Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Jaga sikap mu ...



Saat hati Shania mulai berdamai, namun disaat itu iya melihat dengan jelas kedekatan suaminya sendiri merangkul mesra bahu gadis cantik yang tidak ia kenali. Gadis berusia 23 tahun itu terdiam, memilih beranjak kedalam kamarnya, untuk bersiap-siap mendatangi kantor milik Oon.


"Pantas saja Mas Oon tidak pernah peduli dengan keberadaan aku di sini. Ternyata dia memiliki hubungan dengan wanita lain, selain aku ..." sesalnya dalam hati.


Jika ditanyakan dihati Shania bahwa ia tengah cemburu, ya ... Mungkin saja Shania saat ini dilanda kecemburuan karena tidak ingin Oon berubah darinya.


Selama ini hanya Oon dan Darmi yang selalu ada untuknya, bahkan selama enam bulan, hanya itu sesungguhnya dalam pikiran Shania sebagai seorang artis yang tak diacuhkan lagi oleh pihak keluarga dan manajemen.


Keuangan yang semakin menurun drastis, bahkan saat ini dalam keadaan minus. Jangankan untuk membeli skincare, atau handbody ... Untuk membeli sebungkus rokok saja ia tak mampu lagi selama berbulan-bulan tinggal di apartemen Oon.


Namun, kali ini hati dan perasaan Shania seperti tengah di permainkan, tidak ada kekerasan, tidak ada ucapan yang menyakitkan, tapi perbuatan Oon dianggap sangat memilukan perasaannya sebagai seorang istri.


Shania menghampiri sopir apartemen yang bertugas di basemen, hanya berkata memberi perintah ...


"Pak, bawa saya ke kantor Mas Oon. Ada yang mau saya selesaikan," tegasnya memasuki mobil tanpa menunggu jawaban dari bibir sopir yang tengah bermain catur dengan salah satu security.


"Ba-ba-baik Mba ..."


Bergegas sopir pribadi apartemen Oon membukakan pintu mobil untuk Shania, dan memacu kecepatan kendaraan menuju gedung perkantoran pria kaku tersebut.


Oon selalu membatasi Shania untuk keluar dari apartemen, karena merasa wanita itu, harus menerima konsekuensinya karena perlakuan yang memalukan kala itu.


Benar saja, Shania yang menggunakan baju kaos oblong, di balut celana jeans pendek, ditutupi topi juga masker, membuat security gedung menahan Shania saat tiba di loby perkantoran.


Security bernama Anto itu, menahan Shania dengan beberapa pertanyaan, "Maaf Mba, mau ketemu siapa?"


Shania menautkan kedua alisnya, "Saya mau ketemu suami saya. Oon Syaputra, tapi saya tidak tahu dilantai berapa ruangannya."


Anto merasa tidak percaya, karena melihat penampilan luar Shania, yang tampak seperti gadis biasa, bahkan tidak dapat melihat wajahnya.


"Bisa lepaskan topi dan masker mu, Mba? Karena Mas Oon sedang tidak ada di ruangannya. Hari ini dia ada pemotretan di kantor sebelah bersama model kami Soraya," jelasnya tanpa perasaan sungkan.


Shania menggelengkan kepala, menelan ludahnya, mengalihkan pandangan kearah lain, hanya untuk menutupi wajah sedihnya.


"Di-di-dimana kantornya? Karena saya ti-ti-tidak tahu," tunduk Shania.


Pernyataan Shania yang tidak mengetahui tentang kantor suami sendiri, membuat Anto menganggap Shania sebagai wanita yang mengaku-ngaku sebagai istri dari Oon.


"Silahkan ikut saya, Mba!"


Anto akan membawa Shania ke pos security yang berada di gerbang depan.


Sontak perlakuan Anto, membuat Shania berang. Ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti wanita yang tidak dihargai di kantor suami sendiri.


"Lepaskan saya! Saya akan melaporkan kamu, jika kamu memperlakukan saya seperti ini!" tolaknya, saat tangan Anto menyentuh lengannya dengan sangat keras.


Tentu Anto yang mendapat perlawanan dari seorang pengunjung seberani Shania, tak memperdulikan ucapan gadis itu. Ia justru membawa paksa Shania, sambil menghubungi salah satu rekan kerjanya.


"Ini ada orang yang mengaku sebagai istri Mas Oon! Tolong amankan, karena Mas Oon menikah dengan artis papan atas, bukan dengan gembel seperti ini!" ucapnya lagi pada rekan kerja satu timnya.


Mita yang menjadi secretaris Oon, sedikit kaget, mendengar bentakan seorang wanita asing yang tidak mereka kenali, membuat dirinya berhamburan mendekati gadis yang enggan membuka maskernya tersebut.


Anto yang mendapat bentakan dari Shania, melepaskan genggamannya pada lengan gadis itu, langsung menoleh kearah Mita.


"Mba Mita, ini ada wanita yang mengaku sebagai istri Mas Oon. Mas Oon lagi sama Mba Soraya, kan?"


Mita memperhatikan Shania dari ujung rambut hingga kaki, membenarkan bahwa wanita itu adalah Shania Junianatha, yang ia ketahui dari tatapan mata.


"Biar saya yang bawa Pak. Enggak apa-apa, saya yang akan menghubungi Mas Oon," jelasnya menggandeng tangan Shania.


"Rasain kamu!" sesal Shania kepada Anto.


Tak pelak Shania yang memiliki kesombongan luar biasa langsung menghardik Anto sambil membuka masker, untuk menjulurkan lidahnya.


Pemandangan Anto yang melihat, bahwa wanita tersebut merupakan Shania Junianatha terlonjak seketika. Karena selama ini mereka tidak pernah lagi mendengar gosip tentang kasus Shania yang dinyatakan sebagai pelakor.


"Hmm ternyata dia sekarang jadi simpanan Mas Oon toh ... Dasar wanita jallang, mau bagaimanapun penampilan kamu, tetap saja kamu sebagai pelakor dan artis mesum ...!" geram Anto mendengus dingin.


Mita yang tidak suka sejak awal dengan Shania, tapi mengetahui bagaimana cerita kisah Oon, karena keributan Mala kala itu, membuat ia hanya menjadi pendengar.


Pintu lift terbuka lebar, Mita menekan tombol untuk tiba kelantai ruangan pemilik rumah produksi tersebut.


Benar saja, saat tiba didepan ruangan sang suami, langkah kaki Shania seketika terhenti. Bagaimana tidak, matanya langsung tertuju pada sosok Oon yang tengah menyuapkan makanan ke mulut Soraya, membuat Shania sebagai istri sah Oon hanya bisa menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Shania Junianatha seperti melayang bahkan seperti akan dicabut separuh nyawanya dari jiwa yang masih terasa hampa. Seketika ia tidak kuasa membendung air matanya, membuat Mita merasa penasaran dengan apa yang artis itu saksikan.


Mita tersenyum kecil, bergumam dalam hati, "Duh ... Baru melihat kejadian itu, kamu sudah nangis, Mba. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Mas Oon saat mengetahui bahwa kamu tidur dengan pria lain ..."


Bergegas Mita mengetuk pintu ruangan Oon, membuka lebar ruangan itu, setelah mendapat jawaban dari pria yang tengah menikmati makan siang bersama Soraya.


"Maaf Mas ... Ada hmm eee, Mba Shania," jelasnya sedikit terbata-bata.


Oon menautkan kedua alisnya, melihat sosok Shania yang tengah berdiri dibelakang Mita, menahan Soraya yang tampak kebingungan saat melihat istri sah pria tersebut.


"Kamu disini saja. Lagian ngapain dia ke kantor aku? Bukankah dia tidak pernah datang ataupun peduli dengan pekerjaan aku ..." bisiknya dalam hati.


Shania masih tak bergeming, dia masih berdiri didepan pintu, berkali-kali mengusap wajahnya dihadapan Oon yang semakin mendekat.


Oon menyapa Shania, menarik tangan istrinya agar segera masuk keruangan itu, namun gadis yang masih dilanda kesedihan itu masih enggan untuk memasuki ruangan kantor sang suami.


"Ayo ... Masuklah, kenalkan ini Soraya, dia model untuk beberapa iklan di perusahaan ku," jelasnya tanpa perasaan berdosa.


Akan tetapi, Shania justru melepaskan tangannya dari genggaman Oon, membuat pria bertubuh subur itu sedikit kebingungan kemudian berbisik ketelinga istrinya ...


"Jaga sikapmu! Ini kantor ku, aku bisa melakukan apa saja, jika kamu memperlakukan aku tidak baik ..." ancamnya.