
Tiga bulan Aku dan Reandy sudah menjalani masa pengantin Baru. Banyak perubahan yang terjadi tentunya. Aku yang tadinya sendiri sekarang sudah menyandang status sebagai seorang Istri, aku juga sudah Resign dari perusahaan dan menjalani peran sebagai IRT, namun aku tidak bisa berdiam diri saja, Reandy mengizinkanku untuk membuka coffee shop yang sedang boming. Menjadi Owner tentunya berbeda seperti karyawan. Pekerjaanku tidak berat dan perjanjian yang aku buat dengan Reandy bahwa aku harus di rumah sebelum dia sampai di Rumah. Kebiasaan masing-masing mulai terlihat seperti Reandy yang hidupnya selalu Rapi membuat terkadang dia selalu mengomel jika ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, Contohnya Jika aku lupa menaruh Jam tangan bukan pada tempatnya. Namun ada hal Kebiasaan Reandy yang membuatku selalu mengomel yaitu dia selalu lupa untuk membawa titiapan makanan yang aku minta. Padahal aku sudah sangat mengingatkannya. Seperti malam ini aku sengaja menunggunya pulang ke rumah untuk menyantap salah satu sate Favorite ku.
“Sayang … mana titipanku ?” Tanyaku bingung dia langsung berbalik badan dan pergi kembali menuju mobilnya
“Mau kemana kamu ?” Tanyaku penasaran
“Maaf sayang.. aku lupa tadi mampir, aku balik lagi yah , maaf sayang. “ moodku langsung berubah
“Ga usah.. “ kujawab ketus lalu aku meninggalkannya, dia mengejarku dan memberikan beberapa pilihan
“Gimana kalau pesan antar aja , atau aku suruh Pak Niman aja ya?”
“GA USAHHHHHH .. “ malam itu aku masih kesal kepadanya entah mengapa hal sepele sih menurutku tapi dia bukan hanya sekali melakukannya, ini sudah sering terjadi. Dia membujukku dengan segala cara namun aku tetap diam. Beginilah problematika rumah tangga.
**
Pagi hari tiba aku sesungguhnya malas untuk membangunkan suamiku namun aku tetap ingat kewajibanku. Akhirnya dengan berat hati aku membangunkannya dan tidak seperti biasanya yang harus aku bangunkan berulang kali. Kali ini Reandy langsung terbangun.
Dia menghampiriku yang sedang menyiapkan roti gandum beserta kopi hangat untuknya
“Sayang.. udah dong jangan marah lagi, oh iya Mama nyuruh kita nanti sore mampir ke rumahnya ajak Ibu juga sekalian ya, soalnya kita udah lama ga makan bareng “
“Iya “ jawabku ketus ..
“Kamu mau aku balik lagi ke kantor apa gimana nih ? Mau macem-macem sama aku ?”
Tawa Reandy terdengar puas kala itu. Dia memang selalu mempunyai Trik agar aku bisa mulai berkata-kata kepadanya. Dia langsung memelukku
“Gitu dong.. Ketauan kan sayang sama suaminya, masa suami gantengnya dari semalem di cuekin gara-gara sate. Masa aku sama sate kamu malah milih sate “
“Salah sendiri kebiasaan kalau di titipin selalu lupa, padahal istrinya ga minta yang susah loh”
“Kiss dulu dong, kan semalem aku nya di biarin aja” bukan menciumnya aku malah meniup matanya, akhirnya kami berdua tertawa. Banyak masalah-masalah kecil terkadang ada saja membuat pertengkaran namun sampai saat ini kami masih bisa mengatasinya.
**
Malam ini aku dan Reandy sudah sampai di rumah Mama, Ibuku dan Andy juga sedang dalam perjalanan kemari. Mama sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk kami santap bersama namun aku merasa ada yang aneh pada tubuhku ini. Sudah hampir satu minggu ini aku kehilangan nafsu makan dan juga aku merasa sering kelelahan. Namun jika aku mengungkapkan perihal itu kepada Reandy sudah yakin aku tidak di Izinkan untuk pergi ke kafe. Padahal itu adalah satu-satunya tempat yang membuat aku senang.
Bau masakan sangat terasa membuat aku merasa mual dan pusing. Atau karena dari siang hari aku hanya meminum secangkir americano saja membuat asam lambungku naik. Acara santap menyantap makanan telah kami laksanakan dan juga diisi dengan perbincangan mengenai Andy yang akan bertunangan dengan kekasihnya. Aku meminta Reany untuk malam ini kami menginap saja. Karena masih ada. Beberapa bajuku dan juga baju Reandy di rumah mertuaku. Malam semakin larut dan kami berpamitan untuk masuk ke dalam kamar. Reandy segera masuk ke Toilet untuk membersihkan diri dan baru saja dia masuk. Rasanya tenggorokanku pahit. Aku merasa ingin mengeluarkan semua yang ada di dalam perut ini. Aku menggetuk pintu Toilet dan setelah Reandy membukanya , aku memuntahkan semua makanan yang ada. Reandy kali itu bingung melihatku
“Pasti kamu telat makan lagi deh dampe kamunya begitu” dia membantuku membersihkan mulut dan menggendongku menuju nakas.
“Sayang aku bisa turun”
“Ga usah.. akku beneran marah sama kamu, besok ga usah pergi ke kafe pokoknya”