulan ini belum periode, Shan. Jangan-jangan kamu hamil, karena sudah hampir setiap hari kita melakukannya."


Wajah Shania terdiam. Keringat yang masih mengucur deras membasahi tubuh yang tampak mengkilap, langsung menggeliat karena Oon selalu mengingatkan akan urusan kewanitaannya.


Bergegas Shania duduk ditepian ranjang, langsung menoleh kearah Oon, "Kok aku lupa kalau bulan ini belum periode, Mas?" Bulu kuduknya meremang seketika, meningkat belum ada yang bisa mereka hasilkan hingga detik ini.


Oon memiliki pemikiran yang sama, ada kegetiran didalam hatinya, ketika mendengar pertanyaan sang istri yang baru menyadarinya.


"Bagaimana jika aku hamil, Mas? Kita belum memiliki uang yang cukup, usaha yang jelas, bahkan saat ini kita ditanggung oleh Mama tanpa sepengetahuan Papa. Aku takut, Mas."


Wajah Oon terkesiap ketika mendengar ucapan Shania yang sangat mengiris hatinya sebagai seorang laki-laki yang berstatus suami.


"Bagaimana kalau Mas, ikut membantu menjalankan bisnis Papa yang ditanah abang, Shan?"


Mendengar pertanyaan dari Oon, wajah Shania berubah pias. Ada ketakutan dalam hatinya, mengingat sang mertua sering muncul selayaknya jelangkung di wilayah tanah abang.


"Eng-enggak, Mas! Kita coba di sosial media dulu. Aku yakin, Tuhan pasti membuka jalan untuk kita di rumah. Aku akan menjadi istri yang baik juga penurut untuk kamu. Yang pasti kamu jangan tinggalkan aku. Kita coba berfikir positif, ya. Jika aku hamil, anak ini pasti membawa rejekinya untuk kita."


Wajah Oon tampak kembali bercahaya. Walaupun kini dirinya terlihat sudah tidak sekurus awal bertemu, tapi semenjak Shania benar-benar merawatnya dengan sepenuh hati membuat wajah itu tampak semakin berkharisma.


Ting ...


Kembali terdengar suara email masuk, tanpa pikir panjang lagi dengan penuh semangat kedua-nya menatap ke layar laptop yang berada dinakas.


"Mas cek saja email-nya. Aku mau mandi, habis itu masak yang simpel saja. Oya, uang yang Mama kasih tadi jangan kita pakai dulu ya, Mas. Kita simpan saja. Kebetulan aku masih ada pegangan untuk hari ini sampai besok."


Oon mengacungkan jempolnya, melihat kearah lekuk tubuh yang sangat menggairahkan, bahkan membuat ia semakin kecanduan, sambil berkata sedikit menggoda, "Mandi yang bersih sayang, nanti selesai makan kita bisa kangen-kangenan lagi."


Shania hanya tertawa kecil, mendengar celotehan sang suami, "Mas Oon genit. Nanti kalau aku beneran hamil bagaimana? Bisa-bisa kita diketawain oleh orang lain, kerja enggak tapi punya anak!"


Oon tertawa terbahak-bahak, "Siapa yang enggak kerja. Kita kan mau jadi enterpreneur di sosial media. Kita bisa jadi pengangguran profesional dan menghabiskan waktu bersama sambil membesarkan buah hati kita, Shan. Percayalah Oon yakin, kalau nama kamu akan kembali dikenal orang-orang dengan kebaikan mu merawat suami mu yang jelek ini."


Shania melongokkan wajahnya dari pintu kamar mandi, "Siapa bilang suami aku jelek, Mas? Biar aku yang bicara sama mereka, kalau Mas Oon itu sangat menggemaskan," tawanya terbahak-bahak penuh kebahagiaan.


.


Namun, kebahagiaan Oon dan Shania yang baru dirasakan mereka saat ini hanya bisa dirasakan oleh mereka berdua saja.


Sang ibu mertua, Mala yang mendapatkan kiriman video Shania dari sahabat sosialitanya, membuat darahnya kembali menggelegak panas bak air yang bersuhu 100 derajat celsius.


"Sial ... ternyata Widya menyembunyikan anak laki-laki ku! Aku akan mencari dimana keberadaan kediaman mereka, sepertinya rumah mereka tidak jelek. Apakah Ahmad membantu anak menantunya? Aku akan memberikan pelajaran kepada kalian, karena belum juga melepaskan Oon dari akan kalian yang jallang dan tidak tahu di untung itu ..." umpatnya semakin menjadi-jadi. Bahkan semakin gila untuk berfikir pada kehancuran rumah tangga sang putra.