
Reandy memang sosok suami siaga yang over protectif menurutku, kejadian kemaren membuat aku terpaksa harus pergi ke Rumah sakit. Aku harus menurutinya jika bisa mengaum seperti singa , seperti aku adalah rusa yang akan di mangsa.
Kami berdua masuk kedalam ruangan dokter, aku mulai menceritakan semua keluhan yang aku alami, lirikan mata suamiku tentunya sudah bisa aku selami , dia seperti sudah memendam amarahnya , kupastikan aku akan menuruti semua perintahnya. Aku akhirnya di beberikan beberapa pertanyaan, satu pertanyaan yang membuatku terpana dan aku lupa
“Ibu Cinta terakhir menstruasi kapan ?”
Aku mencoba mengingat ternyata aku tersadar bahwa sebulan ini tamu yang selalu hadir itu tak kunjung datang.
“Sepertinya sudah hampir satu setengah bulan yang lalu dok “
“Baik ibu aku akan konsulkan kepada dokter kandungan, silahkan Bapak dan Ibu di antar oleh perawat “
“Dok,, Istri saya hamil ?” Tanya Suamiku antusias
Senyuman dokter Rey terlihat “selamat ya Bapak dan Ibu “
Reandy melihatku terpana wajah yang tadi seperti Singa berubah menjadi Anggora
Kami masuk dan bertemu dengan dokter Aldo, aku berbaring dan segera di periksa oleh dokter Aldo
“Selamat Ibu dan Bapak terlihat kantung kandungan, semoga Ibu dan Bayinya sehat selalu tidak ada pantangan untuk makanan dan Ibu harus bersabar ya jika mengalami hal-hal aneh seperti mual dan perasaan mudah berubah. Untuk Bapak harus sabar selama 9 bulan Istri Bapak harus menjadi Ratu , apapun keingianannya penuhi suport Bapak harus 1000 % “
Penjelasaan dr Aldo sangat detail sekali membuat aku terpana sampai aku lupa ingin bertanya namun hal tak tertuga
“Dok .. maaf kalau saya masih bisa ituuu sama Istri Saya ?”
Wajahku tentunya bukan memerah lagi tapi pucat pasi atas pertanyaan Reandy
Tawa dokter Aldo terlihat,” tentu saja Bapak masih bisa berhubungan dengan Istri Bapak namun tetap harus hati-hati ya Pak “
“Baik dokter terimakasih banyak “ ucapku dengan rasa malu , sampai Rumah Reandy sudah pasti tidur diluar.
Reandy memintaku untuk menunggu di mobil, karena dia harus mengurus obat dan admistrasi. Setelah dia kembali aku hanya terdiam di mobil. Dia tidak seperti biasanya malam ini dia bawel luar biasa. Aku tetap terdiam hingga akhirnya dia bertanya
“Sayang .. kenapa kamu ?? Mau sesuatu ??”
“Sayang .. “ tanyanya lagi
Akhirnya aku mulai berkata
“Aku malu kamu nanya kaya tadi, kayanya gimana gitu ?”
Hahahahha tawa Reandy pecah
“Gitu aja malu, sama dokter sendiri sayang, daripada aku nanya Ibu lebih malu lagi kan ? Aku Cuma takut aja, kalau aku suruh ga anu anu sama kamu sampe 9 bulan aku bisa tahan sayang “
“Gomballl.. padalah tiap malam ga pernah absen minta jatah “
“Aku mau minta Kebab yang di depan Ruko itu dan mesti dapet “
“Siapp Bumil “
**
Dua bulan berlalu
Hampir setiap Pagi ini aku merasa tidak biasa rasanya pusing dan juga mual, Alarm sudah berbunyi namun aku masih saja bergelut dengan selimut, rasanya tenagaku sudah surut.
Aku membangunkan Reandy yang sedang lelap tertidur, tidak seperti Biasanya yang harus beberapa kali hingga aku emosi baru dia terbangun.
“Sayang kamu istirahat ya, aku bisa menyiapkan semuanya sendiri” akhirnya Reandy memilih untuk pergi ke toilet namun baru saja dia masuk rasa mual menghampiriku, aku mengetuk pintu Toilet berharap Reandy segera membukanya.
Aku membuka Closet dan memuntahkannya hingga lemas. Reandy yang setiap pagi melihatku seperti ini selalu menyarankan untuk aku di Rawat saja di RS karena dia takut aku dan bayinya kenapa-kenapa. Namun aku bersih keras untuk tetap di Rumah karena Aku yakin aku tidak nyaman di RS, Reandy yang tadinya bersiap untuk bekerja menghentikan kegiatannya dan memilih engurusi aku terlebih dahulu. Reandy juga menitipkan ku kepada Bibi Nur untuk menjagaku dan mengabariku jika terjadi sesuatu. Terkadang Ibu dan Mama mertuaku datang untuk menemaniku, karena Reandy yang super bawel selalu memberitahu Jika aku terus Mual dan Muntah.
Aku banyak membaca buku tentang Trismester pertama kehamilan dan wajar saja jika terjadi mual muntah sepertiku. Yang perlu aku lakukan hanya sabar dan tetap makan untuk membantu nutrisi aku dan si buah hati. Perhatian Reandy saat ini buka 100% melainkan bisa 1000 % kepadaku, hampir setiap Jam jika dia sedang bekerja menghubungiku, menanyakan apakah aku makan atau menanyakan bagaimana kondisiku.
Sore ini aku sengaja duduk di taman sambil membaca beberapa buku, tentunya aku sudah rindu dengan Café karena selama hamil Reandy melarang aku keluar rumah. Dan sementara Andy yang membantu Café saat ini. Teringat Café aku teringat akan aroma ko[I yang memabukan membuat indra perasaku bekerja. Aku mengambil ponsel di samping meja dan segera menghubungi Reandy.
Hanya butuh tiga kali nada sela , Reandy langsung mengangkat telpon dariku
“Sayang.. aku mau kopi yang ada di café “
“Ga bisa dong sayang.. kamu lai hamil ?””
“Tapi kata dokter boleh “
“Tapi kamu itu lagi ga stabil, klo stabil aku janji bakalan bawain kopi yang banyak”
“Tapia ku mau itu ..” Nada suaru ku berubah sendu hingga air mata menetes di pipi tanpa permisi aku segera mengakhiri telpon dan entah kenapa hanya karena kopi aku menangis sejadi-jadi.
Mungkin hormonku sedang beraksi atau ini perintah si bayi, yang ku ingin bukanlah hal sulit namun kenapa dipersulit.
Haiii guys welcome beeeek yah
Disii adakah yang pernah hamil dan ngerasa kaya anak kecill
Oh ya jan lupa koment , vote , like yahhh siapa tau nambah pahala sama rezeki
Hahahaha
Sehat sehat semua