
Kristian POV
Tiga bulan telah berlalu aku masih belum bisa menemukan keberadaan Cinta, aku tidak lagi ada semangat untuk pergi ke kantor namun aku bukan orang yang lalai dalam pekerjaan. Keadaan ini membuatku semakin lupa waktu jika ada urusaan yang berkaitan dengan pekerjaan. Aku sudah meminta Anna untuk terus mencari keberadaan Cinta hingga aku menyewa seorang hunter untuk mencari Cinta. Akan kukejar kemanapun keberadaan Cinta, aku yakin Cinta masih memiliki rasa kepadaku. Terkadang aku hampir ingin mengulang waktu untuk tidak mempertemukan Mami kepada Cinta. Walaupun sama saja hingga akhirnya aku dan Mami harus menahan Ego dan mulai merasakan bahwa hubungan kami hanyalah hubungan yang sah secara negara saja. Aku tidak perlu Mami setiap hari menghubungiku bahkan setiap weekand mengunjungiku untuk melihat keadaanku. Namun di benakku ahanya ada dua prioritas Cinta dan pekerjaan.
Aku sudah dibutakan dengan pekerjaan hingga kebiasaan lamaku kembali hadir seperti aku kembali menghirup nikotin dan terkadang aku tidak segan untuk mabuk menghilangkan penat di benakku, berusaha untuk tertidur karean dengan mabuk aku bisa sejenak tidur tanpa memikirkan masaahku. Masalah penampilan sudah bisa di pastikan aku tidak mengurus diriku, bahkan untuk memotong rambut dan bulu halus yang tumbuh di sekitar muka aku sungguh merasa malas melakukannya. Meeting aku lakukan bahkan tanpa adanya batasan waktu terkadang aku menginap di kantor. Seperti hari ini aku harus memulai rapat dan tak sempat membawa baju ganti , aku hanya mandi seadanya dan segera pergi ke ruang rapat tak lupa aku meminta Hussein untuk menyediakan hot americano dengan extra shoot.
Hussein adalah pengganti Cinta yag aku tunjuk karena aku tidak mau ada wanita yang menggantikan Cinta. Rapat segera dimulai dan aku merasa semua yang dilakukan para team tidak sesuai harapan hingga aku ingin meledakan kepalaku, ku banting map yang di berikan Steve
“Kalian pikir ini perusahaan milik keluarga kalian ?”
“Kalian pikir kalian tidak di berikan tunjangan dari perusahaan ?”
“Jika kalian merasa sudah tidak sanggup bekerja silahkan tinggalkan kantor ini ?”
Aku segera pergi meninggalkan mereka, dengan perasaan penuh emosi
Hussein POV
“Hussein .. “ tanya Fery
“Kenapa belakang ini dia seperti monster ?”
Kau masih saja bertanya ?” Jawab hussein
“Tentu saja karena sang pawang Cinta tealh meninggalkannya tanpa kabar, kau tahu betapa menderitanya aku setiap hari mendengar omelannya,padahal dulu dia begitu sabar dan berkarisma, aku pergi dulu ya “
Kristian POV
Aku pergi ke atap untuk menikmati sebatang rokok sebagai penghilang penat, ku minum kopi yang tadi sudah disediakan Hussein, terasa sekali hingga sedikit membuatku nyaman. Namun aku merasa aku sedikit pusing dan kepala ku sangat berat, memang tiga bulan ini aku tidak merasakan nikmatnya menikmati makanan dan hanya nikmat menikmati rokok dan juga minuman keras setiap hari. Ketika sudah selesai aku kembali ke ruanganku dengan keringat dingin dan juga tatapan yang kurang jelas untuk menatap keadaan sekitar dan terasa gelap hingga akhirnya ku terjatuh.
Aku mulai membuka mataku secara perlahan terdengar ada suara tangisan dari seorang wanita. Aku mencoba mengingat kejadian tadi dan aku teringat bahwa aku merasa seperi ada gempa dengan tiba-tiba gelap. Hingga aku berusaha melihat sekeliling ternyata suara tangisan itu berasal dari Mamiku, aku melihat sekitar dan merasa asing dan merasakan bahwa tanganku sedikit ngilu ternyata selang infus sedang dipasang ditanganku. Kucari Hussein yang merupakan orang kepercayaanku dan tidak memperdulikan Mami dan Papi
“Hussein aku ada dimana?”
“Bapak ada di RS.Elisabet”
“Oh.. kukira aku sudah mati?”
“Kris.. “sapa Mami Irene
“Mengapa hidupmu menjadi seperti ini, apa kamu senang melihat Mami dan Papi khawatir ?”
“Sudahlah.. aku sudah dewasa”
“Sein.. Tolong urus administrasinya , lakukan Operasi secepatnya dan untuk keperluan kantor aku mau kamu setiap hari melaporkannya kepadaku “
“Tapi pak ..Bapak kan masih sakit dan ada Pak Steve ..”
“Apa kamu berani membantah ?”
“Baik pak ..”
“Satu lagi pesankan Hotel untuk Orangtuaku”
“Baik pak “
“Kris .. kami bisa menginap di Unit,”
“Tidak usah itu miliki dan tidak mau ada yang menyentuhnya”
Perkataanku membuat Mami meninggalkanku dengan keadaan menangis hanya tersisa aku, Papi dan Hussein. Papi meminta Hussein untuk mengejar Mami dan mengantarkannya ke Hotel. Hinga tersisa Papi dan beliau menghampiriku
“Kris.. jika kamu membenci Mami dan Papi itulah hakmu sebagai Anak , karena Papi tidak bia menjadi orang tua yang sesuai dengan Kriteria yang kamu mau namun Papi tidak pernah keberatan dengan siapa hatimu berlabuh dan memilih wanita untuk menjadi pendaping hidupmu. Namun perayalah jika kamu sudah seusia Mami dan Papi kamu akan mengerti bahwa Mami hanya ingin memberikan sesuatu yang paling baik. Papi menegrti sikap Mami sangat salah dan jika kamu memang benar mencintai Cinta bangkit dan berusahalah percayakan kepada Tuhan bahwa Jodoh sudah di tentukan. Papi akan berusaha berbicara kepada Mami”
Aku terdiam .. Papi adalah sosok yang bijaksana yang tidak pernah memandang seseorang dari latar belakangnya, aku memikirkan Ucapan Papi dan aku merasa seperti diberikan semangra baru, aku harus menjadi sukses gara aku lebih mudah mencari Cinta agar Mami bisa percaya akan pilihanku. Dan kelak merasa bangga akan aku dan Cinta.
\~Tuhan aku mohonn pertemukan Aku dan Cinta, Buatlah Kami bersatu\~