Is My Dream

Is My Dream
Bagian 35



Reva meregangkan otot-ototnya. Sekarang ia berada dihalaman rumah untuk berolahraga. Pasalnya, sejak sakit Revan tidak mengizinkannya untuk bergerak terlalu banyak, hal itu tentu membuat otot dan pergerakannya menjadi sedikit kaku. Apalagi Reva sakit selama hampir satu minggu padahal awalnya hanya demam biasa.


Tapi karena dirawat Revan, ia jadi tidak masalah jika sakit.


"Ngapain diluar? Panas, ayo masuk!" Teriak Revan saat melihat Reva berlari-lari kecil di bawah sinar matahari pagi. Katanya olahraga, tapi olahraga apa untuk orang sakit yang wajahnya masih pucat? Melihat Reva mengabaikan perintahnya, dengan sangat geram Revan menghampiri lalu menariknya dengan paksa agar masuk ke dalam rumah. Berulang kali Reva memberontak tapi seolah tuli, Revan mengabaikan dan justru tanpa sadar mengeratkan cengkramannya di lengan Reva.


Setelah masuk ke dalam rumah, Revan langsung melepaskan cengkramannya. membuat tubuh Reva sedikit terhuyung, nyaris terjatuh.


"Apaan sih? Sakit tau!" Keluh Reva, mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Bahkan terdapat bekas jari-jari Revan di sana, kasar sekali!


Revan mengusap rambutnya dengan kasar. Harus berapa kali ia menjelaskan kepada gadis yang ada dihadapannya sekarang untuk beristirahat saja? Reva selalu meminta untuk berolahraga, sementara kondisinya masih lemas.


Untuk beberapa menit Revan terdiam. Berusaha untuk tidak meladeni omelan yang keluar dari mulut Reva, ia takut jika ikut meledak dan mulai melakukan hal kasar seperti membentak. Setelah merasa lebih tenang, mata Revan langsung tertuju pada lengan Reva. Merah sekali, sepertinya ia terlalu kasar tadi. Segera diraihnya tangan Reva lalu mengusapnya lembut. Reva tentu saja kaget dengan perlakukan Revan yang tiba-tiba itu. Tadi marah dan sedikit kasar, sekarang menjadi lembut. Juga matanya? Matanya redup, menggambarkan perasaan bersalah yang jelas.


Tidak ingin berada di situasi aneh seperi ini, Reva menarik tangannya cukup kasar. "Gakpapa, udah biasa."


"Maaf," Lirih Revan dengan kepala menunduk.


Reva heran, ada apa dengannya? Padahal ini hal biasa yang bisa diabaikan.


"Gakpapa."


"Kalau aku sakit kamu beneran bisa ngerawat aku dengan baik. Giliran kamu yang sakit malah aku tambahin sakitnya."


Reva menganga. Oke, ini aneh, sangat-sangat aneh. Revan yang dulu membencinya, menjadi sangat perhatian padanya. Seolah mereka dulu tidak pernah saling membenci. Memang mereka sudah sepakat berbaikan dan menjadi teman, tapi kalau berbaikan nya terlalu berlebihan begini juga terasa aneh.


"Aku udah sembuh, Van. Makanya mau olahraga karena badan aku kaku. Kamu kan gak ngizinin aku banyak gerak beberapa hari ini, jadi rasanya aneh aja." Ucap Reva sambil menepuk bahu Revan.


"Benar udah sembuh? Terus itu aku dimaafin gak?"


"Gak!"


"Kok nggak? Katanya tadi gakpapa?"


"Yah... Ada syaratnya deh."


Ini namanya kesempatan! Reva tertawa dalam hati, merasa senang karena bisa menggunakan otaknya dengan baik untuk sekarang.


Sekitar 4 menit Reva gunakan untuk berpikir syarat apa yang bagus diberikan pada Revan. Setelah mendapatkannya, Reva tersenyum lebar sambil menarik tangan Revan keluar. membuat Revan keheranan tapi pasrah saja. Toh, ini demi mendapatkan maaf.


Ternyata syarat yang Reva berikan adalah jalan-jalan berdua menuju toko-toko untuk membeli banyak makanan ringan. Bodohnya, di siang hari tanpa menggunakan apa-apa sehingga mereka harus terpapar sinar matahari yang cukup panas. Entah dosa apa yang sudah Revan lakukan sampai harus menerima cobaan seperti ini.


"Kok nanya aku? Kamu borong aja tuh sekalian toko-tokonya," Sinis Revan, memandangi kartu ATM-nya yang dipegang Reva. Kalau tahu syaratnya seberat ini, Revan tidak perlu mengemis sebegitunya untuk mendapatkan maaf. Masalahnya uang yang ia miliki sekarang sudah tidak banyak karena dipakai Ratu.


"Ngapain lihatin ATM? Gak suka aku pakai?"


"Jangan mulai deh, Rev."


"Yah kamu! Gitu aja kayak gak ikhlas. Lagian uang ini dari papa dan udah wajar, sangat-sangat wajar aku habisin duit kamu. Orang kamu suamiku. Yang gak wajar itu duit kamu dihabisin orang lain." Reva menyodorkan dengan paksa kantong belanjaannya ke Revan.


"Kamu nyindir Ratu?"


Mata Reva membulat, cukup lebar sekaligus menyeramkan. Sial, Revan sepertinya keceplosan.


"Oh? Jadi Ratu pakai uang kamu?"


"Rev, nggak! Gak gitu."


"Gila yah kamu? Aku yang pakai tadi mukanya sinis banget. Ternyata Ratu juga pakai yah? Kamu sinisin gak? Atau justru senang karena dia bisa menikmati uang kamu? Bangga?"


Nafas Reva terdengar jelas, dadanya juga naik turun dengan cepat. Kalau begini Revan jadi tidak tahu harus berbuat apa atau mengatakan apa, ia takut justru dengan menjelaskan akan membuatnya semakin salah paham.


Rasa bersalah itu semakin besar saat menyadari cairan bening tertahan dipelupuk mata Reva, nyaris terjatuh dalam satu kedipan saja. Hidungnya juga mulai memerah, jelas karena menahan air mata. Revan akui dirinya memang bodoh, mau bagaimanapun tidak akan ada seorang istri yang rela suaminya memberikan sesuatu pada perempuan lain secara istimewa, apalagi kalau mengetahui perempuan itu adalah kekasih dari suaminya.


Revan sadar jika dirinya salah. Meskipun tidak ada cinta, Reva tetaplah istrinya, gadis yang memiliki hak penuh atas dirinya.


Sekarang Reva sudah pergi, meninggalkannya yang diam seperti patung. Mulutnya tertutup rapat, tidak bisa berteriak meminta Reva berhenti saat hendak menaiki taxi.


Sekarang apa yang harus Revan lakukan?


Reva mengusap kedua matanya, punggung tangannya basah sekarang. Fakta baru yang ia ketahui membuatnya sangat sakit hati. Seharusnya Revan tidak perlu mengatakan hal itu, jadi Reva juga tidak perlu merasakan sakit yang seperti ini. Tapi tidak! Revan mengatakan semuanya meski dalam keadaan tidak sadar dan alhasil Reva tersakiti.


Perempuan mana yang senang melihat suaminya memberikan uang pada perempuan lain? Apalagi itu adalah pacarnya, atau bahasa kasarnya selingkuhan. Reva menyetujui hubungan mereka sampai saat ini bukan berarti Reva memberikan kebebasan yang melampaui batas. Kalau memang mereka berniat serius, Revan ceraikan saja Reva dan bilang kepada kedua orang tuanya jika ia mencintai gadis lain dan ingin menikahi gadis itu.


"Sakit banget," Lirih Reva, memukuli dadanya berkali-kali saking sesakya. Sopir taxi hanya bisa memandangi nya dengan iba dari balik spion.


Patah hati ternyata sesakit itu. Apalagi bagi orang yang baru merasakan cinta untuk pertama kalinya. Meskipun Reva sendiri tidak yakin apakah yang ia rasakan adalah cinta atau sekedar rasa suka, tapi cukup untuk meyakinkan bahwa Revan se berpengaruh itu pada perasaannya.


Yang harus Reva lakukan mulai sekarang adalah menjaga perasaannya agar tidak terlalu jauh. Ini demi dirinya sendiri agar tidak harus merasakan sakit yang sama berkali-kali.