Is My Dream

Is My Dream
Bagian 24



2 bulan kemudian.


Waktu terus berlalu dan entah kenapa bagi Reva rasanya sangat lama. Mungkin karena ia terlalu bersemangat menunggu datangnya hari penerimaan mahasiswa baru.


Setiap saat di waktu luang, Reva selalu menyempatkan belajar dengan dibantu Revan juga sahabatnya, Putri. Mereka berdua adalah orang yang mendukung Reva agar terus maju hingga berhasil, dan hari ini adalah waktunya.


Reva sudah siap berangkat dengan sangat semangat yang menggebu-gebu. Hari ini Reva akan memulai statusnya sebagai mahasiswi di perguruan tinggi, tempat Revan belajar. Degdegan, tetapi Putri terus mengusap punggung tangannya dan memintanya untuk lebih rileks.


"Huh.. Hah.. Tenang," Ucap Putri menepuk-nepuk punggung Reva. Hari ini ia akan menemani Reva menuju kampus barunya.


Di depan sana Revan sudah selesai memanaskam mobil dan memanggil keduanya agar segera masuk. Mereka akan berangkat sekarang.


"Grogi gak?" Tanya Revan lebih dulu sebelum benar-benar menjalankan mobilnya.


Reva mengangguk, "Sedikit tapi gakpapa."


Mendengar jawaban Reva yang meyakinkan, mereka pun akhirnya berangkat.


"Lama banget yah, Rev. Kamu nganggur beberapa bulan setelah lulus terus nikah. Habis nikah setengah tahun akhirnya bisa kuliah."


Reva mengangguk semangat. Dirinya juga tidak menyangka akan berkuliah setelah menikah. Jika saja bukan Revan yang memintakan izin untuknya.


"Aku lebih gak nyangka. Waktu aku mau daftar kuliah kaget banget Mama bilang gak usah karena mau nikah. Jadi setelah lulus aku harus nganggur sekitar.... Empat atau lima bulan yah?"


"Sekitar lima bulanan," Sambung Putri dan Reva mengangguk.


"Nah benar. Habis nganggur sekitar lima bulan malah disuruh nikah sama Revan dan setelah setengah tahun nikah tiba-tiba Revan rencana buat masukin aku kuliah," Ujar Reva sambil melirik Revan dari spion depan. Menyadari Reva menatapnya, Revan pun balik menatap seolah-olah bertanya kenapa.


"Van... Kok tiba-tiba sih? Udah dua bulan sejak kamu punya rencana bantuin aku, tapi aku belum nanya alasannya."


Tanpa menjawab pertanyaan Reva, Revan justru menambah kecepatan mobilnya. Membuat Reva dan Putri sampai terpental kebelakang.


"Woi!! gila," Pekik Putri di sela-sela kekagetannya.


"Ngobrol terus. Nih udah sampai."


Revan segera memarkirkan mobilnya kemudian keluar dan berjalan lebih dulu meninggalkan Reva dan Putri yang berdiri melongo diparkiran. Putri menggeleng, tidak habis pikir dengan apa yang sebenarnya Revan inginkan.


"Gila yah suami kamu itu. Bisa-bisanya ninggalin kita ditempat kayak gini." Putri terus mengomel tapi Reva dengan senyumnya yang penuh kesabaran mengusap pundak sahabatnya.


"Gakpapa, yuk ke dalam," Ajak Reva namun Putri tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Kampus segede gini yang mana kita berdua orang baru, kamu yakin gak tersesat kayak orang bodoh?"


"Nggak, soalnya..."


"Halo!! Reva yah?"


Ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan menyebut nama Reva. Mengetahui siapa yang menyebut namanya, Reva dengan cepat mengangguk. Orang itupun mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Vano kan?" Tanya Reva.


"Benar. Kita udah chattan semalam dan hari ini gue luang. Jadi bisa bantu sedikit."


Vano melirik Putri sekilas lalu kembali fokus pada Reva.


"Yaudah. Ikut gue yah?"


Mereka bertiga pun berjalan bersama. Vano akan bertugas membimbing Reva selama masa ospek berlangsung, atas permintaan Revan. Dan setelah mengetahui sudah ada yang membantu Reva, Putri pun segera pamit untuk pulang.


"Revan ninggalin lo sendiri?"


Reva menatap Vano dari samping kemudian tersenyum. "Iya, tapi gakpapa. Kita udah konsep semuanya dari awal. Dan aku bakal jaga jarak dengan Revan selama di sini."


"Ratu tau gak kalau lo kuliah di sini karena Revan?"


"Nggak. Tolong jangan dikasih tau yah Kak? Bilang aja Papa Revan yang nyuruh aku kuliah di sini."


Vano tertawa, membuat Reva bingung sekaligus khawatir. Khawatir jika Vano tidak seperti yang dipikirkan dan justru akan mengatakan yang sebenarnya pada Ratu.


"Nggaklah, ngapain. Itu anak gak ada berkontribusi dengan baik dalam hidup gue selama ini. Yang ada nyusahin mulu. Dikit-dikit bikin masalah. Suami lo tuh bikin heran, bucin kok sama cewek kayak gitu."


Mendengar pernyataan Vano yang blak-blakan, Reva pun ikut tertawa.


"Separah itu yah?"


"Haha... Jangan dibilang lagi, lebih parah deh. Anak kampus hampir dari semua angkatan gak ada yang gak kenal dia. Masih untung dikenal karena pribadi yang baik, lah ini? Malas deh. Jangan ceritain dia."


Reva mengangguk. Ternyata bagi beberapa orang Ratu memang seburuk itu. Rasa penasaran Reva jadi semakin besar sekarang, tentang bagaimana Ratu dan apa saja masalah yang ia buat selama ini. Tapi Vano sepertinya tidak ingin membahas Ratu lebih jauh, saking malasnya.


Berbeda dengan Revan yang seperti mati lampu jika sehari saja tanpa Ratu si pujaan hati yang amat sangat dicintai.


Cinta memang buta. Sebuta cinta Revan ke Ratu.


Setelah berkeling bersama Vano untuk memperkenalkan lingkungan kampus, perut Reva tiba-tiba berbunyi. Untung saja Vano menyadarinya dan langsung mengajak Reva ke kantin. Saat menuju kantin, tanpa sengaja mereka berdua berpapasan dengan Revan dan Ratu.


Ratu melirik Reva lalu memutar bola matanya dengan malas. Melihat itu, Reva juga ikut melakukan hal yang sama.


"Dih, cantik kali lo begitu," Ejek Vano.


"Lo ngapain sih? Sibuk banget ngurusin gue. Cakep kali lo," Balas Ratu.


"Sayang udah, katanya mau ke kantin?" Tanya Revan. Mencoba melerai perdebatan antara Vano dan Ratu. Kalau begini terus, tidak akan ada habisnya.


"Gak tau. Tiba-tiba malas. Kayak ada aura mistis gitu.


"Kak, udah. Kita ke kantin yah? Aku udah lapar banget. Kak Revan, aku duluan," Pamit Reva dengan menggandeng tangan Vano menuju ke kantin. Vano yang kaget jadi salah tingkah dengan perlakuan Reva padanya. Berbeda dengan Revan yang merasa risih melihat mereka berdua berpegangan tangan seperti itu.


Ratu yang menyadari kekasihnya terus memperhatikan Reva pun merasa amat sangat kesal.


"Sayang ih. Ayooo!"


"Katanya malas, ada aura mistis."


"Ck, gak tau deh. Ayo!"


Ratu menarik tangan Revan dan mereka berdua mulai melanjutkan perjalanan menuju kantin. Namun saat tiba di sana, ternyata sudah ada banyak sekali mahasiswa yang datang dan didominasi oleh beberapa mahasiswa baru.


Kedua kaki Ratu mendadak lemas, perutnya sudah sangat lapar sekarang. Melihat Ratu seperti itu Revan jadi tidak tega. Akhirnya setelah melihat Vano dan Reva duduk di ujung sana, ia pun inisiatif untuk ikut saja di sana.


"Kita ke tempat Vano aja yah?"


Mata Ratu terbelalak. "Sama Vano? Gak!" Tapi perut Ratu justru berkata lain. Perutnya berbunyi terus sejak tadi.


Akhirnya tanpa menunggu persetujuan Ratu, Revan langsung membawanya menuju meja Vano, dimana Vano tengah sibuk bercanda dan tertawa bersama Reva.