
Hari ini kami memutuskan untuk pergi pantai, karena kemarin sudah ku habiskan untuk melihat pemandangan persawahaan sekarang aku ingin menikmati Pantai , Reandy senagaj memesan Hotel yang memiliki Privite Beach agar aku bisa puas dan tidak terlalu ramai. Pilihan kamar yang di pilih Reandy memang selalu menjadi favorit terlihat bathtub dan kamar mandi yang luas dan tak jauh hamparan pantai yang luas. Sampai di kamar aku langsung mengajak Reandy untuk menemani berenang dan bermain di pantai. Sehabis itu aku ingin Reandy menemaniku untuk berbelanja oleh-oleh untuk keluargaku beserta mertuaku.
Aku langsung berganti pakaian renang untuk menikmati desir ombak disana namunsaat aku hendak keluar , Reandy mengehtikanku.
“Kamu mau pake baju itu ?”
“Iya.. ini kan baju renang masa kamu ga tau “
“Ganti cepet , aku ga mau kamu pake baju itu, dilihat sama orang-orang nanti, enak aja, badan kamu itu Cuma buat aku doank, aku yang nikmatinnya , liahatinnya, aku ga iklas kalau orang lain liatin kamu”
Ocehan Reandy yang malas aku tanggapi akhirnya membuatuku mengalah, aku menganti pakaian pantai yang sopan menurutku. Setelah keluar dari Toilet terlihat senyuman puas dari Reandy. Senyuman penuh kemenangan. Kami berdua akhirnya keluar dari kamar dan menikmati desiran ombak dan pasir yang begitu bersih. Rasanya menyenangkan , aku dan Reandy bermain Istana Pasir selayaknya Anak kecil, tertawa Riang hingga akhirnya sore hari tiba. Rasa lelah tentunya ada namun aku masih ingin membelikan oleh-oleh dan Reandy juga berjanji akan mengajakku makan di daerah Jimbaran. Diamana ikan laut dan seafood sangat Fresh belum lagi kita menikmati makanan di samping desiran ombak di malam hari.
“Sayang boleh ga kita besok aja cari oleh-olehnya ?” Mataku melirik tajam tanpa berkata Reandy langsung bisa mengartikan maksud dari tatapanku
“Okeh malam ini aku anter kamu mau kemana aja, duh janga gitu dong tatapan kamu tuh bikin hati aku tersayat-sayat tapi nanti malem aku boleh yah dua ronde sama kamu “
“Dasar suami Binal …kamu kenapa sih aku tuh yah kan malu kalau kamu bilang gitu terus”
“Gapapa bagus malu sama suami sendiri”
Sejam berlalu, aku tertunduk lelah dan aku mulai mendengar suara Reandy sayup-sayup “ Cinta, maafin aku “ aku tersadar hingga aku melihat Reandy, aku melihat ada perban dikepalanya, sontak saja aku berdiri dan menghampirinya
“Maaf tadi ada insiden kecil, aku menghindari motor yang mengebut dan malah aku yang mengalami kecelakaan , maaf aku ninggalin kamu tadi”
“Kamu gapapa beneran gapapa , kita balik ke rumah sakit yu “
“Gapapa ini udah di jait juga, terus mobil aku masuk bengkel jadi nanti kita naik taxi aja, besok aku minta pihak hotel sediain kita mobil buat jalan-jalan”
Tangisanku pecah bisa-bisanya dia masih mikirin jalan-jalan pdahal kondisiya lagi kacau balau. Kadar kecerewetanku akhirnya keluar pada puncaknya , sepanjang perjalanan aku hanya mengomeli Reandy. Namun sikap Reandy selalu begitu manis. Ketika aku mengomelinya dia malah mengecup bibirkku . Hingga akhirnya aku berhenti bicara.
“Yuk pulang nanti kecupan panasnya di hotel aja , kamu klo ga di cium ga akan bisa berenti ngomel”
Muka ku panas oleh ulahnya . Reandy yang ternyata suami yang sangat bertangung jawab terimakasih Suamiku.
Extra part lagi ga nih ?????