
Dua minggu menuju Persiapan pernikahanku hampir 95% hampir sudah selesai, undangan sedang di sebarkan oleh team WO, fitting baju kebaya aku dan juga Reandy sudah dilakasanakan , dekorasi sudah kami pilih. Reandy adalah Pria yang benar-benar sangat mengerti yang aku inginkan. Rasanya bahagia bisa mewujudkan impian Ibu untuk bisa melaksanakan pernikahanku secara megah. Reandy dan keluarganya pun tidak masalah dengan biaya yang dikeluarkan. Karena Reandy merupakan anak tunggal jadi mereka sangat setuju dengan konsep pernikahan yang mewah bahkan hotel luxury yang telah kami pilih.
Hari ini aku dan Reandy berencana untuk pergi ke rumah yang akan kami tinggali, karena Reandy tidak mau untuk jika nanti setelah menikah harus tinggal di rumah orangtuaku atau orang tuanya bahkan tinggal di apartemen ku. Jadi aku berusaha menurutinya
Aku sudah menunggu di ruangannya namun dia belum juga kembali dari meeting dengan team perencanaan. Namun aku masih menunggunya dan sudah satu jam aku menunggu namun tak kunjung juga dia kembali. Hingga akhirnya aku mengirimkan pesan kepadanya.
“Ren .. kamu tidak lupa kan hari ini kita akan melihat Rumah ?”
Namun tidak ada jawaban hingga aku kembali menunggu. Aku tidak terbiasa untuk menelepon nya jika memang masih dalam situasi jam kerja. Sepuluh menit berlalu namun tak ada jwaban juga hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke ruanganku . Ketika aku beranjak dari sofa. Pintu Ruangan Reandy terbuka dan akhirnya dia kembali
“Sayang maaf tadi kamu menunggu lama ya.. maaf sekali meeting tadi molor , jadi bagaimana kita berangkat sekarang?”
“Ini sudah lebih dari jam istirahat, pulang kantor saja kita melihatnya “ jawabku kesal.
“Sayang .. maaf .. baiklah sehabis pulang kantor aku akan ke Ruanganmu”
Aku pergi meninggalkan Reandy dan kembali bekerja dengan berkas yang sudah menggunung di hadapanku hingga tak terasa jam pulang sudah tiba. Reandy menepati janjinya kali ini, dia menemuiku dan kami pergi bersama.
Reandy memang luar biasa dia memilih Rumah yang tak jauh dari Kantor hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah kami. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit kami sudah sampai di daerah Pondok Indah, ya salah satu kawasan Elite di Jakarta yang mana banyak Artis dan pengusaha tinggal disana. Kami sampai salah satu Rumah yang terlihat Elegant dimana di dominasi warna putih dan Coklat dan belum lagi taman yang asri dan terisi berbagai bunga anggrek dan juga beberapa pohon yang membuat suasana sangat asri. Kami turun dan segera di sambut oleh Pak Niman salah satu Arsitek yang merenovasi Rumah ini. Beberapa furniture sudah di pasang dan kami mulai melihat berbagai Ruangan. Ini merupakan rumah yang aku pernah ceritakan kepada Reandy. Setelah puas berbincang dengan Pak Niman untuk urusan desain dan juga deadline untuk di selesaikan setelah pernikahan kami. kami melanjutkan perjalanan untuk makan malam sebelum mengantarku pulang.
Di perjalanan Reandy mulai membuka pembicaraan
“Sayang .. boleh aku minta satu hal ?”
“Hmmm .. Apa Ren .. sepertinya serius sekali .. “ aku mulai merasaa ada sesuatu yang serius yang Reandy pinta kepadaku
“Hemmm .. bagaimana jika setelah menikah kamu berhenti bekerja ?” Dengan tatapan agak sedikit takut dan ragu namun dia berusaha mengatakannya
“Bukan aku melarang kamu bekerja di perusahaan sayang tapi aku hanya ingin kamu menjadi seorang Istri yang bisa fokus untuk merawatku dan juga anak-anak kita nantinya, dan aku juga memikirkan jika kamu masih bekerja aku takut kamu akan kelelahan, tapi ini hanya permintaanku saja, aku tidak akan mencegah jika kamu masih ingin bekerja..”
Aku terdiam berusaha mencerna apa yang Reandy pikirkan
“Itu kan hanya keinginku sayang .. semua terserah padamu “ jawaban Reandy yang selalu pasrah dan selalu menuruti semua perkataan ku namun aku bisa melihat raut wajah kesal dari wajahnya
Tiba kami disebuah Restoran dan setelah jawaban ku Reandy menjadi diam begitupun aku. Aku merasa kesal hingga kami sama-sama terdiam. Setelah makan malam Reandy mengantarku pulang. Tak seperti Biasanya dia selalu mengantarku masuk kedalam rumah .
Terlihat kekesala Reandy karena dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasa. Aku segera masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Dan memikirkan besok pasti Reandy menghungungiku.
Pagi hari tiba , tidak biasanya Reandy sampai ke rumah tidak mengabariku akupun langsug beranjak dari atas nakas untuk bersiap pergi ke kantor
Sudah hampir jam delapan Reandy tak kunjung menghubungi ku. Aku pun sama masih merasa kesal dengannya hingga aku melakukan hal sama kepadanya. Aku tidak akan menghubunginya dan tidak mengharapkan dia akan menjemputku. Ku ambil kunci mobil dan bersiap untuk sarapan
Tak lama terdengar suara mobil dan itu Reandy, semarah apapun dia . Dia tetap menjemputku hingga akhirnya aku yang memulai pembicaraan dengannya
“Ren .. semalam sampai jam berapa ? Kok tidak menghubungiku.. “
“Maaf aku lelah.. ayo nanti telat .. “ jawaban Reandy yang sudah aku pastikan bahwa dia masih kesal kepadaku , namun setelah itu aku menjadi tambah kesal namun aku masih menghargainya karena dia masih menjemputku.
Kami menaiki mobil dan aku memalingkan wajahku , berusaha untuk acuh kepadanya. Reandy pun demikian.
“Cin .. aku lembur jadi tidak bisa mengantarmu pulang, tapi aku sudah meminta supir kantor untuk mengantarmu “ suaranya masih terdengar ketus
“Tidak usah .. aku bisa pulang sendiri .. “ jawabanku juga terdengar lebih ketus dari perkataan Reandy
“Huffff.. Terserah “ pelan namun memiliki arti yang dalam.
Aku melihat ini bukan seperti Reandy yang aku kenal. Namun aku masih kesal dan akan menunjukkan tindakanku.
Sore hari tiba dan aku tidak mengikuti semua ucapan Reandy untuk pulang bersama supir kantor aku juga tidak menghubungi Reandy begitu juga Reandy yang dari siang tidak menghubungiku . Mungkin inikah yang dinamakan ujian sebelum memasuki pernikahan yang aku kira itu hanya sebuah mitos.
***