
Mendengar ucapan Shania diseberang sana, membuat Oon benar-benar tersedak tidak percaya akan penuturan sang istri yang terdengar sangat aneh dan lucu.
[Bi-bi-bisa ulangi sekali lagi kalimat kamu, Shania sayang]
Shania terdiam, wajahnya memerah malu, mungkin jika ada Oon dihadapannya saat ini, iya akan meringkuk didada suaminya yang lebar ...
[Mas ... Aku kangen, itu saja. Cepat pulang]
[Ya-ya-ya ... Sebentar lagi yah! Jangan lupa, bersiap-siap kita mau ke Bandung. Oke ...]
[Oke ... Mas ...]
[Hmm ...]
[Eee ...]
Shania mengakhiri panggilan teleponnya, ia tertawa terbahak-bahak, dengan telinga semakin memanas karena perasaan tengah berbunga-bunga.
Cinta, perasaan itu yang perlahan tumbuh di hati Shania Junianatha, namun dirinya menganggap bahwa perasaan itu hanyalah kamuflase belaka. Tapi tanpa ia sadari, rasa cinta dan sayang itu semakin tubuh dan semakin hari membuatnya semakin penasaran terhadap Oon.
Oon dapat merasakan sesuatu dari Shania. Ia juga dapat merasakan dari permainan ranjang mereka, yang semakin hari semakin menyenangkan.
Oon tersenyum sumringah menatap poster film layar lebar yang akan di produksi oleh pria itu, yang menjadikan Shania pemeran utamanya. Film romansa rumah tangga yang saling mencintai, namun kebahagiaan itu harus kandas karena sakit yang diderita sang istri selama bertahun-tahun ...
"Hmm ... Oon yakin Shan, film ini akan menjadi film layar lebar pertama kamu, yang akan mengangkat nama baik kamu lagi. Dan kita akan hidup bahagia layaknya pasangan sangat bahagia, dan memiliki anak yang banyak. Oon mencintai kamu, Shania ..."
Begitu pula sebaliknya, Shania terlelap di sofa ruang tamu, menunggu kepulangan suami jeleknya, Oon. Suami yang tidak pernah ia akui, namun selalu disanjung nya.
Lebih dari empat jam Shania tertidur pulas, akhirnya ia di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari arah luar ...
"Shania ... Mas pulang sayang ..."
Shania mengerjabkan kedua bola matanya, menggeliatkan tubuh yang ramping di sofa, menyimak suara yang sayup-sayup terdengar dari balik pintu.
"Mas Oon ..."
Seketika Shania meloncat dari sofa, hanya untuk melihat dari balik jendela, memastikan bahwa yang mengetuk pintu rumah mereka adalah suaminya.
Betapa bahagianya Shania, saat melihat pria bertubuh subur itu juga menatap kearahnya. Bergegas Shania membuka pintu rumah dengan lebar, berhamburan memeluk tubuh tinggi itu, dengan kedua kakinya menaut di pinggang Oon.
Tanpa perasaan sungkan, Shania mencium bibir Oon yang terasa penuh, mellumat dengan perasaan rindu yang teramat sangat. Tak peduli dengan pandangan para tetangga, yang melongo melihat pemandangan dua insan pasangan suami-istri tersebut.
Oon yang menerima serangan di waktu sore dari Shania, berusaha untuk tetap tenang, dengan mengusap lembut punggung istrinya, membalas ciuman lembut itu dengan menautkan kedua lidah mereka.
Entahlah ... Sambutan yang selama ini Oon rindukan akhirnya terjadi, membuat dia semakin yakin bahwa Shania Junianatha jatuh cinta padanya.
"Mashh, aku kangen banget sama kamu. Besok-besok kalau ke kantor aku ikut, yah? Atau di apartemen saja. Karena enggak enak sendiri di sini. Takut juga, karena ada orang iseng yang mengetuk pintu rumah kita. Jadi kamu aman, tinggalin aku sama Bu Darmi ..." ucapnya dengan suara serak dan terdengar manja.
Oon mengangguk setuju, "Terus kita bagaimana sekarang? Mau disini atau hmm ..."
Oon langsung menghayunkan kakinya, untuk menutup pintu ruang tamu, tanpa melepaskan Shania dari gendongannya yang tampak seperti koala ...
Lagi-lagi Shania mellumat bibir Oon dengan penuh perasaan bahagia, ditambah hati yang tengah berbunga-bunga, membuat Oon mengikuti semua keinginan Shania.
Siapa bilang pria jelek tidak dapat menaklukkan hati wanita cantik, Oon dengan wajah bak bodyguard, kini dapat menaklukkan hati seorang Shania dengan perjuangan yang sangat menyakitkan.
Ditambah Mala yang tidak pernah menyetujui pernikahan putranya, semenjak kasus perselingkuhan Shania terbuka lebar di media.
Hanya Oon yang ada untuk Shania kala itu, walau sesungguhnya ia tidak menginginkan pria subur itu, namun cara Oon yang terkadang kasar, namun lembut, akhirnya mampu memporak porandakan hati batu Shania.
Kedua-nya sama-sama menikmati keindahan surga dunia yang setiap hari sangat berbeda. Tanpa memperdulikan pakaian yang berserakan di lantai kamar, membuat Oon semakin bersemangat untuk memberikan sesuatu yang indah pada Shania.
Katakan mereka berdua tidak ada pengalaman, namun keduanya mampu memberikan kenyamanan dan keindahan dalam pencapaian puncak kebahagiaannya.
Berkali-kali Shania mengeerang saat milik Oon semakin melesat masuk kedalam lembah surga yang selalu menanti kehadiran rasa itu semakin sempurna yang semakin membuat tubuhnya menggeliat hebat, saat kedua-nya mencapai pelepasan kebahagiaan secara bersamaan.
"Ahh Mashh ... Aku mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku," isaknya meremas kuat punggung Oon, dengan nafas tersengal-sengal.
Oon mengusap lembut wajah cantik Shania, menatap sendu iris mata indah milik Shania yang coklat. Perlahan kecupan manis mendarat di kening Shania, tanpa melepaskan penyatuan mereka berdua.
"Oon enggak pernah meninggalkan kamu, Shan ..." kecupnya pada kedua bola mata Shania yang tertutup.
Keduanya saling berpelukan, setelah melepaskan penyatuan dan kerinduan yang semakin hari semakin menyenangkan.
Apakah mungkin seorang Shania Junianatha akan jatuh hati dan bertekuk lutut dihadapan Oon ... Ya mungkin itu akan terjadi karena kali ini wanita itu yang memulainya, bahkan meminta dengan penuh perasaan.
Lebih dari satu jam, mereka tengah mempersiapkan semua kebutuhan untuk berangkat ke kota kembang, menghadiri beberapa acara di salah satu hotel berbintang.
Shania bertanya karena perasaan khawatir, "Mas ... Nanti disana acara formal? Ada wartawan enggak?"
Oon memeluk tubuh ramping semampai Shania, "Jika ada wartawan, kamu cukup diam saja. Ini acara resmi, dan tidak akan ada yang mengganggu kita. Katakan yang ingin kamu katakan, karena Mas percaya sama kamu, Shan ..."
Sejujurnya, dalam hati Shania, ia belum siap untuk memberikan statement tentang pernikahannya pada media, yang selalu mencari keberadaannya saat ini. Kali ini ia hanya ingin menikmati masa indahnya bersama suami tercinta, tanpa mau berbagi cerita dengan berbagai macam drama atau alasan seperti dulu.
Hampir delapan bulan Shania benar-benar menutup diri, mata dan telinganya, agar dapat menerima takdir indah yang di berikan Tuhan, tanpa harus memikirkan perasaan manager dan managementnya saat ini.
Berapa banyak kerugian yang Shania torehkan, membuat semua pihak, masih menunggu kemunculannya dihadapan publik seperti saat ini.
Oon membereskan semua kebutuhan mereka, dari gaun malam yang akan di kenakan Shania, serta beberapa perhiasan yang sengaja ia beli beberapa waktu lalu, untuk acara formal ini.
"Kamu siap, sayang? Besok adalah acara Grammy award, dan pihak produksi film FTV, sinetron bahkan drama ada di sana. Mas harap, kamu sudah siap menghadiri acara resmi seperti ini, tanpa melepaskan Oon dari genggaman mu ..." kecupnya pada bibir Shania yang basah.
Shania mengangguk patuh, dia mengusap lembut wajah Oon, kemudian melangkahkan kaki walau masih tampak ragu ...
"Aku mencintaimu, Mas ..." ucapnya sebelum masuk kedalam mobil.
Oon mengangguk, hanya tersenyum, namun seperti melayang terbang saat mendengar ucapan cinta dari bibir Shania ...