Mas Oon Is My Husband

Mas Oon Is My Husband
Merendahkan ego ...



Sudah lebih dari dua bulan mereka tinggal satu atap, tapi tidak ada tanda-tanda Oon ingin berbaikan dengan Shania. Ia melakukan tugasnya sebagai suami yang bertanggung jawab, dengan menghadapi polemik perlawanan Mala yang menginginkan putra kesayangannya menceraikan istrinya.


Oon hanya diam tidak bergeming, saat Mala menghujatnya habis-habisan didepan pintu ruangan kantor yang terbuka lebar di rumah produksi film miliknya.


Wajah lugu Oon hanya bisa diam, menahan amarahnya, agar tidak dikatakan anak durhaka kepada seorang Ibu yang telah melahirkannya dan menjadi seperti saat ini.


"Sudah lebih dari dua bulan kamu tidak pulang kerumah, malah memilih tinggal satu atap dengan wanita itu. Apa yang kamu inginkan Oon!" teriak Mala frustasi, tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang melihat kejadian tersebut.


"Bu ... Oon suami Shania. Sudahlah, jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga Oon. Oon sayang sama Ibu! Shania sudah menjadi lebih baik saat ini. Walau dia masih mengurung diri didalam kamar, tapi enggak masalah. Yang penting saat ini dia aman bersama Oon, Bu. Mengertilah ..." mohon nya dengan wajah merah padam karena menahan rasa malu di hadapan semua para karyawan yang menyaksikan kejadian tersebut.


Lagi-lagi Mala mendengus kesal, sambil menunjuk-nunjuk kepala putranya dengan perasaan kesal ...


"Kenapa kamu bodoh sekali Oon! Jika kamu menceraikan wanita itu, makan dengan mudah Ibu melaporkan semua kasus Keluarga Ahmad Cirendeu ke pihak kepolisian. Karena jika kamu masih mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat ini, maka kamu akan menderita seumur hidup mu!!" geramnya.


Oon menghela nafasnya dalam-dalam, tersenyum lirih, hanya bisa bicara baik-baik, "Ibu ... Waktu Ayah masih hidup, kita selalu sama-sama. Ayah pernah berpesan pada Oon agar mempertahankan pernikahan jika sudah menikah. Jadi tolong biarkan Oon dulu tenang bersama Shania yah, Bu!"


Mala hanya bisa menelan ludahnya, mengalihkan pandangan kearah lain, tanpa mau mendengar penjelasan dari Oon. Kali ini dia harus memikirkan bagaimana caranya untuk memisahkan anak menantunya tersebut, agar putranya dapat bertemu dengan wanita yang sangat menghargainya.


Tak banyak bicara, Mala beranjak dari ruangan itu, memilih meninggalkan kantor Oon. Gayung bersambut, matanya tertuju pada salah sosok wanita yang berprofesi sebagai model di kantor itu.


Mala menyunggingkan senyumannya, dia seakan-akan memiliki satu ide yang sangat brilian, sehingga merencanakan sesuatu agar Oon menceraikan Shania.


Gadis tinggi semampai itu menoleh kearah Mala, sambil tersenyum sumringah, melirik kebelakang wanita paruh baya tersebut, hanya ada Beny yang tengah menunggu lift yang sama.


Beny menyapa Mala, karena baru menyelesaikan pekerjaannya dengan team produksi, "Eeeh ada Tante Mala. Bagaimana kabarnya Tante? Sudah bertemu dengan Mas Oon?"


Mala menepis tangan Beny yang akan mencium punggung tangan itu dengan angkuh. Sambil berkata, "Tolong bilang sama Pimpinan kalian itu, agar mau menceraikan istrinya! Karena wanita itu sudah tidak pantas untuk menjadi menantu ku!" sesalnya.


Beny terdiam, wajahnya memerah karena merasa tidak nyaman dengan ucapan Mala barusan. Dia berusaha menghindar, "Ma-ma-maaf Tante, kebetulan ada yang ketinggalan di ruangan. Lanjut dulu yah Tante ..."


Tanpa pikir panjang Beny membalikkan tubuhnya, berlari kecil menuju ruangannya, meninggalkan Mala yang masih berdiri didepan pintu lift dengan gadis muda tersebut.


Mala menyapa gadis itu lebih dulu, "Siapa nama kamu?"


Gadis itu melebarkan matanya, menunjuk kearah wajahnya, sambil melirik kearah lain, "Sa-sa-sa-saya Bu?" tanyanya dengan wajah sedikit bingung.


"Iya ... Kamu!"


Gadis itu menunduk hormat, memberikan tangannya, sebagai bentuk perkenalan diri, "Saya Soraya, Bu ..."


Mala menaikkan dagunya, "Soraya, nama yang baik! Bisa kita makan siang bersama? Kebetulan saya Ibu dari pria yang memiliki rumah produksi ini. Apakah kamu artis dari management mereka?"


Soraya menggelengkan kepalanya, kemudian mengangguk, karena perasaan gugup ...


Mala menganggukkan kepalanya, merogoh handphone yang ada didalam tas tangannya, memberikan handphone tersebut kepada Soraya, agar mau menuliskan nomor telepon pribadi gadis itu.


"Silahkan tulis nama dan nomor telepon kamu, besok kita akan bertemu. Karena ada yang ingin saya tawarkan kepada kamu, tentu dengan bayaran yang sangat tinggi!"


Soraya terdiam, kali ini ia tampak ragu-ragu karena sangat mengetahui siapa putra yang disebut oleh Mala.


Sosok pendiam, dan tidak banyak bicara, itulah yang ada dalam benak Soraya, jika mengingat sosok seorang Oon Syahputra. Karena baginya, bisa menjadi model iklan di bawah naungan management Oon itu sudah sangat cukup untuk kelangsungan hidupnya.


Akan tetapi, Mala terus mendesak Soraya, agar mau mencatat nomor di handphone miliknya.


"Tulis saja nomor telepon pribadi kamu! Apa kamu mau saya menghubungi putra kesayangan saya untuk memutuskan kontrak kerja dengan kamu?"


Soraya terdiam, dengan cepat dia menuliskan nomor telepon miliknya kemudian menyerahkan handphone itu kepada Mala.


"Bagus. Terimakasih!"


Mala berlalu meninggalkan gadis muda itu, yang tampak kebingungan, sambil menelan ludahnya sendiri, bergumam dalam hati ...


"Kenapa Ibu Mas Oon seakan-akan merencanakan sesuatu ...? Apakah mereka lagi perang dingin, sehingga hmm. Lebih baik aku menghindar saja ...!"


Soraya berlalu, meninggalkan gedung perkantoran tersebut. Melanjutkan kegiatannya sebagai mahasiswi disalah satu universitas di Jakarta.


Sementara Shania tengah menjalani kehidupannya dalam kehampaan. Dia hanya ditemani Darmi, tanpa dihiraukan oleh kedua orangtuanya.


Wajah cantik itu sudah tampak lebih berisi, tanpa mau menyapa atau berbasa-basi dengan orang lain, termasuk Oon yang tidak pernah mau menyapanya lagi.


Shania yang masih terlihat murung, hanya bertanya pada Darmi ... "Mas Oon mana, Bi? Kok enggak pernah kelihatan lagi? Asal saya keluar kamar dia selalu menghindar, asal saya didalam kamar, dia keluar. Apakah begitu majikan Bibi?"


Darmi tersenyum sumringah, dia merasa jikalau Shania mulai merasa kehilangan Oon, walau tidak ditujukan oleh gadis itu ...


"Mas Oon lagi sibuk Mba. Mungkin hari ini juga pulang agak larut malam, karena ada yang harus mereka selesaikan. Oya, bagaimana kasus Mba Shania? Apakah sudah selesai?"


Shania menggelengkan kepalanya, seketika mata indah itu berkaca-kaca, merasa bersalah pada kebodohannya sendiri.


"Saya pengen keluar Bi? Sudah lama saya tidak keluar dari apartemen untuk menikmati udara kebebasan. Apakah saya salah, Bi?"


"Hmm saya enggak mau menjudge orang lain Mba. Walau sebenarnya Mba salah, tapi lebih baik meminta maaf pada Mas Oon. Toh dia sudah memberikan yang terbaik buat kelangsungan hidup Mba Shania. Membungkam semua mulut wartawan, hingga berita Mba enggak di munculkan lagi di media. Cobalah berpikir Mba. Karena jika Mba Shania keras, Mas Oon keras, kapan baikkan. Cobalah untuk mengalah, merendahkan ego kita untuk kebahagiaan kita, Mba. Ntar nyesel lho ..." godanya pada puncak hidung Shania yang mancung.


Shania tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya, kembali berfikir untuk kebahagiaannya, sambil bergumam dalam hati, "Hmm ... Tidak ada salahnya aku mencoba berbaikan dengan Oon ..."