
Kedua pasangan suami istri tampak semakin mesra, ketika tengah memilih semua kebutuhan rumah tangga sesuai keinginan Shania. Dua troli belanjaan, yang berisikan semua bahan-bahan untuk mengisi kulkas empat pintu yang Oon beli saat masuk kekediaman kecil mereka berdua.
Entah mengapa, Shania meringkuk di lengan Oon yang terasa sangat padat juga berlemak, membuat pria bertubuh subur itu tersenyum kecil.
Betapa beruntungnya Oon dapat menaklukkan hati Shania, walau tanpa disadari wanita tersebut, sambil bertanya pelan ...
"Kamu lapar hmm? Kita mau makan apa? Makan di restoran Sunda, atau rumah makan Padang?" tawanya menggoda Shania yang masih meringkuk manja.
Shania terdiam, wajahnya seketika memerah malu, karena baru ia sadari bahwa kepalanya masih berada di lengan sang suami ...
"Hmm rumah makan Sunda saja. Pengen makan ikan bakar gurami, saus kecap. Oven-nya enggak, Mas?" tunjuk Shania pada oven yang ada dihadapan mereka ...
"Ka-ka-kamu mau? Kalau mau ambil saja, nanti kita ca-cari bahan-bahan kue yang mudah di google."
Shania mengangguk sebagai isyarat meng'iya'kan.
Bergegas Oon memanggil salah satu pelayan pusat perbelanjaan tersebut, untuk membawakan oven tak begitu besar itu ke kasir.
Shania tersenyum sumringah, menatap wajah Oon yang tembem, dan mencubit pipi sang suami saat mereka tiba di meja kasir.
Tentu bukan jumlah yang sedikit harus di bayarkan Oon, hanya untuk sekedar membahagiakan Shania agar menjadi istri yang bisa iya didik sebagai wanita baik-baik, sebelum kembali ke dunia entertainment.
Kasir tersenyum kearah dua insan pasangan suami-istri itu, menyebutkan nominal belanjaan mereka ...
"Totalnya 12 juta 800 ribu Pak ..."
Oon menganggukkan kepalanya, memberikan black card, untuk melakukan pembayaran tanpa banyak basa-basi.
Shania tersenyum lebar, entahlah ... Walau hatinya belum bisa menerima Oon, namun gerak tubuhnya mengisyaratkan hal yang berbeda.
Mereka berlalu meninggalkan pusat perbelanjaan, memasukkan belanjaan yang segunung ke dalam bagasi mobil, membuat Oon hanya bisa mengusap kepala sang istri, seolah-olah ia sudah berhasil membuat sang istri bahagia.
"Kamu mau kemana lagi, Shan? Kita cari makan siang dulu, atau mau ke toko handphone?"
"Hmm ... Toko handphone saja dulu. Jadi saat makan kita bisa mencari resep masakan kesukaan kamu. Tapi kalau enggak enak, kamu jangan marah, yah Mas?" sungutnya dengan wajah menekuk.
Oon mengangguk mengerti, sambil berkata, "Lakukan sesukamu di rumah kita, Oon akan senang. Yang penting, kamu tidak boleh merokok lagi. Oon enggak mau kamu masih bergantung pada kehidupan kamu yang lama. Saat ini Oon ma-u kamu mengikuti semua arahan suami. Pelan-pelan pasti nanti kamu terbiasa melakukannya ..."
Shania hanya menganggukkan kepalanya, tanpa menjawab, dan memasuki mobil, setelah Oon membukakan pintu penumpang untuknya.
Shania tersenyum sumringah, "Terimakasih Mas ..."
Oon tersenyum, menutup pintu mobil dengan perlahan, dan bergegas memasuki stir kemudi, menuju toko handphone yang berada di kota itu.
Tak mengingkari janjinya, Oon benar-benar membelikan handphone seri terbaru untuk Shania, tentu saja dengan nomor yang berbeda. Kali ini ia tidak ingin istrinya menjalin komunikasi dengan pihak manajemen yang di pimpin oleh Eric, termasuk keluarga Shania.
Bagi Oon, ada masanya Shania akan muncul di depan publik dan keluarga, disaat istrinya itu benar-benar mau menerima dan mengakuinya sebagai suami dari Shania Junianatha, tanpa perasaan malu, ataupun gengsi dengan wajah yang tak tampan, dan tubuh tak seperti yang diharapkan banyak wanita di luar sana.
Entah mengapa, Shania semakin tidak bisa untuk berkata-kata, karena dalam genggamannya kini terdapat handphone pipih yang benar-benar canggih dan multifungsi.
Lagi-lagi Oon tertegun sejenak, merasakan kemesraan yang semakin di tunjukkan oleh istrinya, tanpa perasaan sungkan ataupun malu-malu lagi.
Oon mengusap lembut kepalanya, hanya menjawab sedikit, "Syukurlah kalau kamu senang!"
Mereka bergegas turun dari mobil pajero sport berwarna hitam itu, memasuki restoran dengan penuh kemesraan yang dalam hitungan jam dapat merubah suasana hati seorang Shania.
Katakanlah Shania matre dan membutuhkan Oon, yah ... Memang itulah niat pria bertubuh buncit itu, membuat Shania hanya membutuhkan dirinya saat ini, tanpa harus memandang kekurangan fisiknya.
Shania tertawa kecil, saat belajar menggunakan handphone terbaru miliknya, sambil menikmati segelas juice pilihan suami terbaiknya ...
"Mas, ini enak banget! Juice apa sih? Kok kamu tahu saja, minuman yang seger-seger," tawanya, menyodorkan sedotan ke bibir Oon tanpa perasaan jijik seperti awal mereka menikah.
Oon membuka mulutnya, dan menyerupai minuman segar yang ia pilihkan untuk Shania, "Hmm kamu suka?"
Shania mengangguk manja, ia masih belum menyadari apa yang telah ia lakukan, karena fokus pada layar handphone yang terletak di atas meja restoran.
Shania menunjukkan satu resep masakan, yang tampak lezat, dan mempelajari cara membuatnya melalui video yang ada dalam unggahan layar tersebut ... "Hmm ... Sepertinya memasak ini gampang, Mas. Tapi aku enggak yakin dengan kemampuan ku," rengeknya meringkuk di lengan Oon lagi dan lagi.
Oon melihat kearah layar handphone milik Shania, hanya berkata, "Ka-ka-kamu bisa belajar perlahan. Yang penting niatkan dalam hati, bahwa kamu itu sekarang istri Oon Syahputra ... Jangan ada kata menyerah, kalau kamu belajar, nanti pasti terbiasa," jelasnya menepuk-nepuk pundak Shania.
Saat makanan terhidang dihadapan mereka, bergegas Shania menyantap lahap makanan yang tersaji, dengan menyuapkan beberapa kali ke mulut Oon menggunakan tangannya sendri, sambil bertanya ...
"Enak yah? Boleh bungkus enggak untuk makan malam?"
Oon mengangguk setuju, dia hanya tersenyum melihat tingkah Shania yang dengan mudahnya berubah-ubah, hanya karena semua permintaan wanita itu ia penuhi.
Setelah lebih dari dua jam Oon dan Shania menghabiskan waktunya di restoran itu, dan memesan dua ekor ikan bakar gurami juga satu porsi sapi lada hitam sesuai permintaan sang istri, lagi-lagi kedua bola mata wanita itu di kejutkan dengan sosok pria yang selama ini mengaku sebagai bujangan pada Shania.
Dengan cepat Shania berlindung dibalik punggung Oon, agar tidak terlihat oleh pria bernama Rizal itu, yang tengah berdiri disampingnya.
Sontak, Rizal menyadari kehadiran Shania, dari aroma parfum yang digunakan wanita itu saat menghabiskan waktu bersamanya.
Rizal menoleh kearah Oon, dan sedikit memundurkan langkahnya, untuk memastikan bahwa wanita yang berada di belakang pria buncit itu merupakan mantan kekasihnya, Shania Junianatha.
Oon menatap sinis kearah Rizal yang hanya setinggi dagunya saja, sambil berkata, "Apa ada sesuatu yang menggangu pemandangan Anda?"
Rizal tersenyum lirih, dia menganggukkan kepalanya, kemudian menggeleng, dan memperbaiki posisi berdirinya seperti semula.
Shania meremas kuat baju kaos yang dikenakan Oon, masih menutupi wajah cantiknya, agar tidak terlihat oleh pria yang beralih menjadi seorang tukang ojek online tersebut.
Namun, kepergian Shania yang masih menundukkan kepalanya itu, menjadi satu kejutan bagi Rizal ...
"Hmm aku yakin wanita itu, Shania Junianatha yang telah menikah dengan pria jelek itu ..."
Tidak lupa Rizal mendokumentasikan kejadian tersebut, dengan mengambil beberapa foto mobil serta plat nomor kendaraan milik Oon.
"Aku yakin, ini akan menjadi pundi-pundi uang bagi ku ..." tawanya mengejek sang mantan kekasih, yang tampak mesra dalam dekapan pria berwajah bringas itu.