
" apa yang sedang anda lakukan nona di atas sana ?" tanya Arizo
Jyandra sangat terkejut mendengar Arizo bertanya refleks langsung berhenti melacak dan menurunkan kedua tangan dan kakinya
" saya sedang berlatih pertahanan diri sambil menghirup udara malam " seru jyandra
" apa membuat pikiran anda tenang?" tanya Arizo
" ya lumayan " seru Jyandra
Arizo melangkahkan kakinya, Jyandra lega dia pikir Arizo akan pergi, namun ternyata Arizo malah ikut naik ke atap dan duduk di atap bersama Jyandra
" kenapa kamu kemari ?" tanya Jyandra
" kamu bilang ini membuat relax " seru Arizo
" ada mana sihir yang kuat di sini!" gumam Arizo
" mungkin ini hanya perasaan ku saja " gumam Arizo
Jyandra dengan cepat turun dan beristirahat, hari berganti lagi
terlihat Jyandra sedang mengobati Ericson di kolam air hangat, tiba-tiba Arizo datang dengan tergesa-gesa
" tuan!" seru Arizo
" apa yang membuat anda tergesa- gesa ?" tanya Ericson
" tuan di istana ada… istana mempertontonkan beberapa kepala sebagai tontonan penghianat " ucap Arizo
" bergerak ke istana cepat!" seru Ericson
" saya ingin ikut " seru Jyandra
" tetaplah di sini " ucap Ericson
" saya mohon izinin saya pergi ke istana, hukuman apapun itu akan saya terima " seru Jyandra dengan mata yang. berkaca-kaca
" sifat acuhnya hilang " gumam Arizo
" nada bicara lebih tergesa tidak setenang biasanya " gumam Ericson
" baik, jangan buat kekacauan " ucap Ericson
" saya mengerti " seru Jyandra
mereka bergegas pergi ke istana di sana semua orang sudah berkumpul di tanah kosong yang luas, beberapa prajurit datang dengan membawa beberapa kotak berukuran sedang
" itu, bukankah orang itu?" gumam Jyandra
" diam jangan buat masalah, atau anda akan di pulangkan panglima " bisik Arizo
Jyandra mengangguk, kedua tangannya mengepal, tatapan matanya seperti singa sedang berburu.
" paman Widjaya, dia berulah sampai sejauh ini ?" gumam Ericson
" kita pertontonkan satu persatu penghianat itu " ucap Widjaya
kepalan tangan Jyandra semakin kuat tatapan matanya juga menjadi lebih tajam
" kita lihat di kotak pertama ada apa ? ohoho ternyata ini adalah kepala dari raja kerajaan Theodore " ucap paman Widjaya sambil mengeluarkan kepala itu dari kotak
Jyandra tak bisa menahan air matanya, ia langsung meneteskan air matanya di depan Arizo dan Ericson
" sial*n "
ucap Ericson dengan suara kecil Jyandra mendengar apa yang di katakan erikson
" lihat ternyata kepala keduanya adalah ratu kerjaan Theodore itu sendiri, lalu ada pangeran mahkota, ada pangeran kedua, dan keluarga lainnya, coba lihat siapa wajah cantik ini ? sungguh disayangkan banyak darah di seluruh mukanya " ucap Widjaya sambil terus menghinanya
" bahkan mereka membunuh bibi yang sedang hamil! kejam! sungguh kejam! benar- benar kejam!" gumam Jyandra
" kejam! "
tanpa sadar Jyandra mengucapkan kata kejam itu lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah yang di penuhi air mata
" Dara ?" tanya Ericson sambil melihat kebelakang
" kenapa reaksinya sampai seperti itu?" gumam Arizo
Jyandra pulang ke kamarnya menggunakan teleportasi sihir dan menangis sejadi- jadinya di kamarnya itu, tak lama Ericson datang
" mengapa anda meninggalkan tempat ?" tanya Ericson
" saya hanya merasa kasihan, dan sudah tidak kuat melihat pertontonan yang tak layak untuk di tonton itu " seru Jyandra
" kemari! jangan menangis " ucap Ericson sambil me lap air mata Jyandra
Jyandra tertegun dan merasa tenang, setelah itu air matanya tak mengalir terlalu deras