
Sudah dua hari Reandy tidak menghubungiku begitupun kau tidak menghubunginya ada rasa kesal di hatiku karena Reandy tidak mengerti bagaimana posisiku. Aku tentu masih kesal mengenai aku harus meninggalkan pekerjaanku. Pernikahan kami semakin dekat namun aku masih saja bersikap tidak mau mendengarkan Reandy. Aku masih bersikap jual mahal padahal Reandy sudah banyak mengalah kepadaku dan menuruti semua perkataanku. Rasanya aku ingin membatalkan pernikahanku karena kesal kepada Reandy namun aku ingat Ibu. Betapa akan malu jika aku pergi dan membatalkan pernikahanku. Namun dering ponselku berbunyi ternyata dari salah satu butik karena aku dan Reandy hari ini harus fitting untuk terakhir kalinya. Akhirnya mau tidak mau aku harus menghubunginya.
“Halo Ren .. hari ini kita harus fitting baju ..” dengan nada yang masih kesal akhirnya aku menghubunginya
“Ok ..”
“Ren .. hanya Ok .. kamu tidak menanyakanku bagaimana ?” Nadaku semakin tinggi
“Aku harus bagaimana ?” Jawab Reandy di sebrang sana dengan nada yang kebalikan dariku
“Kamu dua hari tidak menghubungiku dan kamu hanya menjawab bagaimana ? Kamu pikir pernikahan kita main-main, kamu marah aku tidak mau menurutimu ? Terserah kamu mau seperti apa , kita bertemu di butik jam 5 aku akan menjemput Ibu jadi kamu tidak usah menjemputku.”
Ku tutup telponku dengan nada yang masih kesal tanpa mendengar jawaban dari Reandy. Aku segera menelepon ibu untuk memberitahu bahawa aku akan menjemputnya di rumah.
Kekesalanku kepada Reandy belum usai terlihat dari tinggkah laku aku yang membuat Ibu bertanya, apa kah aku sedang ada masalah, namun aku berusaha menutupinya dari Ibu dan memang insting seorang Ibu tidak bisa di bohongi, akhirnya aku menceritakan semua kejadian kepada Ibu perihal Reandy yang mengiginkanku untuk berhenti bekerja. Niatku bercerita kepada Ibu agar Ibu bisa membelaku namun ternyata jawaban Ibu laindari dugaanku
“Cinta.. memnag betul ujian setiap pasangan menuju pernikahan itu ada, namun apa yang dikatakan calon suamimu adalah benar, bahwa kita ketika sudah menjadi Istri maka sepatutnya kita harus hormat dan menuruti apa perintah Suami kita, karena beliau adalah Imam Kita kelak di akhirat nanti. Mungkin Reandy punya alasan lain atau begini saja jika kamu masih merasa menjadi Ibu Rumah Tangga itu membosankan kamu belum mencobanya dan Jika kamu masih ingin berkegiatan maka ada baiknya kamu bisa berkonsultasi dengan Reandy entah meminta Izin untuk membuka Coffee Shop atau Kamu bisa menjadi Dosen yang jam nya bisa kamu atur. “ penjelasan dari Ibu membuat aku berpikir bahwa ketika kita dihadapkana pada suatu masalah maka komunikasi adalah jalan satu-satunya untuk memecakan masalah tersebut.
Ibu mengelus Rambutku dengan lembut dan memberikankku semangat bahwa wanita dalam berumah tangga pasti selalu ada badai dan masalah maka sikap kita akan menentukan bagaimana masalah itu akan terselesaikan atau malah menjadi besar
Akhirnya kami sampai di salah satu Butik, aku dan Ibu segera masuk kedalam ternyata Calon Ibu mertuaku sudah sampai terlebih dahulu begitu juga dengan Reandy. Nampak wajah Reandy memperlihatkan bagaimana Dia merasa bersalah. Namun aku segera menghampiri Ibu mertuaku terlebih dahulu mengecup punngung tangannya dan balasan Ibu mertuaku selalu memelukku dan mencium kedua Pipinya. Betapa bahagianya aku memiliki Mertua yang benar memperlakukan aku seperti Anaknya sendiri. Reandy melakukan hal sama kepada Ibuku dan dia menghampiriku merangkul pundakku dengan erat dan berbisik kepadaku
“Maafkan aku .. “ senyuman ku yang ku tahan terlihat di pantulan cermin dan kami segera masuk untuk melakukan Fitting. Aku meminta untuk tidak menunjukkan Fitting baju untuk final karena aku ingin Reandy melihatku dengan tampilan yang berbeda walaupun kebaya yang aku gunakan aku pilih dengan paduan warna broken white dengan punggung yang agak terbuka dan tentunya full payet. Reandy juga tidak mau memperlihatkan baju yang digunakan pada Akad nanti.
Rasanya jantungku semakin berdebar menuju Hari H yang akan beberapa hari lagi persiapan pun sudah 99% bahkan untuk Honeymoon segala persiapan Baju sudah di kami siapkan begitu Rumah baru sudah selesai dengan konsep yang aku inginkan.
Serasa mimpi bahwa Reandy yang akan menjadi suamiku kelak, aku memikirkan bahwa nanti kami akan melakuan semua aktifitas bersama mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali
Ibu Mertua dan Ibu ku sengaja untuk meninggalkan kami berdua dan mobil yang aku gunakan di bawa oleh sopir sehingga Sopir bisa mengantarkan Ibu dan Ibu mertuaku.
“Mama memang selalu mengerti bahwa aku ingin berdua denganmu “ tiba-tiba mencium puncak kepalaku . Dan aku berusaha melihat kearahya dengan tatapan seolah-olah masih marah namun di hati ini debarannya terasa.
“Ayo kita ke Rumahku , kita harus menyelesaikan masalah kita yang kemaren “ merangkulku menuju mobil miliknya
Tiba di rumah Reandy kami memasuki Ruang keluarga dan merebahkan Tubuhku di Sofa panjang Miliknya. Kaki ku yang tadinya memanjang di angkat dan di tarohnya ke dalam Paha miliknya kedua tangan Reandy memijat Kakiku yang berada di atas paha. Tak lama mbok Darsih membawakan buah dan juga minuman kepada kami . Sekitika kaki ku langsung ku pindahkan dari posisi semula karena tidak tidak enak dengan mbok Darsih. Reanndy tertawa melihat tingkahku
“Sayang santai .. Iya ga Mbok ? Tanya Reandy kepada Mbok Darsi
“Iya Tuan namanya juga lelah ya Non .. “
“eh iya Mbok ..” aku tersipu malu
“Mbok ke dalem ya tuan kalau ada apa-apa nanti panggil saja ya Tuan.”
“Makasih ya Mbok “ jawabku dan Reandy secara bersamaan
Aku sekarang merabahkan tubuhku di Sofa sambil memandang Reandy yang sibuk memakan Buah dari Mbok Darsi ..
“Ren .. aku setuju untuk berhenti bekerja “
Uhuuuuuk Reandy mendengar kata itu menjadi tersedak dan segera aku membantu untuk memberikannya segelasa Air
“Seriusss “ dia mengapit tangannya di kedua pipiku
Kecupan hangat dia berikan kepadaku ..
“Duh sudah ingin cepet-cepet belah duren saja ini aku”
“Apaansih porno begitu “ aku memukul tangan kekarnya
“Gapapa dong sama calon istri ini, kecuali aku bilang sama cewe lain begitu ..”
“REANDYYYYYYY “ aku menggigit tangannya dengan penuh amarah