JYANDRA

JYANDRA
alasan



" apa yang sedang anda lakukan nona di atas sana ?" tanya Arizo


Jyandra sangat terkejut mendengar Arizo bertanya refleks langsung berhenti melacak dan menurunkan kedua tangan dan kakinya


" saya sedang berlatih pertahanan diri sambil menghirup udara malam " seru jyandra


" apa membuat pikiran anda tenang?" tanya Arizo


" ya lumayan " seru Jyandra


Arizo melangkahkan kakinya, Jyandra lega dia pikir Arizo akan pergi, namun ternyata Arizo malah ikut naik ke atap dan duduk di atap bersama Jyandra


" kenapa kamu kemari ?" tanya Jyandra


" kamu bilang ini membuat relax " seru Arizo


" ada mana sihir yang kuat di sini!" gumam Arizo


" mungkin ini hanya perasaan ku saja " gumam Arizo


Jyandra dengan cepat turun dan beristirahat, hari berganti lagi


terlihat Jyandra sedang mengobati Ericson di kolam air hangat, tiba-tiba Arizo datang dengan tergesa-gesa


" tuan!" seru Arizo


" apa yang membuat anda tergesa- gesa ?" tanya Ericson


" tuan di istana ada… istana mempertontonkan beberapa kepala sebagai tontonan penghianat " ucap Arizo


" bergerak ke istana cepat!" seru Ericson


" saya ingin ikut " seru Jyandra


" tetaplah di sini " ucap Ericson


" saya mohon izinin saya pergi ke istana, hukuman apapun itu akan saya terima " seru Jyandra dengan mata yang. berkaca-kaca


" sifat acuhnya hilang " gumam Arizo


" nada bicara lebih tergesa tidak setenang biasanya " gumam Ericson


" baik, jangan buat kekacauan " ucap Ericson


" saya mengerti " seru Jyandra


mereka bergegas pergi ke istana di sana semua orang sudah berkumpul di tanah kosong yang luas, beberapa prajurit datang dengan membawa beberapa kotak berukuran sedang


" itu, bukankah orang itu?" gumam Jyandra


" diam jangan buat masalah, atau anda akan di pulangkan panglima " bisik Arizo


Jyandra mengangguk, kedua tangannya mengepal, tatapan matanya seperti singa sedang berburu.


" paman Widjaya, dia berulah sampai sejauh ini ?" gumam Ericson


" kita pertontonkan satu persatu penghianat itu " ucap Widjaya


kepalan tangan Jyandra semakin kuat tatapan matanya juga menjadi lebih tajam


" kita lihat di kotak pertama ada apa ? ohoho ternyata ini adalah kepala dari raja kerajaan Theodore " ucap paman Widjaya sambil mengeluarkan kepala itu dari kotak


Jyandra tak bisa menahan air matanya, ia langsung meneteskan air matanya di depan Arizo dan Ericson


" sial*n "


ucap Ericson dengan suara kecil Jyandra mendengar apa yang di katakan erikson


" lihat ternyata kepala keduanya adalah ratu kerjaan Theodore itu sendiri, lalu ada pangeran mahkota, ada pangeran kedua, dan keluarga lainnya, coba lihat siapa wajah cantik ini ? sungguh disayangkan banyak darah di seluruh mukanya " ucap Widjaya sambil terus menghinanya


" bahkan mereka membunuh bibi yang sedang hamil! kejam! sungguh kejam! benar- benar kejam!" gumam Jyandra


" kejam! "


tanpa sadar Jyandra mengucapkan kata kejam itu lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah yang di penuhi air mata


" Dara ?" tanya Ericson sambil melihat kebelakang


" kenapa reaksinya sampai seperti itu?" gumam Arizo


Jyandra pulang ke kamarnya menggunakan teleportasi sihir dan menangis sejadi- jadinya di kamarnya itu, tak lama Ericson datang


" mengapa anda meninggalkan tempat ?" tanya Ericson


" saya hanya merasa kasihan, dan sudah tidak kuat melihat pertontonan yang tak layak untuk di tonton itu " seru Jyandra


" kemari! jangan menangis " ucap Ericson sambil me lap air mata Jyandra



Jyandra tertegun dan merasa tenang, setelah itu air matanya tak mengalir terlalu deras