Is My Dream

Is My Dream
Bagian 9



Reva telah siap dengan baju santainya. Seperti kata Revan tadi, mereka akan berjalan-jalan ke taman. Namun cuaca masih sedikit panas karena jam sudah menunjukkan pukul 02:00 siang. Terpaksa mereka mengunjungi rumah makan dulu sampai suasana taman bisa dipastikan tidak panas lagi.


Dijalan Revan masih sempat memikirkan Ratu, pasti gadis itu sudah pulang dari tadi. Mungkin sekitar jam setengah satu dan sayangnya Revan tidak bisa mengantarnya.


"Van, mau nyari makan sampai ke mana?"Tanya Reva yang langsung membuyarkan lamunan Revan. Astaga, sudah banyak warung makan yang mereka lewati namun karena ketidak sadarannya, Reva justru melewati mereka semua.


Reva melongos, bahkan disaat seperti ini Revan masih bisa kacau karena Ratu. Sebegitu besarnya pengaruh Ratu untuk Revan dan itu sudah terlalu berlebihan. Lagi pula kenapa mereka harus makan dipinggir jalan seperti ini. Padahal mereka bisa saja kecafe atau restoran terdekat.


"Itu ada warung. Mampir ke sana aja."


Baru saja Revan hendak melangkahkan kakinya, Reva langsung menahannya.


"Kenapa harus ditempat kayak gini sih, Van?" Tanya Reva dengan mata yang menatap sekelilingnya.


Sebelumnya Reva memang tidak pernah ketempat seperti ini. Orang tuanya memiliki restoran langganan jika ingin makan diluar. Karena memang berasal dari keluarga berada, Reva jadi lebih sering menikmati sesuatu yang mewah. Berbeda dengan Revan, sekalipun ia juga berada di kelas yang sama, namun pergaulannya yang membuat dirinya masih bisa melakukan hal sederhana. Seperti makan dipinggir jalan, nongkrong ditempat biasa bersama temannya, bahkan naik angkot saat menuju kampus.


"Coba dulu makan disini." Revan langsung menarik tangan Reva menuju warung itu.


Sesampainya di sana mereka langsung disambut dengan ramah oleh sang pemiliki warung. Revan juga mengobrol santai, sepertinya mereka memang sudah sedekat itu.


Reva menatap sekelilingnya dan ia bisa melihat beberapa orang makan dengan lahap. Sepertinya makanan di sini memang enak dan juga terlihat lebih bersih. Baiklah, Reva harus percaya pada Revan dan memastikan dirinya akan baik-baik saja setelah memakan makanan di sini.


Lagipula jika dirinya sampai sakit dan masuk rumah sakit, ibunya pasti tidak akan marah. Karena pelakunya adalah Revan, si menantu kesayangan sendiri.


"Ini makanannya," Ucap pemilik warung sambil memberikan dua piring nasi dan lauk ayam crispy. Reva menatap makanan itu cukup lama, masih tidak percaya jika makanan ini adalah salah satu makanan kesukaan Revan. Terlihat sederhana sekali tapi entah bagaimana dengan rasanya.


"Makan, Rev...."


Revan langsung menyantap makanannya. Benar-benar luar biasa, anak dari kalangan atas memakan nasi dengan satu macam lauk. Reva bahkan belum pernah melakukan hal ini, mungkin karena dirinya terlalu dimanja.


Reva tersenyum kecil, Revan benar-benar berbeda. Ternyata dia tidak seburuk yang dipikirkan.


"Van... Suka banget yah makan di tempat kayak gini?" tanya Reva dengan hati-hati, takut jika itu menyinggung perasaan Revan.


"Banget. Waktu SMP sering ke sini bareng teman."


"Teman nak Revan itu orang dari kalangan bawah semua. Ibu juga gak tau kenapa dia suka bergaul sama anak-anak seperti itu," Celetuk ibu pemilik warung.


Revan terkekeh lalu berkata, "Seenggaknya mereka lebih tulus, Bu. Gak sombong dan gak semena-mena."


Reva lagi-lagi takjub mendengar perkataan Revan. Memang benar, selama ini hanya ada satu teman Reva yang tulus, dia adalah Putri sahabatnya sejak kecil. Ada banyak teman yang Reva temui, namun mereka terkadang memiliki karakter yang tidak baik. Ada juga yang bilang jika orang yang mendekati Reva dan menyebut dirinya sebagai seorang teman tidak lain dan tidak bukan hanya untuk memanfaatkan Reva.


"Kenapa gak dimakan? Gak suka?" Tanya Revan saat melihat Reva yang hanya diam tanpa menyentuh makanannya sama sekali.


"Nggak. Ini mau makan." Reva tersenyum lalu mengikuti cara Revan makan dengan menggunakan tangan. Ternyata tidak buruk, malah terasa lebih nyaman.


"Kenyang....." Reva menepuk-nepuk perutnya sambil tersenyum lebar. Revan sampai terkekeh dibuatnya.


"Bu, uangnya saya simpan di keranjang itu yah?" Revan menunjuk salah satu keranjang kosong yang sudah berisi uang. Kemudian mereka berdua meninggalkan warung menuju taman. Cuaca juga sudah tidak begitu panas dan pastinya taman juga mulai teduh.


Sesampainya mereka ditaman, Reva langsung melompat kegirangan. Reva memang orang baru di daerah ini, karena tempat ini adalah kediaman Revan, ceritanya Reva baru ke tempat ini setelah menikah dengan Revan.


"Jangan kayak anak kecil," Bisik Revan.


"Seru tau, kamu kenapa baru ajak aku ke sini."


"Memang kamu penting buat aku aja ke mana-mana? Ini juga kalau gak gabut gak bakal aku ajak."


Reva mencibir. Dasar!!! Padahal baru saja Reva merasa kagum tapi justru dibuat kesal lagi.


Ditengah asiknya Reva berjalan-jalan mengelilingi taman bersama Revan, salah seorang anak kecil tanpa sengaja menabrak Reva hingga jatuh. Anak kecil itu sempat meminta maaf kemudian pergi, meninggalkan Reva yang hanya bisa meringis memegangi lututnya akibat tergores.


Revan panik tapi tidak tahu harus melakukan apa. Goresan luka Reva cukup parah karena anak kecil tadi. Bagaimana tidak, anak itu berlari cukup kencang sampai-sampai membuat Reva terpental kedepan. Bahkan telapak tangannya juga ikut memerah.


"Ambil aja hansaplast di tas aku, kayaknya ada satu."


"Hansaplast buat apa? Ini goresannya lebar banget." Revan langsung menggendong Reva dan segera mencari taxi untuk membawanya pulang.


Reva lagi-lagi terpaku, sebelumnya tidak ada yang pernah melakukan ini. Bahkan kedua orang tuanya yang selalu sibuk. Mungkin karena ini ia dipaksa menikah, agar tidak merasa sendirian jika orang tuanya menjadi lebih sibuk.


Tapi disisi lain Reva merasa takut. Jika Revan terus seperti ini, bisa-bisa benteng pertahanan Reva untuk tidak pernah jatuh hati pada Revan rubuh begitu saja.


"Van, turunin aku," Pinta Reva dengan paksa. Ia bahkan mengeliat agar Revan segera menurunkannya.


"Apaan sih, kamu tuh luka. Udah diam aja biar aku gendong sampai dapat taxi."


"Gak usah berlebihan. Ini juga gak perih-perih banget."


Revan memejamkan matanya dan sedetik kemudian menatap Reva dengan tajam. Seketika hal itu mampu membuat Reva terdiam. Revan hanya tidak tega melihat luka Reva yang tergores lebar. Setidaknya biarkan dia membantu sesekali.


Setelah berhasil menghentikan taxi, Revan langsung membawa Reva masuk. Rasa lega dihatinya tiba-tiba muncul namun Revan bisa melihat wajah pucat milik Reva.


'Hahahah.... Tau gak, Van? Reva itu manja banget. Dulu bibi pernah cerita kalau Reva jatuh di halaman rumah karena ngejar anak burung yang jatuh dari sarangnya. Kan didepan rumah tuh ada pohon kecil, nah dia jatuh pas ngejar sampai lututnya berdarah... Parahnya dia nangis kejer sampai mukanya pucat. Mama sempat marahin karena lukanya itu kecil dan gak terlalu parah, tapi Bibi bilang kalau Reva memang gak bisa lihat luka apalagi kalau ada darahnya.'


"Pak, bisa tolong lebih cepat lagi gak? Kita mampir aja ke klinik terdekat."


"Baik, Pak."